Bawa Solusi Distribusi Vaksin di Afrika Barat, Tim Mahasiswa ITB Raih Prestasi Internasional di Singapura

Oleh Jekky - Teknik Pertambangan, 2023

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Tim Four Horsemen ITB meraih Juara 2 pada ajang internasional Singapore Business Case Competition 2026 yang diselenggarakan oleh NTU Business Solutions Case Club di NTU, Sabtu (28/3/2026). (Dok. Tim Four Horsemen)

BANDUNG, itb.ac.id - Tim Four Horsemen ITB berhasil menorehkan prestasi di ajang internasional Singapore Business Case Competition (SBCC) 2026 yang diselenggarakan NTU Business Solutions Case Club, bekerja sama dengan NTU-SBF Centre for African Studies, di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Tim yang beranggotakan Agnes Winona Vania Oey, Claudia Melati Krid, Daffa Mochamad Sabiq, dan Leora Josephine Gionina ini berhasil meraih Juara 2 dalam kompetisi yang kini memasuki penyelenggaraan ke-17 tersebut. Agnes, Daffa, dan Leora berasal dari jurusan Manajemen, sementara Claudia dari jurusan Sistem Informasi.

SBCC 2026 mengangkat tantangan nyata berupa market entry ke sektor pharmaceutical cold chain Afrika Barat, dengan penekanan pada kedalaman analisis dan kelayakan implementasi. Berbeda dengan kompetisi sejenis di Indonesia yang cenderung mengutamakan kerangka kerja (framework), kompetisi ini menuntut peserta menghadirkan solusi yang berbasis data dan dapat diterapkan secara nyata. Dewan juri pun turut melibatkan para profesional dari Afrika, menjadikan penilaian lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi lapangan.

Dalam tim ini, setiap anggota memiliki peran yang saling melengkapi. Agnes (Manajemen) berfokus pada analisis permasalahan dan pengembangan solusi. Claudia (Sistem Informasi) menangani penyusunan deck presentasi sekaligus berkontribusi pada analisis dan solusi. Daffa (Manajemen) bertanggung jawab atas aspek keuangan, sementara Leora (Manajemen) memusatkan perhatian pada pengembangan solusi dan strategi implementasi.

Solusi Mendalam untuk Tantangan Logistik Afrika Barat

Tantangan utama yang diangkat dalam kompetisi ini adalah distribusi produk farmasi, khususnya vaksin di Afrika Barat, yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur energi serta ketidakseimbangan dalam rantai pasok, hingga maraknya produk farmasi palsu. Tim Four Horsemen menjawab tantangan ini dengan merancang solusi berlapis yang berfokus pada Ghana sebagai titik masuk pasar.

Salah satu anggota tim saat mempresentasikan strategi joint venture di depan dewan juri, Sabtu (28/3/2026). (Dok. Penyelenggara SBCC)

Solusi yang diusung mencakup pembangunan jaringan distribusi bertingkat, mulai dari regional hub sebagai gudang farmasi utama, hingga subregional hub yang ditempatkan secara strategis di wilayah terpencil termasuk di kawasan pelabuhan dan daerah utara Ghana guna memastikan produk dapat menjangkau daerah-daerah yang selama ini sulit diakses. Selain itu, tim mengintegrasikan teknologi cold chain asal Singapura untuk menjaga kualitas produk farmasi sepanjang rantai distribusi, dilengkapi dengan rekomendasi vendor yang telah terbukti dan memenuhi standar kebutuhan lapangan.

Hal yang membedakan pendekatan tim ini dari peserta lain adalah rekomendasi strategi market entry melalui joint venture. "Kami menjadi satu-satunya tim yang menyinggung aspek partnership sebagai kunci masuk pasar, dan hal itu mendapat perhatian khusus dari dewan juri," ungkap Agnes.

Persaingan Ketat di Panggung Internasional

Bersaing melawan tim-tim dari Singapura, termasuk juara pertama dari NTU sendiri, memberikan pengalaman yang tak ternilai. Tim juara pertama tampil dengan prototipe nyata dan demonstrasi berbasis kecerdasan buatan, sementara Tim Four Horsemen hadir dengan solusi berbasis riset mendalam dan situs web sebagai alat pendukung.

Claudia mencatat perbedaan mencolok dalam gaya presentasi. "Di Indonesia, tim yang sedang presentasi biasanya tidak ditonton oleh tim lain. Di sini justru sebaliknya, mereka menyimak dengan saksama, kontennya ringkas tetapi sangat terstruktur dan on point," ujarnya. Sesi tanya jawab bersama dewan juri yang merupakan para pakar di bidangnya menjadi momen paling menegangkan sekaligus paling berkesan bagi tim.

Dewan juri mengumumkan Tim Four Horsemen sebagai Juara 2 pada ajang SBCC x Africa Challenge 2026 di Singapura, Sabtu (28/3/2026). (Dok. Penyelenggara SBCC)

Kompetisi ini menuntut adaptasi cepat sehingga revisi besar dilakukan hingga malam sebelum presentasi final, bahkan skrip dipelajari di dalam kendaraan dalam perjalanan menuju lokasi kegiatan. Namun, bagi tim, pengalaman itulah yang paling berharga. "Ikuti standar kompetensi mereka, kurangi penjelasan bertele-tele, perbanyak argumen berbasis data," pesan Leora.

Claudia menambahkan, "Hal yang terpenting adalah terus berusaha tanpa batas, sementara hasil akhir akan mengikuti prosesnya."

Sementara Daffa menekankan pentingnya memahami ketentuan setiap kompetisi sebelum terjun. "Cari tahu terlebih dahulu informasinya, lalu adaptasi sesuai lomba," ujarnya.

#itb #mahasiswa itb #sbm itb #stei itb #four horsemen itb #prestasi mahasiswa #prestasi internasional #singapore business case competition #sbcc 2026 #nanyang technological university #kompetisi bisnis #business case competition #joint venture #cold chain #distribusi vaksin #afrika barat #ghana #market entry #strategi bisnis #inovasi mahasiswa #sdg3 #good health and well being #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg10 #reduced inequalities #sdg17 #partnerships for the goals