Kolaborasi ITB dan Masagi Cibogo: Olah Limbah Botol PET Jadi Filamen cetak 3D Lewat Edukasi Lintas Generasi
Oleh Khalifah Hanif - Mahasiswa Desain Interior 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Workshop bersama komunitas Masagi Cibogo, di Jalan Terusan Cibogo Atas, Bandung, 22 Agustus 2026. (Dok. Muhamad Abdulah Al Azam)
BANDUNG, itb.ac.id — Sebagai upaya mengatasi persoalan tata kelola sampah perkotaan, Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Komunitas Masagi Tjibogo menggelar "Workshop Daur Ulang Limbah Botol Plastik: Dari Sampah Menjadi Produk Kreatif" pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di markas komunitas di Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat Bottom-Up Topik Khusus Sampah Tahun 2026 ini berhasil menyulap botol Polyethylene Terephthalate (PET) menjadi filamen pencetak tiga dimensi (3D).
Resiliensi Komunitas dan Sinergi Lintas Institusi
Komunitas Masagi Cibogo dipilih sebagai mitra karena memiliki resiliensi yang tinggi dalam mengelola persampahan. Sebelumnya, warga Cibogo terbiasa bersinergi sejak 2022 melalui kolaborasi bersama Rakarsa Foundation, sebuah wadah penggerak kemasyarakatan yang dieksekusi oleh beberapa alumni FSRD ITB. Sementara itu, proyek pengolahan filamen bersama tim dosen ITB ini baru intensif berjalan selama empat bulan terakhir.

Produk hasil pengolahan sampah yang sudah pernah dilakukan oleh komunitas Masagi Cibogo sejak 2021. (Dok. Athiya Paramitha)
Program pengabdian ini dilaksanakan oleh Yogie Candra Bhumi, S.Ds., M.Ds. sebagai ketua dan Dr. Kukuh Rizki Satriaji, S.Ds., M.T. sebagai anggota, keduanya adalah dosen dari Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior ITB. Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Arnold Maximillian, M.Ds., Dosen Desain Interior Universitas Kristen Maranatha, serta melibatkan total 16 mahasiswa S1, S2, dan S3 ITB.
Rangkaian Kegiatan Berbasis Lapisan Masyarakat
Pelaksanaan workshop dirancang secara inklusif dengan membagi peserta berdasarkan kelompok usia. Kelompok dewasa dan remaja difokuskan pada pengenalan material, penggunaan alat bantu, hingga proses pengolahan botol PET menjadi filamen dan mencetaknya menjadi objek tiga dimensi.

Kelompok dewasa dan remaja di komunitas Masagi Cibogo saat mengikuti workshop proses pengolahan botol PET menjadi filamen. (Dok. Athiya Paramitha)
Di sisi lain, kelompok anak-anak diajak bereksplorasi secara praktis membuat aksesoris seperti bando, bross menggunakan pena 3D (3D pen) sebagai bagian dari kegiatan "sakoling" (sekolah lingkungan). Kegiatan ini biasa diadakan setiap akhir pekan untuk menjauhkan anak-anak dari pergaulan negatif. Pengenalan media pena 3D ini merupakan usaha untuk mengenalkan prinsip dasar additive manufacturing, yakni material akan habis terpakai dan minim material terbuang
Pembagian ini menjadikan ekosistem komunitas yang terpadu: kelompok ibu-ibu aktif memilah sampah dan mengolah secara fisik menjadi produk berbasis teknik anyam, bapak-bapak membantu urusan teknis, anak-anak mendapatkan edukasi lingkungan yang menyenangkan, sementara para pemuda dibina keterampilannya untuk dapat melihat berbagai potensi di masa mendatang.

Kelompok ibu-ibu membagikan makanan kepada anak-anak di komunitas Masagi Cibogo yang sedang berkreasi membuat aksesori menggunakan 3D Pen. (Dok. Muhamad Abdulah Al Azam)
Potensi Filamen PET dan Pemuda sebagai Katalisator
Meskipun teknologi filamen 3D masih sangat baru bagi warga setempat, potensinya dinilai sangat besar berkat kehadiran pemuda lokal, Idan dan kakaknya. Keduanya yang berprofesi sebagai 3D modeler memiliki bekal pemahaman teknologi yang mumpuni sehingga mampu menjadi katalisator yang menjembatani inovasi teknologi dengan kebutuhan riil komunitas.

Kelompok dewasa dan remaja di komunitas Masagi Cibogo saat mengikuti workshop proses pengolahan botol PET menjadi filamen. (Dok. Athiya Paramitha)
Menurut Yogie Candra Bhumi, PET memiliki karakteristik fisik unggul yang fleksibel, kuat, dan tahan panas. "Karakteristik itu harusnya ada di barang-barang yang justru value-nya tinggi. Jadi PET jenis plastik menurut saya pantas punya umur yang jauh lebih panjang daripada sekadar botol air mineral," katanya.

Yogie Candra Bhumi dan Arnold Maximillian mendemokan proses pembuatan filamen 3D Printing dari botol PET. (Dok. Athiya Paramitha)
Harapan dan Keberlanjutan Ekosistem
Showcase produk-produk hasil olahan filamen 3D Printing dari botol PET dari workshop bersama komunitas Masagi Cibogo. (Dok. Muhamad Abdulah Al Azam)
Yogie berharap ke depannya ada keberlanjutan pendanaan untuk menyempurnakan teknik pewarnaan dan penyambungan filamen. Ia juga berharap dapat mengubah persepsi dasar terkait sampah. Menurutnya, material plastik adalah salah satu penemuan besar peradaban manusia, namun perilaku manusia yang menjadikannya barang sekali pakai (single-use) yang harus diperbaiki.
Di sisi lain, Dian Nurdyana selaku Pendiri dan Ketua Komunitas Masagi Cibogo, menaruh harapan besar pada keberlanjutan pasca-produksi, terutama bantuan pendampingan pemasaran dan penjualan produk akhir filamen 3D tersebut.

Mang Dian sedang memberikan semangat kepada peserta workshop Masagi Cibogo untuk selalu bersama-sama merangkul dalam menciptakan ekosistem yang berkelanjutan. (Dok. Athiya Paramitha)
Pria yang akrab disapa Mang Dian ini menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci mutlak. "Semua persoalan tidak bisa diselesaikan sendiri, tidak ada superman di dunia ini, yang ada super team kita bangun ekosistem itu," tuturnya.

.jpeg)




