Kolaborasi Mahasiswa dan Dosen FMIPA ITB, Raih Publikasi Internasional Bersama Grup Peraih Nobel Kimia
Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id — Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menorehkan prestasi di kancah riset internasional. Deryl Hendson Limawan, mahasiswa Program Studi Kimia ITB angkatan 2020 yang menempuh program fast track magister, berhasil menjadi penulis utama (first author) dalam publikasi ilmiah yang terbit di Chemistry - A European Journal. Riset tersebut merupakan hasil kolaborasi internasional bersama kelompok riset peraih Hadiah Nobel Kimia 2016, Prof. Ben L. Feringa, dari University of Groningen, Belanda.
Keberhasilan menembus jurnal bereputasi internasional ini merupakan hasil dari proses penelitian yang panjang, kolaborasi lintas generasi mahasiswa, serta jejaring akademik yang terbangun selama bertahun-tahun.
Jejak Awal dan Riset Estafet Lintas Angkatan

Kolaborasi ini tak terlepas dari peran Dosen Kelompok Keahlian (KK) Kimia Organik FMIPA ITB, Dr. Robby Roswanda. Beliau mengungkapkan bahwa benih kolaborasi ini sejatinya telah tertanam sejak lama. Prof. Ben L. Feringa merupakan pembimbing studi S3 Dr. Robby di University of Groningen pada medio 2008–2012. Hubungan akademik tersebut semakin diperkuat pasca-Prof. Feringa dianugerahi Nobel Kimia pada tahun 2016.
Dr. Robby kemudian mendapatkan amanah dari ITB untuk mengundang sang mentor guna memberikan Nobel Lecture di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) pada Maret 2020 lalu.
Kunjungan ilmiah tersebut menjadi titik balik penting. Diskusi lanjutan untuk memulai kolaborasi riset kemudian diinisiasi oleh Ketua Kelompok Keahlian (KK) Kimia Organik saat itu, almarhum Prof. Yana Maolana Syah.
Kolaborasi ini mempertemukan dua pilar keahlian yang kuat: kompetensi tim ITB di bidang molekul bahan alam dan kepakaran mendalam grup riset Prof. Feringa di bidang molecular motor.
Secara konkret, proyek riset ini berjalan secara berkelanjutan melalui estafet antargenerasi mahasiswa Kimia ITB. Riset diawali di laboratorium ITB oleh Anthony Bongso (Kimia 2018) melalui isolasi bahan alam potensial yang akan digunakan sebagai building block (komponen dasar) sakelar dan motor molekuler sederhana. Tahapan tersebut dilanjutkan oleh Bayu Dwiputra (Kimia 2019) dan disempurnakan oleh Deryl Hendson Limawan (Kimia 2020).
Untuk melakukan modifikasi molekul tingkat lanjut, para mahasiswa magister dikirim langsung ke laboratorium Prof. Feringa di Groningen. Anthony Bongso diberangkatkan pada Januari–Maret 2023, yang kemudian diteruskan oleh Deryl pada Januari–Maret 2025.
"Paper yang dipublikasikan itu sebagian besar merupakan hasil pekerjaan mereka," tutur Dr. Robby.
Menggali Potensi Bahan Alam Nusantara

