Pasca Gempa NTT, ITB Bangun Puskesmas Darurat dan Latih Relawan di Lamba Leda Utara
Oleh -
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
MANGGARAI TIMUR, itb.ac.id - Sebagai bentuk kepedulian dan respons tanggap darurat pascabencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Rumah Amal Salman (RAS) dan Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB (IA ITB) menerjunkan tim relawan dan tenaga ahli ke Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Aksi ini dilakukan untuk mengatasi ancaman krisis layanan kesehatan akibat rusaknya seluruh fasilitas medis lokal pascabencana, yang berisiko memperburuk kondisi warga di 11 desa terdampak.
Langkah kolaboratif ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat korban bencana, pasien penyakit kronis, ibu hamil dan balita, hingga para pemuda serta relawan lokal di wilayah yang berpusat di Dampek, Desa Satar Padut.
Selain mendirikan fasilitas kesehatan sementara yang memadai dan mentransfer keterampilan konstruksi darurat berbasis material lokal (kayu dan bambu), ITB memastikan keberlanjutan layanan medis dasar pasca-masa tanggap darurat berakhir.
Kehadiran tim ahli ITB di daerah terisolir bencana ini sebagai upaya kepakaran perguruan tinggi untuk mencegah krisis lanjutan serta mempercepat pemulihan fisik, kesehatan, dan ekonomi masyarakat pascabencana.
Dalam aksi tanggap darurat ini, tim perwakilan ITB yang turun ke lapangan terdiri atas Dr. Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T. (Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB) selaku mentor teknis konstruksi darurat dan Dr. apt. Tomi Hendrayana, S.Si., M.Si. (Dosen Sekolah Farmasi ITB) untuk asesmen sektor kesehatan dan farmasi, didampingi oleh Ferdyansyah sebagai perwakilan dari Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Pelayanan Kepakaran (DPMK) ITB. Tim berkolaborasi dengan pemerintah kecamatan setempat, pengelola puskesmas, serta relawan lokal untuk mendampingi pemulihan warga di 11 desa terdampak.
Gempa bumi yang mengguncang kawasan pesisir Lamba Leda Utara menyebabkan kerusakan parah pada seluruh fasilitas kesehatan di wilayah tersebut, termasuk dua puskesmas utama. Saat ini, penanganan rujukan medis intensif sempat terbantu oleh keberadaan Rumah Sakit Terapung Universitas Airlangga yang telah dialihkelolakan di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Namun, operasional kapal rumah sakit tersebut dijadwalkan berakhir pada 12 September 2026, bertepatan dengan berakhirnya masa tanggap darurat. Menjawab ancaman terputusnya layanan medis, tim kolaborasi ITB, RAS, dan IA ITB mempercepat pembangunan satu fasilitas puskesmas darurat di Dampek (Desa Satar Padut). Fasilitas medis yang disiapkan mencakup:
1. Ruang ICU darurat
2. Ruang persalinan
3. Ruang nifas
4. Ruang laboratorium
5. Ruang farmasi
6. Poli gigi
7. Matras medis untuk pasien dan area istirahat tenaga kesehatan

Guna membentuk kemandirian jangka panjang dan mempermudah replikasi bangunan darurat di 11 desa, tim ITB mengadakan pelatihan konstruksi selama dua hari bagi para pemuda dan relawan lokal. Di bawah bimbingan Dr. Ing. Andry Widyowijatnoko, para relawan dilatih merancang dan mendirikan tenda serta struktur bangunan darurat dengan memanfaatkan potensi material kayu dan bambu yang melimpah di sekitar lokasi bencana. Keterampilan ini disiapkan agar masyarakat dapat mandiri membangun fasilitas penunjang tanpa terus-menerus menunggu bantuan material pabrikan dari luar daerah.

Hasil asesmen kesehatan Dr. apt. Tomi Hendrayana menyoroti risiko serius akibat terputusnya terapi penyakit kronis, khususnya hipertensi, diabetes melitus, dan tuberkulosis (TBC), yang berpotensi fatal bila tidak ditangani secara berkelanjutan. Selain itu, faktor cuaca buruk, tinggal di tenda pengungsian komunal, serta minimnya akses air bersih dan sanitasi mulai memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan diare.
Di sisi lain, trauma psikologis masih membayangi warga, tenaga kesehatan, hingga perangkat desa akibat gempa susulan yang masih kerap terjadi. Meskipun RS Kupang, Pemerintah Kabupaten Bima, TNI, dan Kompas telah sempat menggelar sesi psikososial, jangkauannya masih perlu diperluas karena banyak warga yang masih memilih tinggal di tenda darurat kendati rumah mereka relatif aman.
Selain sektor kesehatan, tim ITB melakukan pendataan dan penggalian data teknis terkait rencana rancang bangun kembali Masjid Al-Istiqomah (Masjid Kubah Merah Putih) di wilayah Ronting yang rusak akibat gempa. Tim juga membagikan skema teknis untuk penjajakan pembangunan ruang kelas darurat di atas tanah wakaf Pesantren Pancasila di wilayah Reo agar anak-anak tidak kehilangan akses belajar.
Sebagai strategi pemulihan ekonomi mandiri pascabencana, tim merumuskan beberapa potensi unggulan lokal yang siap dikembangkan:
1. Hilirisasi Aren: Optimalisasi pengolahan buah kolang-kaling dan pemanfaatan serat pelepah aren menjadi produk bernilai ekonomis.
2. Teknologi Pengairan Sawah: Penerapan sistem irigasi efisien guna meningkatkan indeks panen petani setempat dalam setahun.
3. Sistem Pertanian Tumpang Sari: Edukasi diversifikasi tanaman di lahan persawahan guna menjamin ketahanan pangan dan memaksimalkan pendapatan petani.
Sumber: DPMK ITB

.jpeg)



