ITB Bersinergi dengan PERMINAS Dorong Kemandirian Teknologi dan Industri Mineral Nasional
Oleh Anggun Nindita -
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau PERMINAS memperkuat kolaborasi dalam pengembangan riset, teknologi, dan sumber daya manusia untuk mendukung kemandirian Indonesia dalam pengelolaan mineral strategis. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman di Ruang Rapim A, Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari, Bandung, Selasa (15/9/2026).
Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dan Direktur Utama PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero), Gilarsi Wahju Setijono.
Kerja sama mencakup penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi, antara lain pendidikan dan pelatihan, penelitian dan publikasi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia.
Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memastikan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional.
“Perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab untuk memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi dampak nyata bagi pembangunan bangsa. Kolaborasi dengan PERMINAS memungkinkan peneliti dan talenta ITB bekerja semakin dekat dengan persoalan industri mineral strategis, sekaligus mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi kemampuan teknologi yang dapat dimanfaatkan Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi semakin penting di tengah dinamika geopolitik global, termasuk dalam pengelolaan mineral strategis dan unsur tanah jarang (rare earth elements). Indonesia tidak cukup hanya memiliki sumber daya mineral, tetapi juga perlu menguasai teknologi yang diperlukan untuk mengolahnya secara mandiri.
"Pengelolaan mineral dari hulu hingga hilir membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu. Proses tersebut mencakup eksplorasi, ekstraksi dan pemurnian, pengembangan material dan magnet, semikonduktor, hingga analisis dampak lingkungan serta pengelolaan pascatambang," ucapnya.

Berbagai bidang keilmuan di ITB, mulai dari geologi, pertambangan, metalurgi, material, fisika, kimia, elektro, lingkungan, hingga biologi, dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan tersebut.
Beliau juga mendorong agar penelitian mahasiswa, baik pada jenjang sarjana, magister, maupun doktor, semakin terarah dan terintegrasi dengan kebutuhan nyata industri. Dengan demikian, berbagai persoalan yang dihadapi industri dapat menjadi bagian dari agenda penelitian sekaligus menghasilkan solusi yang berpotensi diterapkan.
Salah satu kemampuan yang turut ditekankan ialah reverse engineering. "Penguasaan reverse engineering tidak sebatas menggambar kembali geometri suatu produk secara tiga dimensi, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap material, toleransi permesinan, proses manufaktur, dan keseluruhan teknologi yang membentuk produk tersebut," tuturnya.
Memperkuat Kapabilitas Teknologi Nasional
Sementara itu, Direktur Utama PERMINAS, Gilarsi Wahju Setijono, mengatakan bahwa kemandirian teknologi membutuhkan penguasaan kemampuan di dalam negeri, bukan sekadar mengandalkan impor atau pembelian teknologi secara putus.
“Kami memiliki keyakinan yang sama bahwa kemandirian Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kepemilikan sumber daya. Kita harus mampu memahami, mengembangkan, dan menguasai teknologinya sendiri. Kolaborasi PERMINAS dan ITB menjadi ruang yang sangat konkret untuk menerjemahkan gagasan kemandirian teknologi ke dalam kemampuan industri mineral strategis nasional,” katanya.

Melalui kerja sama tersebut, PERMINAS akan membawa berbagai kebutuhan dan persoalan nyata industri, mulai dari karakterisasi mineral, teknologi ekstraksi dan pemurnian, material maju (advanced materials), hingga peningkatan efisiensi proses. Sementara itu, ITB akan memperkuatnya melalui kapasitas keilmuan, peneliti, laboratorium, dan pengembangan teknologi.
Salah satu tantangan yang perlu dikuasai adalah proses kimia tingkat lanjut, termasuk chemistry reverse engineering. Kemampuan tersebut antara lain dibutuhkan untuk mengembangkan reagen pemisahan unsur lantanida dalam proses pemurnian rare earth hingga menghasilkan elemen tunggal dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi.
"Penguasaan mineral strategis semakin penting seiring berkembangnya kebutuhan terhadap material maju dan berbagai infrastruktur masa depan. Unsur tanah jarang, misalnya, menjadi bagian penting dari berbagai teknologi modern. Pada saat yang sama, perkembangan infrastruktur digital seperti data center turut membutuhkan pasokan energi dan material yang berkelanjutan," paparnya.
Melalui sinergi tersebut, ITB dan PERMINAS berharap penelitian tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan, tetapi berkembang menuju penguasaan teknologi (technology mastery) dan penerapannya dalam memperkuat industri mineral strategis nasional.

.jpeg)



