Fajri Prasetya, Wisudawan S2 ITB dengan Publikasi Terbaik Bidang Ilmu Rekayasa Nuklir
Oleh Zahira Rahma, S.Ds. -
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Di tengah meningkatnya kebutuhan energi berkelanjutan di Indonesia, nama Fajri Prasetya hadir sebagai salah satu generasi muda yang menaruh harapan besar pada pengembangan teknologi nuklir nasional. Wisudawan Magister Ilmu dan Rekayasa Nuklir Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berhasil meraih predikat lulusan terbaik sekaligus publikasi terbaik pada Wisuda April 2026 berkat ketekunannya dalam riset dan publikasi internasional di bidang teknologi reaktor nuklir.
Fajri berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, dan merupakan lulusan sarjana Universitas Negeri Jember (UNEJ). Ketertarikannya pada bidang nuklir muncul karena potensinya sebagai energi zero emission yang dinilai mampu menjadi solusi krisis energi di masa depan.
“Ketertarikan saya terhadap nuklir karena teknologi ini mengedepankan zero emission. Namun, di Indonesia sendiri belum ada teknologi nuklir untuk skala daya, walaupun kita sudah memiliki tiga reaktor,” ujar Fajri.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki tiga reaktor riset yang berada di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Meski telah beroperasi, ketiga reaktor tersebut masih digunakan untuk kebutuhan penelitian dan belum mampu menghasilkan listrik dalam skala besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Berangkat dari kondisi tersebut, Fajri memiliki cita-cita untuk menjadi bagian dari pengembangan sumber daya manusia (SDM) nuklir Indonesia di masa depan.
“Saya ingin menjadi periset di bidang nuklir. Sewaktu-waktu Indonesia membangun PLTN dengan skala besar, SDM-nya sudah siap dan salah satunya itu saya. Tidak ada salahnya kita belajar lebih awal walaupun teknologinya belum ada,” katanya.
Perjalanan riset Fajri dimulai sejak mendapatkan tawaran program Degree by Research (DBR) BRIN dari dosen pembimbingnya saat menempuh studi sarjana. Ia kemudian memilih ITB sebagai afiliasi riset karena kedekatannya dengan Reaktor TRIGA2000 Bandung serta lingkungan akademik yang dinilai mendukung pengembangan keilmuan nuklir.

“Di ITB saya mendapatkan keilmuan yang lebih luas karena banyak dosen expert di bidang nuklir yang membimbing riset saya,” ujarnya.
Selama studi magister, Fajri dikenal konsisten menjalankan riset sejak awal semester pertama. Bahkan sebelum perkuliahan dimulai, ia telah melakukan studi literatur dan eksperimen komputasi secara mandiri. Ketekunannya membuahkan hasil ketika publikasi ilmiahnya berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q3 di akhir semester pertama. Jurnal ini merupakan output dari jenjang sarjana, yang merupakan jurnal pertama yang dipublikasi oleh Fajri Prasetya di skala Quartil.
Meski demikian, perjalanan publikasi ilmiah tidak berjalan mudah. “Ternyata publikasi paper itu sangat sulit, apalagi paper dengan kualitas bereputasi tinggi,” katanya.
Dorongan dari pembimbing membuat Fajri terus meningkatkan kualitas penelitiannya hingga berhasil mencapai publikasi internasional Q1 pada jenjang magister. Capaian tersebut kemudian mengantarkannya meraih predikat wisudawan terbaik.
Namun bagi Fajri, keberhasilan akademik bukan semata soal nilai sempurna. “IPK tidak bisa menjadi tolok ukur seseorang pintar atau pandai. Saya merasa hasil ini tercapai karena ketekunan saya. Saya memang banyak belum tahu, tetapi saya tekun ingin tahu dan ingin mencoba,” tuturnya.
Penelitian Fajri berfokus pada analisis neutronik untuk penarikan batang kontrol Reaktor TRIGA MARK II menggunakan program OpenMC. Melalui penelitian tersebut, ia melakukan simulasi dan desain ulang reaktor TRIGA secara komputasi untuk menghasilkan basis data yang dapat digunakan sebagai pembanding bagi penelitian dan pengembangan reaktor di masa mendatang.
“Penelitian ini menawarkan database komputasi yang bisa menjadi data pembanding jika nantinya ada simulasi eksperimen atau pengembangan performa reaktor,” kata Fajri.

Menurutnya, keberadaan riset reaktor skala kecil menjadi langkah awal penting untuk mempersiapkan teknologi dan SDM sebelum Indonesia membangun PLTN dalam skala besar.
Saat ini, Fajri telah melanjutkan studi doktoralnya melalui program fast track S2–S3 ITB dengan skema beasiswa Ganesha Talent Assistant (GTA). Baginya, semakin dalam mempelajari ilmu nuklir, semakin banyak pengetahuan baru yang ingin dipelajari.
“Ternyata setelah menyelam lebih dalam, banyak sekali pengetahuan yang belum saya ketahui. Itu yang menjadi motivasi saya untuk terus belajar,” ujarnya.
Fajri berharap masyarakat Indonesia dapat melihat teknologi nuklir secara lebih terbuka dan tidak selalu mengaitkannya dengan persepsi negatif.
“Nuklir bisa menjadi solusi krisis energi di masa depan karena energi fosil semakin terbatas dan mahal,” katanya.
Ia juga berharap semakin banyak perguruan tinggi di Indonesia membuka program studi nuklir untuk mempersiapkan SDM yang kompeten di bidang tersebut. Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar pengembangan energi nuklir di Indonesia dapat diterima secara lebih luas.




.jpg)


