Tim Mahasiswa PWK ITB Ukir Prestasi Nasional lewat Kajian Lingkungan Berbasis Geospasial
Oleh Indah Marcelinawati - Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id - Tiga mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Farid Ramadhani, Fajar Nur Adnan, dan Zeba Liqueiza SK, berhasil meraih Juara I dalam kompetisi FKTI Geopoint 2025. Kompetisi tingkat nasional ini berfokus pada inovasi pemetaan dan analisis geospasial yang menghadirkan solusi atas berbagai isu nasional dan global.
Dalam kompetisi tersebut, tim yang menamakan diri Pangripta Maung mengangkat tema lingkungan dan konservasi dengan Taman Nasional Gunung Leuser sebagai wilayah kajian. Mereka menyoroti persoalan konflik satwa liar, khususnya orangutan, yang habitat alaminya kian terancam akibat aktivitas manusia dan perubahan lingkungan.
Melalui pendekatan analisis spasial, tim melakukan pemetaan untuk menentukan lokasi yang sesuai bagi pengamatan orangutan sekaligus mengidentifikasi kondisi lingkungan yang mendukung keberlangsungan hidup satwa tersebut. Salah satu keunggulan kajian ini terletak pada penggunaan metode Maximum Entropy (MaxEnt), yakni teknik pemodelan prediktif yang relatif masih jarang digunakan dalam kompetisi sejenis.
Di balik capaian tersebut, ketiganya menghadapi tantangan tersendiri. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, mereka harus membagi waktu antara persiapan lomba dan padatnya aktivitas akademik. Pengelolaan waktu menjadi tantangan utama yang dihadapi selama proses persiapan.
Untuk menyiasatinya, tim memanfaatkan waktu luang sebelum perkuliahan, menerapkan sistem kerja asinkron, serta menyusun linimasa kerja yang terukur. Strategi ini memungkinkan proses persiapan tetap berjalan efektif meskipun masing-masing anggota memiliki jadwal yang berbeda.
Keberhasilan tim juga tidak lepas dari peran dosen pembimbing, Hanafi Kholifatul Iman, S.T., M.P.W.K. Ia memberikan pendampingan substantif, mulai dari perumusan variabel analisis hingga penyusunan materi presentasi akhir agar lebih sistematis dan mudah dipahami.
Bagi ketiga mahasiswa tersebut, kompetisi ini memberikan pengalaman dan pembelajaran berharga. Zeba mengungkapkan bahwa bidang analisis spasial memiliki beragam perangkat lunak yang masih dapat terus dieksplorasi. Sementara itu, Farid menekankan pentingnya penyusunan linimasa kerja yang jelas dan realistis agar target dapat tercapai dengan optimal.
Mereka juga mendorong mahasiswa lain untuk tidak ragu mengikuti kompetisi serupa. “Siapkan konsep analisis yang benar-benar dipahami dan memiliki keunikan tersendiri. Hal itu akan menjadi nilai tambah yang membuat karya menonjol di mata panitia,” ujar Farid Ramadhani.

.png)
.jpg)



