Riset Berdampak, Dosen SBM ITB Tekankan Kolaborasi dengan Industri
Oleh --- -
Editor Anggun Nindita
Dr. rer. pol. Eko Agus Prasetio, S.T., MBA. (Dok. SBM ITB)
JAKARTA, itb.ac.id — Hasil riset yang bermanfaat bagi masyarakat tidak selalu harus berakhir menjadi produk komersial atau bisnis yang terus tumbuh. Ada riset yang menjawab kebutuhan darurat, ada pula yang menjadi fondasi pengembangan industri jangka panjang. Karena itu, keberhasilannya perlu diukur sesuai dengan tujuan dan manfaat yang dihasilkan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Mantan Kepala Laboratorium Manajemen Teknologi Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Dr. rer. pol. Eko Agus Prasetio, S.T., MBA., dalam Diskusi Terbatas Keberdampakan Sains dan Teknologi bertajuk “Mengukur, Menjaga, dan Memperluas Dampak Riset”, Selasa (8/9/2026), di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta. Kegiatan ini diselenggarakan Harian Kompas bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
“Komersialisasi adalah salah satu jalur menuju dampak, tapi bukan definisi dari dampak itu sendiri. Kalau kita ingin serius soal mengukur, menjaga, dan memperluas dampak riset, kita harus berhenti memakai satu ukuran keberhasilan untuk semua jenis riset,” ujar Eko.
Dari Bisnis hingga Solusi Kebutuhan Masyarakat
Berdasarkan kajiannya terhadap sejumlah kasus komersialisasi dan transfer teknologi, Eko menjelaskan bahwa dampak riset dapat hadir melalui tiga jalur. Pertama, bisnis yang terus berkembang, seperti KAZEE, perusahaan analitik media sosial yang tumbuh dari tiga mahasiswa menjadi lebih dari 70 karyawan.
Kedua, riset yang menjawab kebutuhan sosial dalam waktu tertentu. Ia mencontohkan Vent-I, ventilator portabel yang dikembangkan pada masa pandemi Covid-19. Proyek tersebut memperoleh pendanaan urun dana sebesar Rp12,5 miliar dan telah mengirimkan 1.050 unit ke 11 rumah sakit rujukan sebelum resmi berakhir pada 24 Juli 2020.
“Kalau ukuran keberhasilan kita adalah ‘startup yang masih hidup setelah pendanaan berakhir’, Vent-I akan tercatat sebagai kegagalan, padahal itu justru kasus dampak paling nyata di seluruh studi,” katanya.
Ketiga, riset yang mendukung pembangunan infrastruktur strategis jangka panjang. Dalam pola ini, Eko mencontohkan Katalis Sinergi Indonesia (KSI), yang mengembangkan katalis biodiesel ITB bersama mitra industri. Keberlanjutan riset semacam ini, menurutnya, perlu didukung oleh kebutuhan pengguna yang jelas, kemitraan strategis, dan pendanaan yang beragam.
Ukur Manfaat, Bangun Kesiapan Pengguna

Beliau mengusulkan agar tujuan dan jalur dampak setiap riset ditetapkan sejak awal pendanaan. Dengan demikian, riset berbasis bisnis dapat dinilai dari pertumbuhan dan adopsi pasar, sedangkan riset untuk kebutuhan darurat dinilai dari manfaat yang diberikan. Adapun riset strategis perlu dilihat dari kontribusi jangka panjang, seperti nilai tambah industri dan keberlanjutan pemanfaatannya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan riset tidak hanya bergantung pada perguruan tinggi. Kesiapan industri, BUMN, pemerintah daerah, maupun pihak penerima lainnya untuk menyerap dan menerapkan teknologi turut menentukan apakah hasil penelitian benar-benar dapat dimanfaatkan.
“Riset bisa saja sudah sukses ditransfer, tapi dampaknya tetap tidak terwujud kalau penerimanya tidak siap menyerap. Artinya, menjaga dampak bukan cuma tugas kampus, tapi juga tugas membangun kesiapan di sisi penerima,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, Eko berharap ekosistem riset Indonesia semakin mampu mendukung beragam bentuk inovasi. Dengan pengukuran yang tepat, kemitraan yang kuat, dan kesiapan pengguna, hasil riset diharapkan tidak hanya berhenti sebagai luaran akademik, tetapi terus berkembang menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri.
.jpg)

.jpg)

.jpeg)