Di Era AI, Prof. Imam Santosa Tawarkan Paradigma “Mendesain Makna” dalam Desain Interior
Oleh Zahira Rahma, S.Ds. - Mahasiswa Magister Desain
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin mampu menghasilkan beragam bentuk dan alternatif rancangan, Prof. Imam Santosa, M.Sn., dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), menawarkan paradigma Mendesain Makna (Designing Meanings). Paradigma ini menempatkan desain interior bukan sekadar sebagai aktivitas membentuk ruang, tetapi sebagai proses membangun makna melalui pengalaman manusia terhadap ruang.
Gagasan tersebut disampaikan Prof. Imam dalam Orasi Ilmiah Guru Besar ITB berjudul “Mendesain Makna: Rekonstruksi Epistimologi Desain Interior Berbasis Falsafah Ke-Nusantaraan untuk Membangun Peradaban Humanis di Era Kecerdasan Artifisial”, yang berlangsung pada Sabtu (12/9/2026) di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha.
Dalam paradigma ini, desain dipahami sebagai proses yang mempertemukan ruang, manusia, pengalaman, pengetahuan, material, teknologi, dan konteks budaya. Makna tidak dipandang sebagai sesuatu yang melekat secara tetap pada ruang, melainkan terbentuk melalui pengalaman dan praktik kehidupan manusia.
“Makna tidak dipahami sebagai atribut yang melekat pada ruang, melainkan sebagai hasil konstruksi yang terus berkembang melalui praktik kehidupan manusia,” ujar Prof. Imam.
Dari Bentuk ke Makna
Prof. Imam menjelaskan bahwa perkembangan pemikiran desain membawa disiplin ini melampaui aktivitas menghasilkan bentuk (form giving). Desain berkembang menjadi proses berpikir yang menghubungkan berbagai bentuk pengetahuan melalui eksplorasi material, teknologi, fungsi, serta pengalaman pengguna.
“Desain bukan lagi dipahami sebagai kegiatan menghasilkan bentuk (form giving), tetapi sebagai proses berpikir yang menghubungkan berbagai bentuk pengetahuan untuk menghasilkan lingkungan yang lebih baik bagi kehidupan manusia,” ujarnya.
Dalam konteks desain interior, pemikiran tersebut menempatkan ruang sebagai sistem pengetahuan dan makna. Ruang tidak hanya menjadi wadah aktivitas, tetapi turut membentuk pengalaman dan pengetahuan manusia. Sebaliknya, praktik kehidupan manusia juga dapat membentuk dan mengubah makna ruang dari waktu ke waktu.
Pengalaman Ruang dan Falsafah Ke-Nusantaraan
Paradigma Designing Meanings juga dibangun melalui pembahasan mengenai pengalaman ruang dan praktik budaya, antara lain konsep kata, ma, monozukuri, dan wabi-sabi. Konsep-konsep tersebut memperlihatkan bahwa makna ruang dapat terbentuk melalui relasi antara manusia, objek, material, waktu, proses, dan pengalaman.
.jpg)
Transformasi space menjadi place melalui pengalaman dan pemaknaan manusia menjadi salah satu gagasan yang dibahas Prof. Imam Santosa dalam paradigma Designing Meanings. (Dok. Orasi Ilmiah Prof. Imam Santosa, ITBPress)
Prof. Imam juga menggunakan Aula Barat ITB sebagai contoh ruang yang tidak hanya memiliki nilai arsitektural, tetapi juga menyimpan pengalaman, sejarah, dan aktivitas akademik yang membentuk maknanya. Dengan demikian, makna ruang tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk fisik, tetapi juga oleh penggunaan, memori, dan pengalaman kolektif yang berlangsung di dalamnya.
Desain di Tengah Perkembangan AI
Perkembangan AI menjadi konteks penting dalam gagasan tersebut. Teknologi memungkinkan proses menghasilkan dan mengeksplorasi alternatif desain dilakukan dengan cara yang semakin berbeda. Namun, menurut paradigma Designing Meanings, pengetahuan desain tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan bentuk.
Eksplorasi, pengalaman, refleksi, eksperimentasi, serta hubungan manusia dengan material, teknologi, dan lingkungan tetap menjadi bagian dari proses pembentukan pengetahuan desain. Karena itu, kehadiran AI turut mendorong pertanyaan mengenai bagaimana pengetahuan desain diproduksi dan dari mana makna sebuah desain berasal.
Pada akhirnya, Prof. Imam menempatkan desain sebagai tindakan kultural (cultural act) yang mempertemukan pengetahuan, seni, kriya, teknologi, material, fungsi, dan pengalaman manusia. Perspektif ini menjadi dasar rekonstruksi epistemologi desain interior berbasis falsafah Ke-Nusantaraan untuk membangun peradaban yang humanis di tengah perkembangan kecerdasan artifisial.
.jpg)

.jpg)
.jpg)



