Mahasiswa FMIPA ITB Jadi Penulis Utama Publikasi Internasional Bersama Grup Riset Peraih Nobel Kimia

Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021

Editor Muhammad Efriza Pandia

BANDUNG, itb.ac.id — Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menorehkan prestasi di kancah riset internasional. Deryl Hendson Limawan, mahasiswa Program Studi Kimia ITB angkatan 2020 yang menempuh program fast track magister, berhasil menjadi penulis utama (first author) dalam publikasi ilmiah yang terbit di Chemistry – A European Journal. Riset tersebut merupakan hasil kolaborasi internasional bersama kelompok riset peraih Hadiah Nobel Kimia 2016, Prof. Ben L. Feringa, dari University of Groningen, Belanda.

Keberhasilan menembus jurnal bereputasi internasional ini merupakan hasil dari proses penelitian yang panjang, kolaborasi lintas generasi mahasiswa, serta jejaring akademik yang terbangun selama bertahun-tahun.

Riset Estafet Lintas Angkatan
Data dan temuan yang dipublikasikan dalam jurnal tersebut merupakan hasil penelitian yang dikembangkan secara berkelanjutan oleh beberapa mahasiswa Kimia ITB lintas angkatan. Riset ini diawali oleh Anthony Bongso (Kimia 2018), kemudian dilanjutkan oleh Bayu Dwiputra (Kimia 2019), dan disempurnakan oleh Deryl Hendson Limawan (Kimia 2020). Seluruh penelitian dilakukan di bawah bimbingan Dr. Robby Roswanda.

Kolaborasi internasional tersebut juga didukung oleh rekam jejak akademik Dr. Robby Roswanda yang pernah menjadi mahasiswa bimbingan Prof. Ben Feringa pada 2009. Hubungan akademik tersebut semakin diperkuat saat Prof. Feringa berkunjung ke ITB pada 2020 untuk memberikan kuliah umum, yang kemudian membuka peluang kerja sama riset lebih lanjut.

Menggali Potensi Bahan Alam Nusantara
Riset ini berawal dari gagasan almarhum Prof. Yana Maolana Syah yang melihat potensi besar pusat kiral pada struktur senyawa bahan alam Indonesia. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui isolasi senyawa turunan murni dari ekstrak tanaman Tephrosia vogelii.

Menurut Deryl, penelitian ini menunjukkan bahwa bahan alam Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih luas daripada sekadar dimanfaatkan untuk bioaktivitas, seperti pengobatan atau antikanker.

“Struktur kerangka bahan alam yang unik dapat dimanfaatkan sebagai building block untuk menyintesis molekul yang lebih kompleks. Ini membuka peluang baru dalam pengembangan material fungsional di masa depan,” ujarnya pada Rabu (3/6/2026).

Melalui penelitian tersebut, tim berhasil menyintesis molekul turunan yang bersifat fotoaktif. Molekul ini mampu mengalami perubahan bentuk ketika terkena cahaya dan mempertahankan konfigurasi tertentu setelah proses tersebut terjadi. Meskipun saat ini molekul yang dihasilkan baru mampu melakukan satu kali perubahan geometris dan belum berfungsi sepenuhnya sebagai molecular switch yang dapat bekerja bolak-balik, hasil ini menjadi langkah awal yang menjanjikan.

Ke depan, pendekatan sintesis yang dikembangkan dalam penelitian ini berpotensi mendukung pengembangan material cerdas untuk berbagai aplikasi, termasuk komponen optoelektronik dan sensor medis.

Menyelaraskan Kultur Kurasi Riset

Kesempatan melakukan riset di University of Groningen juga memberikan pengalaman berharga bagi Deryl mengenai budaya akademik dan riset di Eropa. Ia melihat bahwa ekosistem riset yang kuat dibangun melalui siklus yang berkelanjutan antara pendanaan, kualitas penelitian, dan publikasi ilmiah.

“Riset yang berkualitas menghasilkan publikasi yang berdampak, dan publikasi yang baik akan membuka peluang pendanaan yang lebih besar. Karena itu, proses kurasi data dan penulisan publikasi dilakukan dengan sangat ketat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa proses penyempurnaan naskah publikasi tersebut memerlukan waktu revisi lebih dari enam bulan. Selama periode tersebut, tim melakukan berbagai penambahan eksperimen, analisis, dan kalkulasi untuk memastikan kualitas hasil penelitian.

Deryl juga menilai bahwa budaya riset di Indonesia dapat semakin berkembang apabila peneliti tidak hanya berfokus pada jumlah publikasi, tetapi juga pada kualitas dan dampaknya.

“Penggabungan hasil riset dari beberapa mahasiswa dalam satu publikasi yang terkurasi dengan baik dapat menghasilkan kontribusi ilmiah yang lebih kuat dan berdampak lebih luas,” tuturnya.

Kualitas yang Mampu Bersaing di Tingkat Global

Kolaborasi dalam lingkungan riset internasional tentu menghadirkan berbagai tantangan, termasuk perbedaan latar belakang pengetahuan dan pengalaman. Namun, menurut Deryl, tantangan tersebut dapat diatasi melalui kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan diri di luar tuntutan akademik formal.

“Kuncinya adalah terus membaca literatur, aktif berdiskusi, dan tidak ragu untuk bertanya. Dengan semangat belajar yang tinggi, mahasiswa Indonesia mampu bersaing dan memberikan kontribusi dalam riset tingkat dunia,” ujarnya.

Capaian publikasi internasional ini menjadi bukti bahwa mahasiswa ITB memiliki kapasitas dan daya saing yang kuat dalam ekosistem riset global. Melalui kolaborasi, ketekunan, dan budaya ilmiah yang berkualitas, generasi muda Indonesia terus menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional.

#prestasi #prestasi mahasiswa #kimia itb #publikasi #sdg4 #quality education #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg17 #partnerships for the goals #sdg4 #quality education #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg17 #partnerships for the goals