Dari Warisan Budaya hingga Kadastral 3D, ITB Dorong Inovasi Geospasial Berbasis AI
Oleh Merryta Kusumawati - Mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Bridging Heritage, AI, and Cadastre: International Perspectives on 3D Geospatial Research” pada Senin (24/11/2025). Seminar ini menghadirkan pakar geomatika dari Italia, Prancis, dan Indonesia untuk membahas perkembangan mutakhir teknologi geospasial tiga dimensi (3D), dokumentasi warisan budaya, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta pemodelan kadastral modern.
Kegiatan dibuka oleh Dekan FITB ITB, Dr. techn. Dudy Darmawan Wijaya, S.T., M.Sc., yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran para pembicara internasional dan antusiasme peserta dalam forum ilmiah lintas negara tersebut. Ia menegaskan bahwa seminar ini menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan sekaligus memperkuat jejaring dan kolaborasi internasional, khususnya di bidang geomatika yang berkembang sangat pesat.
“Forum ini membuka peluang kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan, terutama dalam menjawab tantangan geomatika modern yang semakin kompleks,” ujarnya.
AI dan Deep Learning untuk Tantangan Geomatika Modern
Sesi pertama disampaikan oleh Prof. Fabio Remondino dari Fondazione Bruno Kessler (FBK), Italia. Ia memaparkan evolusi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam fotogrametri dan computer vision, khususnya untuk pemetaan 3D. Melalui pendekatan deep learning, berbagai tantangan klasik dalam geomatika, seperti image matching, ekstraksi tie point, hingga rekonstruksi 3D, kini dapat diselesaikan secara lebih efisien.
“Banyak permasalahan lama dalam geomatika dapat diatasi dengan pembelajaran mesin, mulai dari pencocokan citra siang dan malam, pengurangan kebutuhan overlap, hingga integrasi vision transformers untuk deteksi objek secara multimodal,” jelas Prof. Remondino.
Ia juga menyoroti potensi vision transformers yang memungkinkan analisis citra udara berbasis perintah bahasa, sehingga pengguna dapat mencari objek tertentu hanya melalui instruksi tekstual.
Praktik Terbaik Dokumentasi Warisan Budaya 3D dari Strasbourg
Pembicara berikutnya, Prof. Pierre Grussenmeyer dari Université de Strasbourg, Prancis, membagikan pengalaman panjang kelompok risetnya dalam dokumentasi dan pemodelan objek warisan budaya di berbagai wilayah Eropa. Ia menjelaskan perkembangan teknologi perekaman, mulai dari fotogrametri konvensional hingga pemanfaatan mobile mapping dan kamera 360 derajat untuk dokumentasi skala perkotaan.
Menurutnya, ketepatan orientasi data menjadi faktor kunci dalam menghasilkan model 3D yang akurat. “Teknologi yang canggih tidak akan optimal jika orientasi awal data tidak tepat. Kesalahan geometri akan berdampak pada keseluruhan proses rekonstruksi,” tegasnya.
Digital Twin dan Tantangan Semantik dalam Dokumentasi 3D
Sesi ketiga disampaikan oleh Dr. Arnadi Murtiyoso, alumni ITB yang kini berkiprah di Université de Strasbourg. Ia memaparkan riset yang mengintegrasikan dokumentasi 3D dengan konsep digital twin untuk mendukung pelestarian warisan budaya.
Dr. Arnadi menyoroti pergeseran dari model mesh tradisional menuju neural 3D representations, seperti Gaussian Splatting, yang menawarkan visualisasi lebih realistis. Meski demikian, ia menekankan bahwa pendekatan tersebut masih menghadapi keterbatasan dalam penyediaan informasi semantik.
“Kita memperoleh visualisasi yang sangat baik, tetapi belum cukup kaya secara semantik untuk kebutuhan ilmiah. Tantangan ke depan adalah memberikan makna pada representasi 3D agar dapat dimanfaatkan lintas disiplin, seperti oleh arkeolog dan arsitek,” ujarnya.
Ia juga menampilkan riset integrasi sensor Internet of Things (IoT) dengan model 3D untuk memprediksi perubahan objek warisan budaya akibat pengaruh iklim di masa mendatang.
Dokumentasi Digital Majapahit: Integrasi LiDAR, Fotogrametri, dan AR
Dari Indonesia, Husnul Hidayat, S.T., M.T. dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mempresentasikan proyek dokumentasi digital situs Majapahit dalam program PHC Nusantara. Proyek tersebut memanfaatkan integrasi pemindaian laser (LiDAR), citra drone, dan sistem navigasi satelit presisi tinggi (GNSS) untuk memodelkan struktur candi yang sebagian besar terkubur di bawah permukaan tanah.
Data hasil survei kemudian dikembangkan dalam bentuk augmented reality (AR) dan cetak 3D untuk keperluan edukasi serta penelitian arkeologi. “Karakter situs Majapahit sangat kompleks. Integrasi LiDAR dan fotogrametri menjadi solusi agar rekonstruksi 3D tetap akurat tanpa mengganggu kondisi situs,” ungkapnya.
AI untuk Pemodelan Kadastral 3D di Indonesia
Sesi terakhir dibawakan oleh Dr. Ratri Widyastuti dari Kelompok Keilmuan Sistem dan Kadastra Spasial ITB. Ia membahas perkembangan riset terkait karakter objek 3D serta tantangan implementasi kadastral tiga dimensi di Indonesia.
Menurutnya, data kadastral memiliki tingkat kompleksitas tinggi dan kurang efisien jika diproses secara manual. “Dengan kecerdasan buatan, ekstraksi objek, identifikasi batas ruang, hingga penyusunan model kadastral 3D dapat dilakukan secara lebih otomatis dan akurat,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya penerapan kadastral 3D untuk mendukung tata kelola pertanahan modern, terutama di kawasan perkotaan dengan bangunan bertingkat dan struktur kepemilikan ruang yang saling bertumpang tindih.
Diskusi Interaktif dan Kolaborasi Global Menuju Masa Depan 3D Geospatial
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan beragam pertanyaan seputar akurasi model 3D, pemanfaatan Gaussian Splatting, penggunaan kamera termal sepanjang waktu, integrasi data multisensor, hingga dampak perubahan iklim terhadap degradasi material bangunan bersejarah. Para narasumber menekankan bahwa masa depan geomatika tidak hanya berfokus pada visualisasi 3D yang detail, tetapi juga pada integrasi data fisik, lingkungan, dan sosial untuk mendukung pengambilan keputusan spasial yang lebih komprehensif.
Di akhir kegiatan, para pembicara dan peserta berharap kolaborasi antara ITB dan institusi internasional terus diperkuat melalui riset bersama, pertukaran akademik, serta pengembangan teknologi inovatif di bidang fotogrametri, kecerdasan buatan, dokumentasi warisan budaya, dan kadastral 3D. Melalui seminar ini, ITB menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu geospasial dan teknologi pemodelan 3D di Indonesia, sekaligus sebagai ruang dialog ilmiah bagi akademisi, pemerintah, dan industri dalam menghadapi tantangan pengelolaan ruang di masa depan.

.png)
.jpg)



