Pemanfaatan CO₂ Menjadi Senyawa Aromatik BTX: Inovasi Katalis dari Disertasi Noerma Juli Azhari

Oleh Azka Zahara Firdausa - Rekayasa Hayati, 2022

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Noerma Juli Azhari (kedua dari kanan), berfoto bersama dengan para pembimbing di Ruang Rapat FTI, Kamis (30/4/2026). Tim pembimbing (berurut dari kiri) terdiri atas: Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., Prof. Dr. Ir. Melia Laniwati Gunawan, M.S., dan Prof. Dr. Ir. I.G.B. Ngurah Makertihartha. (Dok. pribadi)

BANDUNG, itb.ac.id – Noerma Juli Azhari, seorang calon Doktor Teknik Kimia telah mempertahankan disertasinya dalam sidang S3 di Ruang Rapat FTI, Kamis (30/4/2026). Disertasi ini mengangkat inovasi pengembangan katalis untuk konversi CO?, yang merupakan limbah emisi, menjadi produk bernilai tambah.

Dalam riset disertasinya, Noerma mengembangkan katalis Cu-Fe2O3/ZMS-5 yang dapat mengubah CO2 menjadi senyawa aromatik bernilai ekonomi tinggi, yaitu benzena, toluena, dan xilena (BTX) melalui hidrogenasi. Senyawa ini merupakan senyawa vital yang banyak dimanfaatkan pada industri tekstil, polimer, resin, maupun bahan bakar. Riset ini muncul akibat adanya peningkatan emisi CO2 yang dapat menghasilkan kenaikan temperatur dan perubahan iklim bumi saat ini.

Meski menjadi salah satu negara penghasil CO2 yang tinggi, Indonesia memiliki potensi yang besar dalam penyimpanan CO2 dengan teknologi CCUS (carbon capture, storage, and utilization). Menurut Noerma, teknologi CCUS di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang cukup baik meskipun implementasinya masih dominan oleh tahap penyimpanan (storage). Pemanfaatan CO2 saat ini umumnya masih relatif terbatas, yaitu dilakukan melalui teknologi CO2-EOR (Carbon dioxide enhanced oil recovery), CO2-EGS (Carbon dioxide enhanced Geothermal System), serta konversi CO2 menjadi metanol. Oleh karena itu, pengembangan riset yang mengarah pada konversi CO2 menjadi produk bernilai tinggi seperti senyawa aromatik BTX, berpotensi membuka peluang baru dalam meningkatkan aspek utilization pada implementasi CCUS di Indonesia.

Riset ini tidak hanya bermanfaat pada perubahan iklim dengan mengurangi emisi CO2, tetapi juga mendukung transisi energi menjadi lebih terbarukan. Noerma menjelaskan bahwa senyawa BTX awalnya diproduksi dari bahan non-terbarukan, yaitu minyak bumi dan petrokimia. Melalui pendekatan ini, CO₂ berpotensi dimanfaatkan sebagai alternatif bahan baku untuk menghasilkan produk tersebut. Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga pada pengembangan ekonomi sirkular berbasis karbon.

Noerma Juli Azhari saat menjalani sidang S3 di Ruang Rapat FTI, Kamis (30/4/2026).
Menurut Noerma, tantangan terbesar yang dihadapi selama riset adalah desain katalis yang dapat mengubah molekul CO2 yang sangat stabil menjadi produk lain secara efektif dan selektif. Selain itu, proses konversi CO2 ini membutuhkan hidrogen, sementara ketersediaan hidrogen bersih saat ini masih terbatas, sehingga menjadi kendala dalam pengembangan proses secara berkelanjutan.

Sebagai penutup, Noerma membagikan pesan pada generasi muda yang ingin terjun ke bidang sains dan rekayasa.

“Tetaplah optimistis di tengah kondisi tidak menentu. Apa pun yang dilakukan saat ini, asal itu merupakan kebaikan, yakinlah bahwa suatu hari akan memberikan kebermanfaatan,” ujar Noerma. Pesan ini menekankan pentingnya ketekunan dan keyakinan dalam menghadapi tantangan riset yang kompleks dan dinamis.

Meskipun saat ini konversi CO₂ menjadi senyawa aromatik belum dapat diterapkan secara komersial, teknologi ini berpotensi untuk direalisasikan di masa depan. Riset ini membuka peluang pemanfaatan CO₂ tidak hanya sebagai limbah emisi, tetapi juga sebagai bahan baku bernilai ekonomi tinggi dalam industri kimia berkelanjutan.

#itb #itb berdampak #kampus berdampak #teknik kimia itb #riset itb #inovasi katalis #co2 #ccus #kimia berkelanjutan #transisi energi #ekonomi sirkular #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg12 #responsible consumption and production #sdg13 #climate action