Inovasi utama dari riset lintas benua ini bertumpu pada gagasan almarhum Prof. Yana Maolana Syah yang melihat potensi besar pusat kiral pada struktur senyawa bahan alam asli Indonesia. Gagasan tersebut diwujudkan melalui isolasi senyawa turunan murni dari ekstrak kulit polong tanaman Tephrosia vogelii.
Menurut Deryl, penelitian ini menunjukkan bahwa kekayaan hayati Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih luas daripada sekadar pemanfaatan bioaktivitas konvensional seperti obat-obatan tradisional atau antikanker. "Struktur kerangka bahan alam yang unik dapat dimanfaatkan sebagai building block untuk menyintesis molekul yang lebih kompleks. Ini membuka peluang baru dalam pengembangan material fungsional di masa depan," ujarnya.
Dr. Robby Roswanda memperkuat pandangan tersebut dengan menyatakan bahwa pencapaian ini memberikan pesan ilmiah yang kuat bagi dunia riset tanah air. "Salah satu makna dari pencapaian ini adalah kita bisa membuktikan bahwa senyawa bahan alam Indonesia terbukti bisa kita gunakan sebagai building block untuk material photoresponsive (responsif cahaya), tentu dengan segala kelebihan dan tantangannya," jelasnya.
Melalui pendekatan ini, tim berhasil menyintesis molekul turunan yang bersifat fotoaktif. Molekul ini mampu mengalami perubahan bentuk ketika terkena paparan cahaya dan mempertahankan konfigurasi geometris tertentu setelah proses tersebut terjadi. Meskipun saat ini molekul yang dihasilkan baru mampu melakukan satu kali perubahan bentuk dan belum bekerja bolak-balik sepenuhnya layaknya molecular switch yang matang, hasil ini menjadi fondasi awal yang sangat krusial.
Ke depan, pendekatan sintesis ini berpotensi besar mendukung pengembangan material cerdas untuk berbagai aplikasi teknologi tinggi, termasuk komponen optoelektronik (seperti layar elektronik) dan sensor medis.
Menyelaraskan Kultur Kurasi Riset Berkelas Dunia

Kesempatan melakukan riset langsung di University of Groningen juga memberikan perspektif berharga mengenai ekosistem riset di Eropa. Deryl mengamati bahwa ekosistem riset yang kuat di luar negeri dibangun melalui siklus yang konsisten dan berkelanjutan antara pendanaan yang baik, kualitas penelitian yang tinggi, serta publikasi ilmiah yang berdampak.
"Riset yang berkualitas menghasilkan publikasi yang berdampak, dan publikasi yang baik akan membuka peluang pendanaan yang lebih besar. Karena itu, proses kurasi data dan penulisan publikasi dilakukan dengan sangat ketat," kata Deryl. Ketatnya proses tersebut tercermin dari fase revisi naskah publikasi yang memakan waktu lebih dari enam bulan demi melakukan berbagai eksperimen tambahan, analisis mendalam, serta kalkulasi komputasi ulang untuk memastikan kesempurnaan hasil.
Dr. Robby menambahkan bahwa dampak jangka panjang dari kolaborasi internasional ini melampaui sebatas selembar sertifikat publikasi. Kerja sama ini secara masif telah meningkatkan kapasitas internal ITB dalam penguasaan sintesis organik tingkat tinggi serta metodologi komputasi molekular yang kompleks.
Kenaikan standar kompetensi inilah yang akan menjadi pijakan kuat untuk menaikkan kelas laboratorium riset dalam negeri agar sejajar dengan institusi dunia.
Budaya riset di Indonesia diyakini dapat semakin berkembang pesat apabila orientasi akademisi bergeser dari sekadar kuantitas atau jumlah publikasi menuju aspek kualitas serta dampak riilnya. "Penggabungan hasil riset dari beberapa mahasiswa dalam satu publikasi yang terkurasi dengan baik dapat menghasilkan kontribusi ilmiah yang lebih kuat dan berdampak lebih luas," tutur Deryl.
Kualitas yang Mampu Bersaing di Tingkat Global
Berkolaborasi dalam lingkungan riset global kelas atas tentu menghadirkan tantangan tersendiri, termasuk adanya kesenjangan latar belakang pengetahuan dan keterampilan teknis. Namun, Deryl menegaskan bahwa batasan tersebut sangat mungkin dilampaui melalui kemauan besar untuk terus mengembangkan diri di luar batas kurikulum akademik formal.
"Kuncinya adalah terus membaca literatur, aktif berdiskusi, dan tidak ragu untuk bertanya. Dengan semangat belajar yang tinggi, mahasiswa Indonesia mampu bersaing dan memberikan kontribusi dalam riset tingkat dunia," pungkasnya.
Capaian publikasi internasional kolaboratif ini menjadi bukti nyata bahwa peneliti dan mahasiswa ITB memiliki kapasitas, daya saing, serta mutu ilmiah yang diakui dalam ekosistem sains global. Melalui ketekunan, sinergi bimbingan, dan budaya akademik yang berkualitas, generasi muda Indonesia terus menunjukkan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional.
.jpeg)




