PARANI, Inovasi dan Solusi Mahasiswa ITB untuk Pertanian di Tengah Tantangan Perubahan Iklim, Raih Juara 1 Nasional
Oleh Diva Anastasia Farasilva - Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Berangkat dari keresahan terhadap tantangan ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim, tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan PARANI (Pertanian Adaptif Berbasis Data untuk Keputusan Tani), sebuah sistem pertanian presisi yang membantu petani mengambil keputusan secara lebih adaptif dan berbasis data. Inovasi tersebut mengantarkan mereka yang tergabung dalam Tim SPPG No. 67 Coblong meraih Juara 1 sekaligus penghargaan Best Presentation pada agritonic 1.0 kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh IPB University.
Tim tersebut terdiri atas Aldi Wahyu Permana dari Program Studi Fisika, Aldo Yoga Pangestu dari Program Studi Meteorologi, serta Rafiq Althaf Ramadhan dari Program Studi Fisika.
Melalui PARANI, mereka menawarkan solusi yang memadukan Internet of Things (IoT), machine learning, dan decision support system untuk membantu petani menghadapi tantangan perubahan iklim melalui pengambilan keputusan yang lebih tepat dan berbasis data.
PARANI dirancang untuk mengintegrasikan data cuaca, kondisi tanah, dan kondisi irigasi secara real time. Data tersebut kemudian diolah menjadi dua keluaran utama, yakni rekomendasi operasional pertanian untuk mendukung pengambilan keputusan sehari-hari serta kalender tanam yang membantu petani merencanakan waktu tanam jangka panjang berdasarkan kondisi agroklimat yang diprediksi.
“Dengan demikian, petani tidak hanya mengetahui kondisi lahannya, tetapi juga memperoleh rekomendasi tindakan yang lebih tepat dan adaptif terhadap perubahan iklim,” ujar Aldi Wahyu Permana.
Ide pengembangan PARANI berawal dari perhatian tim terhadap pentingnya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Menurut Aldi, sektor pertanian Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat perubahan kondisi lingkungan dan iklim yang sulit diprediksi.
“Kami melihat banyak keputusan petani masih sangat bergantung pada pengalaman, padahal kondisi lingkungan saat ini terus berubah. Dari situlah muncul pertanyaan, bagaimana jika data lingkungan dan iklim dapat dimanfaatkan untuk membantu petani mengambil keputusan yang lebih adaptif dan berbasis data untuk mewujudkan ketahanan pangan?” ungkapnya.
Meski berkompetisi dalam ajang yang berfokus pada sektor agrikultur, latar belakang keilmuan tim justru menjadi salah satu kekuatan utama dalam mengembangkan PARANI. Aldo Yoga Pangestu menjelaskan bahwa konsep yang mereka usung memiliki keterkaitan erat dengan bidang yang dipelajari selama perkuliahan.
“Dari sisi Meteorologi, kami mempelajari bagaimana variabilitas iklim, curah hujan, hingga fenomena seperti ENSO IOdanD memengaruhi kondisi lingkungan. Sementara dari sisi Fisika, kami terbiasa dengan instrumentasi, sensor, pemodelan, serta pengolahan dan analisis data,” jelas Aldo.
Proses pengembangan PARANI berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Selama periode tersebut, tim tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga berupaya memahami kebutuhan nyata para petani agar solusi yang ditawarkan benar-benar relevan dengan kondisi lapangan.
Rafiq Althaf Ramadhan H. menuturkan bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah mempelajari sektor pertanian yang sebelumnya bukan merupakan bidang utama mereka. “Dalam mengembangkan PARANI, kami tidak ingin hanya mempelajari aspek teknologinya, tetapi juga memahami kebutuhan nyata petani, terutama terkait keputusan apa yang benar-benar bermanfaat bagi mereka. Karena itu, kami banyak berdiskusi dengan teman-teman dari bidang pertanian hingga mewawancarai petani secara langsung,” tuturnya.
Selain meraih Juara 1, tim juga berhasil membawa pulang penghargaan Best Presentation. Menurut Rafiq, capaian tersebut diperoleh melalui strategi penyampaian yang berfokus pada kesederhanaan pesan tanpa mengurangi substansi ilmiah yang dibawa.
“Kami memanfaatkan media visual yang kuat melalui desain pitch deck yang menarik serta prototipe yang membantu membayangkan implementasi PARANI. Selain itu, kami membangun storytelling yang dimulai dari urgensi masalah yang dihadapi petani hingga bagaimana PARANI hadir sebagai solusi,” katanya.
Atas pencapaian tersebut, tim mengaku bangga dan bersyukur. Namun, bagi mereka, penghargaan yang diraih bukanlah tujuan akhir. Ke depan, PARANI diharapkan dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan secara bertahap melalui kolaborasi dengan berbagai pihak yang bergerak di sektor pertanian.
“Kami tentu sangat bangga dan bersyukur atas pencapaian ini. Namun, kami tidak ingin PARANI berhenti ketika kami sudah mendapatkan trofi. Kami berharap inovasi ini dapat terus berkembang sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh sektor pertanian Indonesia,” ujar Aldi.
Prestasi ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu mampu menghasilkan solusi inovatif untuk menjawab tantangan pembangunan yang semakin kompleks. Melalui PARANI, mahasiswa ITB tidak hanya menunjukkan keunggulan akademik, tetapi juga menghadirkan gagasan yang berpotensi memberikan kontribusi nyata bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia.

.jpg)




