Gubernur Lemhanas RI Ajak Generasi Muda Perkuat Kesadaran Geopolitik
Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id — Geopolitik tidak hanya berkaitan dengan diplomasi, pertahanan, atau hubungan antarnegara, tetapi juga dengan perkembangan sains, teknologi, energi, ekonomi, hingga ketahanan pangan. Hal tersebut mengemuka dalam Studium Generale Institut Teknologi Bandung (ITB) di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Rabu (7/10/2026).
Studium Generale menghadirkan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., dengan pembahasan mengenai pentingnya membangun kesadaran geopolitik bagi generasi muda.
Geopolitik Berkaitan dengan Sains dan Teknologi
Mewakili Rektor ITB, Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, menyampaikan bahwa geopolitik kini berkaitan erat dengan sains, teknologi, industri, energi, ekonomi, dan sumber daya alam.
Persaingan ekonomi, kecerdasan artifisial (AI), ketahanan energi dan pangan, hingga perubahan iklim telah menjadi bagian dari dinamika antarnegara. Karena itu, kemajuan teknologi perlu diiringi kedewasaan berpikir dan nilai-nilai kebangsaan.
"ITB mendorong mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta, inovator, dan pemimpin yang dapat memperkuat daya saing serta kedaulatan Indonesia," ujar Dr. Rikrik.
Geopolitik Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam paparannya, Ace Hasan Syadzily menegaskan bahwa geopolitik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Dampaknya dapat dirasakan melalui perubahan harga energi dan pangan, gangguan rantai pasok, hingga perkembangan teknologi.
Ia menjelaskan bahwa tatanan dunia kini semakin multipolar. Persaingan global tidak hanya berlangsung dalam aspek militer, tetapi juga perdagangan, investasi, teknologi, energi, dan penguasaan sumber daya strategis.
"Indonesia, memiliki posisi penting di kawasan Indo-Pasifik. Letak geografis yang strategis, sumber daya mineral, serta jumlah penduduk yang besar menjadi modal untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global," katanya.
Generasi Muda: User atau Creator?
Ace kemudian mengajak mahasiswa merenungkan satu pertanyaan penting: apakah generasi muda Indonesia akan menjadi user atau creator?
Menurutnya, AI, data, semikonduktor, keamanan siber, dan infrastruktur digital akan menjadi instrumen penting dalam persaingan masa depan. Karena itu, generasi muda perlu mengambil peran sebagai pencipta dan pengembang teknologi, bukan sekadar pengguna.
"Mahasiswa juga perlu membangun kemampuan berpikir strategis dengan memahami apa yang terjadi, mengapa hal tersebut terjadi, siapa yang berkepentingan, apa dampaknya bagi bangsa, serta bagaimana Indonesia seharusnya menyikapinya," ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya lima kapasitas bagi generasi muda, yakni strategic awareness, berpikir kritis, kesadaran terhadap kepentingan nasional, kompetensi global, serta literasi digital yang beretika.
Kolaborasi Menuju Indonesia Emas 2045
Beliau menyatakan bahwa ketahanan geopolitik tidak hanya menjadi tanggung jawab generasi muda. Pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, ekosistem teknologi, dan organisasi kepemudaan perlu bergerak bersama.
Perguruan tinggi didorong menghasilkan ilmu pengetahuan dan inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata, sementara generasi muda perlu terus memperkuat kompetensi dan daya kritis.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan nasional sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju, berdaulat, bersatu, dan berkelanjutan.






