Bamboo Expo 2026: Sinergi Sains, Teknologi, dan Seni ITB Tingkatkan Nilai Tambah dari Bambu
Oleh Atika Widya Nurfaizah - Biomanajemen. 2025
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Bamboo Expo 2026 digelar sebagai ruang hilirisasi bagi peta jalan riset bambu dari hulu ke hilir. Agenda akademik ini didukung penuh secara kolaboratif oleh lintas disiplin ilmu di ITB, khususnya para peneliti dari SAPPK yang berfokus pada rekayasa struktur bangunan, serta FSRD yang menitikberatkan pada pengembangan desain produk dan estetika.

Dalam sambutannya, Ketua KK Teknologi Kehutanan, Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D. menegaskan urgensi transformasi paradigma terhadap komoditas strategis ini. "Bambu bukan lagi sekadar bagian dari kekayaan hayati tradisional, melainkan material masa depan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan mampu menggerakkan ekonomi hijau berbasis masyarakat," ujarnya.
Selain memamerkan ragam produk inovatif, Bamboo Expo 2026 juga berfungsi sebagai wadah pertukaran gagasan yang integratif melalui tiga sesi talkshow interaktif dari berbagai fakultas dan bidang keahlian di internal ITB.
Pada sesi pertama, SITH ITB yang membidangi Sains dan Bioenergi menampilkan eksibisi riset karakterisasi dasar material seperti teknologi bambu laminasi, serta hilirisasi produk bioenergi berupa arang bambu, asap cair, dan briket arang berkualitas tinggi.
Selanjutnya, SAPPK ITB yang berfokus pada bidang Teknologi Konstruksi dan Bangunan menyuguhkan aplikasi rekayasa struktural masa depan, seperti purwarupa struktur kolom bangunan tahan gempa serta model arsitektur rumah modular bambu yang efisien. Perkembangan teknologi konstruksi yang aman dan adaptif ini didiskusikan secara komprehensif dalam sesi kedua bersama para ahli dari KK Teknologi Bangunan SAPPK ITB.

Sementara itu, FSRD ITB yang bergerak di bidang Desain, Seni, dan Estetika menampilkan aspek estetika fungsional lewat aneka ornamen domestik siap pakai, mulai dari lampu meja belajar estetis, variasi cup lampu hias, hingga peralatan rumah tangga berupa ciduk. Rangkaian acara akademik ini kemudian ditutup dengan sesi ketiga yang mendiskusikan perkembangan tren desain bambu terkini di Indonesia bersama para akademisi dari KK Manusia dan Desain Produk Industri FSRD ITB.
Seluruh produk yang dipamerkan memiliki landasan ilmiah yang kuat melalui kompilasi jurnal ilmiah bereputasi oleh dosen SITH dan SAPPK ITB di dalam Booklet Bamboo Expo 2026, menjamin bahwa inovasi tersebut telah lolos uji metodologis.
Selain representasi akademik, eksibisi ini diperkuat oleh kontribusi nyata dari tiga entitas industri nasional, dari kategori kursi arsitektural, perabot rumah tangga laminasi, dan dekorasi interior modern.
Ketua Panitia Bamboo Expo 2026, Eka Mulya Alamsyah, S.Hut., M.Agr., Ph.D., mengungkapkan bahwa antusiasme peserta dan industri pada kegiatan ini menjadi validasi penting bagi arah riset akademis di lingkungan kampus.
"Tanggapan positif dari para pelaku sektor industri membuktikan bahwa sinergi ini mampu mempercepat transfer teknologi dan menyamakan persepsi mengenai standardisasi bambu sebagai biomaterial masa depan yang andal," ujarnya.
Secara makro, acara ini berkontribusi langsung pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Bambu diposisikan sebagai biomaterial masa depan ramah lingkungan yang potensial, terbarukan, dan efektif memitigasi dampak pemanasan global. Pertumbuhannya yang cepat menjadikannya substitusi ideal bagi kayu hutan alam konvensional, sekaligus menekan emisi karbon tinggi jika dibandingkan dengan beton.
Rangkaian eksibisi multidisiplin ini menjadi bukti nyata bahwa komoditas lokal seperti bambu dapat bertransformasi menjadi material modern bernilai tambah tinggi jika dikelola melalui ekosistem yang integratif. Melalui Bamboo Expo 2026, SITH ITB bersama mitra akademis dan industri terus bergerak dalam penguatan kemandirian industri hijau Indonesia, sekaligus menegaskan peran teknologi hayati dalam menjawab tantangan keberlanjutan global.
.jpeg)





