Bawa Inovasi Kontrol Drone dengan Sarung Tangan, 2 Mahasiswa ITB Raih Prestasi Internasional Kompetisi Teknologi UAV di Singapura
Oleh Jekky - Teknik Pertambangan, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Dua mahasiswa angkatan 2022 Fakultas Teknik Mesin Dirgantara, Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB) meraih Best International Team dan Gold Medal di Ajang Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC) 2026.
SAFMC adalah kompetisi teknologi UAV bergengsi yang diikuti institusi dari berbagai negara setiap tahunnya. Tim BUCINPRO ini terdiri atas Jeffrey Sirait (Teknik Dirgantara) dan Manggora Zerah Kristina Simanjuntak (Teknik Material). Keduanya tampil di kategori Man-Machine, tanpa pendanaan eksternal dan tanpa sepengetahuan dosen pembimbing.
Inovasi ini berasal dari tugas akhir Jeffrey berjudul "Pengembangan Controller Berbasis Drone Wearable", yakni sarung tangan ramping dan andal yang memungkinkan pilot mengendalikan drone melalui gerakan tangan.
Sarung tangan ini bekerja dengan sensor IMU yang mendeteksi gerakan telapak tangan. Data dari sensor tersebut diproses oleh mikrokontroler bersama input dari tombol-tombol pendukung yang fungsinya menyerupai remot pada umumnya, lalu dikirim melalui transmitter yang terpasang pada sarung tangan untuk berkomunikasi langsung dengan drone.
Di tengah pesaing yang mengandalkan banyak remot dan tim hingga lima orang, keduanya menjadi satu-satunya peserta yang menggunakan sarung tangan sebagai pengendali.
"Tangan adalah anggota tubuh yang paling sering kita gunakan sehari-hari, sehingga lebih mudah beradaptasi saat digunakan untuk hal baru," kata Jeffrey.

Ia memilih kompetisi internasional sebagai arena uji dari tugas akhirnya. "Menurut saya, jarang ada yang membuktikan teori tugas akhir langsung lewat kompetisi. Poinnya bukan hanya sarung tangannya, tapi apakah sistem alatnya sudah benar-benar baik," ujarnya.
Persiapan dimulai sejak Desember 2025. Jeffrey merancang sistem dari Tokyo, tempat ia menjalani student exchange sebagai mahasiswa jalur internasional (IUP), sementara Manggora mengerjakan perakitan di Bandung. Pada Februari 2026, sistem sudah berjalan andal dan siap dibawa ke Singapura pada hari kompetisi.
Ini bukan debut Jeffrey di SAFMC. Dua tahun berturut-turut sebelumnya, ia meraih Gold Medal dan Best International Team bersama Tim Aksantara ITB, pengalaman yang memberinya pemahaman mendalam soal tren kompetisi dari tahun ke tahun.
Di tengah banyak peserta dari negara lain dengan jumlah personel lebih banyak, muncul satu pertanyaan yang terus mendorong Manggora untuk maju, apakah dua orang mampu menyaingi mereka?
"Jawaban kami waktu itu ialah coba saja dulu. Kalau tidak menang pun, sudah puas," katanya.

Kemenangan datang dari dua arah, yakni sistem yang mereka siapkan berjalan optimal, sementara salah satu tim unggulan terkena diskualifikasi akibat kendala teknis. Bagi mereka, medali itu tetap bonus.
Tim BUCINPRO percaya potensi mahasiswa Indonesia di kancah internasional sangat besar karena idenya tidak kalah unggul. Tantangannya justru ada pada keberanian untuk mencoba dan kemampuan berkolaborasi dalam mewujudkan ide tersebut.
"Ide seaneh apapun, coba dulu. Mau menang atau tidak, yang penting puas karena sudah mencobanya," ujar Jeffrey.
.jpeg)




