Inovasi Biomaterial Berbasis Limbah Cangkang Telur Antar Tim Mahasiswa ITB Raih Prestasi di ISOLA Business Plan Competition 2025
Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id – Tim mahasiswa Program Studi Teknik Pangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil meraih Juara 2 ISOLA Business Plan Competition 2025 yang diselenggarakan oleh HIPMI PT Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tim bernama EggCrate ini terdiri atas Muhammad Raffi Aditya Pradipta, Nabila Farah Faradina, dan Ahza Asadel Hananda Putra, yang mengusung inovasi biomaterial berkelanjutan berbasis limbah cangkang telur.
Melalui pendekatan sains material, tim EggCrate mentransformasi limbah cangkang telur menjadi produk bernilai guna tinggi yang ramah lingkungan, sekaligus menjawab tantangan pengelolaan limbah pangan di Indonesia.
Refleksi Atas Permasalahan Limbah Pangan
Inovasi EggCrate berangkat dari keprihatinan terhadap data lingkungan hidup yang menunjukkan tingginya volume limbah cangkang telur di Indonesia, yakni mencapai lebih dari 550.000 ton per tahun. Sebagian besar limbah tersebut masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pengolahan lanjutan, sehingga berpotensi menimbulkan persoalan sanitasi dan lingkungan.
Menjawab permasalahan tersebut, tim mahasiswa ITB ini memanfaatkan kandungan kalsium karbonat (CaCO?) pada cangkang telur yang mencapai 94–97%. Melalui serangkaian riset, mereka berhasil memformulasikan biokomposit dengan mengombinasikan serbuk cangkang telur berukuran mikro dan bioresin alami berbasis tepung tapioka serta gliserol.
“Dengan keterbatasan alat dan bahan yang kami miliki, kami mencoba membuat prototipe biokomposit dari limbah cangkang telur. Hasilnya cukup mengejutkan, kami berhasil membuat prototipe berupa sendok makan serta beberapa hiasan DIY yang sangat kuat,” ujar Raffi.
Integrasi Teknologi dan Edukasi Keberlanjutan

Produk EggCrate tidak hanya ditujukan sebagai alternatif pengganti plastik, tetapi juga dirancang memiliki karakteristik kuat, estetis, dan sepenuhnya biodegradable. Salah satu keunggulannya adalah sifat remoldable, yakni produk yang sudah tidak terpakai dapat dicetak ulang menjadi bentuk baru, sehingga mendukung prinsip ekonomi sirkular secara menyeluruh.
Dalam kompetisi tersebut, tim EggCrate menawarkan berbagai produk, mulai dari finished goods hingga DIY kit edukatif, yang dipadukan dengan integrasi teknologi digital. Setiap produk dilengkapi QR Code impact tracking yang memungkinkan konsumen melacak dampak lingkungan, seperti jejak karbon yang berhasil dikurangi serta asal-usul material yang digunakan. Pendekatan ini sejalan dengan tren eco-lifestyle yang semakin berkembang, khususnya di kalangan Generasi Z.
Tantangan Produksi dan Riset Lanjutan
Tim EggCrate mengungkapkan bahwa pengembangan prototipe awal masih menghadapi sejumlah tantangan teknis, terutama keterbatasan alat produksi. Salah satu kendala utama adalah proses penghalusan cangkang telur yang idealnya mencapai ukuran menyerupai tepung halus (sekitar 80 mesh) agar material dapat tercampur secara optimal dan menghasilkan produk yang kokoh.
Keterbatasan alat penggiling yang tersedia menyebabkan hasil serbuk belum maksimal, sehingga penyempurnaan metode penghalusan menjadi fokus pengembangan pada tahap produksi berikutnya.
“Selain itu, karena produk ini juga ditujukan sebagai alat makan, terdapat risiko material menjadi lunak ketika terkena kuah atau makanan panas. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan lanjutan, seperti penambahan lapisan pelindung (coating) atau resin khusus agar produk tetap kokoh dan tidak mudah melunak pada berbagai kondisi suhu,” tambah Nabila.
Harapan untuk Masa Depan Berkelanjutan
Melalui inovasi EggCrate, tim berharap dapat membuktikan bahwa limbah cangkang telur memiliki potensi besar untuk ditransformasi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Lebih dari sekadar capaian prestasi, proposal bisnis ini diharapkan mampu menjadi pemantik tumbuhnya ekonomi hijau kreatif yang berkelanjutan, sekaligus menjadi kontribusi nyata mahasiswa ITB dalam menyongsong masa depan Indonesia yang lebih ramah lingkungan.




.jpg)

