Pakar ITB: Gempa Flores M7,7 Perlu Diwaspadai, Kenali Potensi Gempa Susulan dan Risikonya
Oleh Merryta Kusumawati - Mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025
Editor Anggun Nindita
Ilustrasi gempa (dok. Pexels)
BANDUNG, itb.ac.id — Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) sekira waktu subuh. Gempa yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo tersebut memiliki kedalaman sekitar 15 kilometer dan sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah. Setelah melakukan pemantauan terhadap kondisi muka laut, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB karena tidak ditemukan lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.
Guncangan tersebut juga diikuti aktivitas gempa susulan. Kondisi ini membuat kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan, terutama karena wilayah Flores memiliki sejarah kegempaan yang signifikan. Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menjelaskan karakteristik gempa, potensi gempa susulan, serta sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tingkat kerusakan.
Memiliki Kemiripan dengan Gempa Flores 1992
Prof. Irwan menjelaskan, Gempa Flores 15 Agustus 2026 memiliki kemiripan dari sisi lokasi dan mekanisme dengan gempa Flores yang terjadi pada 1992. Jarak kedua lokasi gempa tersebut kurang dari 40 kilometer.
“Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi,” ujarnya.
Menurut Prof. Irwan, tingginya tsunami pada 1992 turut dipengaruhi oleh longsoran bawah laut yang terjadi setelah gempa.
“Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi,” tambahnya.
Untuk gempa kali ini, ia berharap kondisi serupa tidak terjadi. Meskipun memiliki magnitudo yang relatif besar dan lokasi yang berdekatan dengan gempa 1992, faktor pemicu tsunami perlu menjadi perhatian tersendiri.
“Mudah-mudahan dalam gempa ini, walaupun magnitudonya mirip, yang dulu 7,9 sekarang 7,7, lokasinya pun berdekatan tidak sampai 40 kilometer, tetapi tidak diikuti dengan longsoran bawah laut sehingga tsunaminya tidak setinggi tsunami tahun 1992,” jelasnya.
Flores Back Arc Memiliki Riwayat Gempa Besar
Wilayah tempat terjadinya gempa merupakan bagian dari Flores Back Arc atau busur belakang Flores, kawasan yang memiliki aktivitas kegempaan signifikan. Menurut Prof. Irwan, kawasan tersebut memiliki riwayat gempa besar, termasuk gempa bermagnitudo 6,6 pada 2009 dan rangkaian gempa di utara Lombok pada 2018.
“Kalau kita ingat tahun 2018 misalnya, di utara Lombok, itu pun terjadi retakan gempa besar di atas magnitudo enam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kajian akademik dalam penyusunan peta gempa nasional juga menunjukkan masih terdapat bagian di kawasan tersebut yang memiliki potensi kegempaan.
“Masih ada bagian yang sebetulnya belum menghasilkan gempa. Kita tidak berharap itu terjadi, tetapi secara riset akademik dari yang kami hasilkan dari riset Pusgen yang menjadi pusat studi gempa nasional, yang menjadi peta nasional gempa Indonesia saat ini, sebetulnya potensi gempa itu tidak kita harapkan tetapi masih ada di wilayah tersebut,” tuturnya.
Ratusan Gempa Susulan Masih Perlu Diwaspadai
Aktivitas gempa susulan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah gempa utama. Berdasarkan pemantauan BMKG, puluhan gempa susulan telah tercatat setelah gempa utama, dengan magnitudo hingga 6,2.
Prof. Irwan menjelaskan, gempa besar pada umumnya memang diikuti oleh gempa-gempa susulan yang secara bertahap cenderung menurun magnitudonya.
“Biasanya suatu gempa besar terjadi akan diikuti beberapa gempa-gempa susulan yang magnitudonya semakin lama akan semakin kecil,” ujarnya.
Meski demikian, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan. Prof. Irwan mengingatkan bahwa pengalaman gempa Lombok pada 2018 menunjukkan aktivitas gempa dapat melibatkan segmen yang berdekatan.
“Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin, tidak kita harapkan, bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan. Ini pernah terjadi ketika gempa 2018 di wilayah Lombok,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa gempa susulan dengan magnitudo di atas 6 tetap berpotensi menimbulkan dampak yang signifikan.
“Mungkin gempanya banyak, tapi semakin lama semakin mengecil. Tetapi masih ada kemungkinan, walaupun kecil, apabila gempanya di atas enam, itu bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan,” tuturnya.
Gempa Dangkal Berpotensi Memperkuat Guncangan

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.
Potensi kerusakan akibat gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo. Prof. Irwan menyebut kedalaman sumber gempa dan jaraknya dari kawasan permukiman sebagai faktor penting lainnya.
Gempa Flores 15 Agustus 2026 memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman sekitar 10–15 kilometer berdasarkan sejumlah sumber, sehingga tergolong relatif dangkal. Hasil pemutakhiran BMKG juga menunjukkan gempa tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
“Dengan magnitudo 7,7 tentu saja berpotensi untuk mengakibatkan efek kerusakan,” ujarnya.
Menurutnya, kombinasi magnitudo yang besar, kedalaman yang relatif dangkal, serta lokasi yang berdekatan dengan kawasan permukiman dapat meningkatkan potensi guncangan yang merusak.
“Gempa ini magnitudonya pun signifikan, M7,7, kemudian kedalamannya dari beberapa sumber sekitar 10 sampai 15 kilometer. Dengan dua kombinasi ini dan ada kombinasi yang ketiga, yaitu lokasinya dekat dengan pemukiman,” katanya.
Kondisi Tanah dan Kualitas Bangunan Turut Menentukan
Selain karakteristik gempa, kondisi lingkungan dan infrastruktur di wilayah terdampak turut menentukan tingkat kerusakan. Salah satunya adalah kondisi tanah yang dapat memperkuat guncangan melalui proses amplifikasi.
“Nanti sebenarnya ada faktor yang keempat yaitu faktor amplifikasi tanah di dekat pemukiman. Ada faktor yang lain yaitu kualitas dari infrastruktur dari pemukiman. Rentetan dari kemungkinan-kemungkinan ini kemudian yang menghasilkan tingkat kerusakan,” jelasnya.
Dengan demikian, dampak gempa pada setiap wilayah dapat berbeda. Magnitudo dan kedalaman gempa, jarak dari sumber gempa ke permukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai potensi kerusakan.
Sekolah dan Fasilitas Kesehatan Perlu Mendapat Perhatian
Prof. Irwan menilai, dengan melihat magnitudo, kedalaman, dan lokasi gempa terhadap kawasan perkotaan, sejumlah infrastruktur strategis perlu mendapat perhatian.
“Kalau kita melihat sekilas lokasi, magnitudonya, kemudian kedalamannya, lokasi dengan kota, kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup signifikan pada infrastruktur strategis,” ujarnya.
Ia secara khusus menyoroti sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pemerintahan. Infrastruktur tersebut memiliki peran penting, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga dalam mendukung penanganan dan pemulihan setelah bencana.
“Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan, selain juga fasilitas pemerintahan,” lanjutnya.
Ia berharap proses pemulihan terhadap infrastruktur strategis yang terdampak dapat dilakukan secara cepat sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan.
“Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat,” katanya.
Prof. Irwan menegaskan bahwa banyaknya gempa susulan tidak serta-merta menunjukkan akan terjadi gempa yang lebih besar. Secara umum, magnitudo gempa susulan cenderung menurun seiring waktu. Namun, karakteristik kegempaan di kawasan Flores Back Arc membuat kewaspadaan tetap diperlukan.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi berwenang, serta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan hingga dipastikan aman.
Pemahaman terhadap karakteristik gempa dan kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko. Sebab, tingkat kerusakan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh kedalaman sumber gempa, jarak dari permukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan.




