Net Zero Steel Pathways 2026 Bahas Keseimbangan Daya Saing dan Keberlanjutan Industri Baja

Oleh --- -

Editor Anggun Nindita

BANDUNG, itb.ac.id - Center for Policy and Public Management (CPPM) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menggelar Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 bertema “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem”. Kegiatan ini menjadi puncak dari program executive education selama tiga bulan yang berfokus pada transformasi industri baja menuju ekosistem net zero steel di Indonesia.

Sebanyak 74 peserta eksekutif mengikuti empat modul non-degree SBM ITB yang membahas kebijakan publik, dekarbonisasi industri, serta masa depan industri baja rendah karbon.

Dalam sesi diskusi industri, Chief Operating Officer PT Krakatau Steel Tbk, Dr. Sidik Darusulistyo, memaparkan tantangan industri baja dalam menyeimbangkan agenda dekarbonisasi dengan daya saing bisnis. Menurutnya, industri baja merupakan sektor strategis karena menjadi bahan baku utama bagi berbagai sektor ekonomi, namun memiliki margin keuntungan yang relatif terbatas.

Ia menjelaskan bahwa fokus utama Krakatau Steel saat ini adalah mempercepat cash conversion cycle melalui peningkatan efisiensi operasional dan streamlining proses bisnis. "Langkah tersebut dilakukan dengan menekan work in process (WIP) dan tingkat inventori agar EBITDA perusahaan tetap positif di tengah tekanan biaya produksi," ujarnya.

Selain itu, Krakatau Steel juga melakukan streamlining terhadap sejumlah subholding perusahaan guna meningkatkan efisiensi organisasi dan mempercepat pengambilan keputusan. Dalam mendukung agenda keberlanjutan, perusahaan mulai mengadopsi konsep green industry sejak 2019 melalui penggunaan teknologi Electric Arc Furnace (EAF). Namun, dinamika harga gas alam dan kondisi pasar energi global membuat operasional teknologi tersebut belum selalu optimal.

Terkait pengendalian emisi, Dr. Sidik menyampaikan bahwa intensitas emisi produksi berbasis DRI–EAF berada pada kisaran 2,2 ton CO₂ per ton baja pada 2018. Ia menambahkan bahwa peningkatan volume produksi dapat memengaruhi tingkat intensitas emisi secara keseluruhan sehingga strategi pemilihan pemasok dan pengelolaan rantai pasok menjadi faktor penting dalam pengendalian emisi perusahaan.

"Di tengah upaya dekarbonisasi, industri baja nasional juga menghadapi tekanan kompetitif dari pasar global, terutama akibat besarnya kapasitas produksi dan ekspor baja dari Tiongkok. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri baja merupakan sektor dengan tingkat persaingan tinggi dan sangat dipengaruhi oleh kebijakan perlindungan industri di berbagai negara," katanya.

Untuk memperkuat rantai pasok domestik, Krakatau Steel saat ini juga melakukan reaktivasi pengolahan bahan baku impor guna meningkatkan efisiensi pasokan industri dalam negeri. Menurut Dr. Sidik, keberlangsungan industri baja tidak hanya ditentukan oleh profitabilitas perusahaan, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten.


Diskusi turut menyoroti pergeseran paradigma global dari fokus pada net zero emission menuju konsep energy trilemma, yakni keseimbangan antara energy security, affordability, dan green energy. Menurut Dr. Sidik, kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk tidak hanya berfokus pada produk ramah lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan nilai ekonomi dan ketersediaan sumber daya.

Ia juga menilai bahwa penggunaan minyak dan gas diperkirakan tidak akan menurun secara absolut dalam waktu dekat. Pada beberapa sektor tertentu, energi fosil masih diproyeksikan tetap berperan selama masa transisi, termasuk dalam pengembangan teknologi berbasis hidrogen dan hydrocarbon engine sebagai bagian dari green shifting.

Lebih lanjut, Dr. Sidik menambahkan bahwa pengambilan keputusan di industri baja dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingkat kematangan teknologi, daya saing biaya, ketersediaan bahan baku, hingga perhitungan return on investment (ROI) untuk menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

Dalam perspektif yang lebih luas, industri baja juga dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan nasional (national security). Sejumlah proyek strategis melibatkan kolaborasi lintas kementerian, termasuk sektor kelautan dan perikanan, guna mendukung logistik serta pembangunan infrastruktur industri nasional.

Di sisi lain, beberapa negara diketahui menerapkan proteksi tinggi terhadap industri baja domestik dengan margin keuntungan industri yang relatif lebih terjaga. Kondisi tersebut menjadi salah satu referensi dalam upaya memperkuat daya saing industri baja nasional agar lebih berkelanjutan di tengah persaingan global dan tuntutan transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Menutup sesi diskusi, Kepala CPPM SBM ITB, Yudo Anggoro, Ph.D., menyampaikan bahwa industri baja saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga daya saing di tengah transisi menuju energi hijau. Menurutnya, kenaikan harga gas alam membuat proses peralihan menuju green energy menjadi semakin kompleks. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya serta tantangan efisiensi operasional mendorong perusahaan baja untuk terus mencari keseimbangan antara agenda dekarbonisasi dan keberlanjutan profitabilitas bisnis.

#sbm itb #sbm #sdg4 #quality education #sdg7 #affordable and clean energy #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg12 #responsible consumption and production #sdg13 #climate action