Dari Protein Hewani ke Nabati: Perspektif Dosen Tamu University of Groningen di SITH ITB

Oleh Azka Zahara Firdausa - Rekayasa Hayati

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Prof. Emeritus Dr. J. Theo M. Elzenga dari University of Groningen berfoto bersama dengan para peserta kuliah tamu.

JATINANGOR, itb.ac.id — Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB menyelenggarakan kegiatan Visiting Professor dengan menghadirkan Prof. Emeritus Dr. J. Theo M. Elzenga dari University of Groningen, Belanda. Salah satu sesi berlangsung pada mata kuliah Kapita Selekta Bioindustri di Labtek 1A, ITB Kampus Jatinangor. Prof. Theo memaparkan isu penting mengenai transisi protein hewani menuju protein berbasis tumbuhan (plant-based protein) sebagai langkah menuju sistem pangan berkelanjutan.

Prof. Theo menjelaskan bahwa saat ini 77% lahan pertanian dunia digunakan untuk produksi pangan hewani, tetapi kontribusinya terhadap pasokan protein global hanya sekitar 40%. Sementara itu, kebutuhan daging diproyeksikan meningkat hingga 30% seiring pertumbuhan populasi dunia. Ketidakseimbangan ini, menurutnya, menuntut peningkatan produktivitas pertanian terutama pada sumber protein nabati.

Beberapa strategi diusulkan untuk mengatasi beberapa permasalahan ini, meliputi penggunaan benih unggul, pengelolaan tanah dan nutrien yang efisien, rotasi tanaman, penerapan bioteknologi, serta sistem pertanian tertutup (closed-cycle agriculture). Selain itu, Prof. Theo menunjukkan potensi pemanfaatan limbah industri seperti pada perusahaan produksi pati kentang (AVEBE), berupa sari kentang yang berpotensi untuk diolah kembali menjadi pupuk maupun sumber protein tambahan.

Presentasi Prof. Theo.

Prof. Theo juga menyoroti tantangan protein nabati, seperti rendahnya kandungan asam amino esensial, tidak seperti kandungan protein hewani. Untuk mengatasi hal ini, Prof. Theo menyarankan kombinasi protein nabati dan hewani dalam pola makan seimbang, bukan sepenuhnya beralih ke protein nabati. Selain itu, tantangan lainnya adalah protein nabati memiliki kandungan senyawa anti-nutrisi yang menurunkan cita rasa dan kecernaan. Contohnya adalah senyawa protease inhibitor, yang dapat mengurangi kemampuan pencernaan protein. Meski begitu, hal ini dapat diatasi dengan melakukan ekstraksi senyawa tersebut yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai produk bernilai tambah.

“Masalahnya bukan soal menjadi vegetarian atau tidak,” ungkap Prof. Theo. “Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara sumber protein hewani dan nabati untuk keberlanjutan lingkungan.”

Melalui kuliah ini, mahasiswa diajak memahami bahwa transisi protein global tidak hanya menjadi isu gizi, tetapi juga bagian dari transformasi sistem pertanian dan industri pangan menuju keberlanjutan jangka panjang.

#sdg2 #zero hunger #sdg3 #good health and well being #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg12 #responsible consumption and production #sdg13 #climate action #institut teknologi bandung #sith itb #itb jatinangor #visiting professor #university of groningen #kerja sama internasional #pangan berkelanjutan #protein nabati #bioindustri #inovasi pertanian