Orasi Ilmiah Prof. Edy Sanwani: Pengolahan Mineral dan Sumber Sekunder untuk Mendukung Sirkularitas dan Keberlanjutan Industri Metalurgi

Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2021

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id - Prof. Ir. Edy Sanwani, M.T., Ph.D., Guru Besar Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi FTTM ITB, menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pengolahan Mineral dan Sumber Sekunder untuk Mendukung Sirkularitas dan Keberlanjutan Industri Metalurgi” di Aula Barat ITB, Sabtu (6/12/2025). Ia menekankan bahwa kekayaan mineral Indonesia, seperti nikel, besi, emas, timah, seng, tembaga, dan logam tanah jarang, perlu melalui rangkaian proses dari eksplorasi hingga pengolahan agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

“Kalau dibiarkan saja tentu tidak banyak memberikan manfaat. Untuk sampai menjadi bahan yang bisa digunakan oleh manusia, banyak kegiatan yang harus dilakukan,” ujarnya.

Prof. Edy juga menyoroti potensi tailing, residu, terak, scrap, dan limbah elektronik sebagai sumber daya sekunder karena masih mengandung mineral dan logam berharga yang dapat diolah kembali.

Dari Sumber Primer hingga Proses Pemisahan Mineral

Prof. Edy menjelaskan bahwa pengolahan mineral saat ini tidak hanya berfokus pada bijih dari alam sebagai sumber primer, tetapi juga pada sumber sekunder seperti tailing, residu, slag, dan limbah elektronik yang masih mengandung unsur bernilai.

“Tailing, residu, slag, maupun limbah elektronik kemudian menjadi sumber baru untuk diproses ulang. Sumber yang berasal dari alam disebut sumber primer, sedangkan sumber dari tailing dan limbah menjadi sumber sekunder,” ujarnya.

Menurutnya, proses pengolahan selalu diawali dengan karakterisasi untuk memahami jenis mineral, ukuran, bentuk, dan keterkaitan antarmineral. Informasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan proses berikutnya, termasuk liberasi melalui crushing dan grinding. Tahapan ini penting karena mineral berharga harus dibebaskan dari mineral pengotornya sebelum dipisahkan.

“Hal pertama di dalam pengolahan mineral yang harus dipahami adalah karakterisasi daripada bijih. Kita ingin memahami mineralnya apa, bagaimana berasosiasi, dan berapa ukuran mineral di dalam bijih,” ujarnya.

Setelah mineral terliberasi, pemisahan dilakukan berdasarkan perbedaan sifat fisik, seperti berat jenis, kemagnetan, sifat kelistrikan, dan sifat permukaan melalui konsentrasi gravitasi, magnetik, elektrostatik, maupun flotasi. Prof. Edy menambahkan bahwa efisiensi proses sangat dipengaruhi oleh tahap grinding, yang dapat menyerap sekitar 40 sampai 60 persen biaya pengolahan menuju konsentrat.

“Sampai ukuran berapa partikel akan dihaluskan menjadi pertanyaan penting di dalam penerapan industri,” ujarnya.

Prinsip-prinsip tersebut juga menjadi dasar berbagai penelitian di Laboratorium Pengolahan Bahan Galian ITB, antara lain modifikasi reologi slurry pada bijih timah primer serta kajian penggunaan bola keramik dan bola baja pada penggerusan bijih sulfida kompleks.

Bioflotasi dan Pemanfaatan Sumber Sekunder

Prof. Edy dan tim mengembangkan berbagai penelitian pengolahan mineral, mulai dari flotasi bijih kompleks timbal dan seng, pemisahan bijih timah menggunakan meja goyang dan jig, hingga pemanfaatan bakteri sebagai bioreagen. Sejak sekitar 2014, pendekatan bioflotasi mulai diteliti untuk melihat pengaruh mikroorganisme terhadap permukaan mineral seperti kalkopirit, pirit, dan silika. Hasilnya cukup menjanjikan, meski performa recovery dan peningkatan kadar masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.

“Secara proses cukup berhasil, tetapi kalau dilihat dari performa recovery dan peningkatan kadar, masih perlu dikembangkan lagi,” ujarnya.

Pendekatan biologis tersebut juga diterapkan pada pengolahan red mud, residu dari proses pengolahan bauksit menjadi alumina yang masih mengandung besi. Karena ukuran partikelnya sangat halus, tim mengembangkan bioflokulasi agar partikel dapat membentuk agregat dan lebih mudah dipisahkan.

Red mud dapat dimanfaatkan sebagai sumber mineral besi sekunder. Dengan kondisi tertentu, proses bioflokulasi dapat menghasilkan floc dengan kadar besi yang dapat digunakan sebagai umpan untuk proses ekstraksi besi,” katanya.

Menurut Prof. Edy, penelitian ini menunjukkan bahwa residu industri masih memiliki potensi untuk diolah kembali sebagai sumber daya sekunder, sekaligus membuka peluang bagi proses pengolahan mineral yang lebih sirkular dan berkelanjutan.

Pemulihan Logam dan Sirkularitas Industri Metalurgi

Prof. Edy juga menyoroti potensi printed circuit board atau PCB dari limbah elektronik sebagai sumber sekunder yang masih mengandung logam berharga, termasuk tembaga. Timnya mengembangkan proses pemisahan melalui dismantling, shredding, pengayakan, pemisahan magnetik dan elektrostatik, hingga konsentrasi menggunakan shaking table untuk menghasilkan material yang dapat diteruskan ke tahap ekstraksi.

Menurutnya, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa sumber logam tidak lagi hanya berasal dari tambang, tetapi juga dari limbah elektronik, residu, dan tailing. Karena itu, sirkularitas industri metalurgi membutuhkan keterlibatan seluruh rantai, mulai dari geologi, pertambangan, pengolahan mineral, ekstraksi, pemaduan, hingga pemanfaatan produk.

“Sirkularitas dan keberlanjutan produksi logam dan paduannya tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh semua bagian yang terlibat,” tuturnya.

Prof. Edy menambahkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks karena karakter mineral yang beragam, ukuran partikel yang sangat halus, serta keterikatan antarmineral yang semakin rumit. Kondisi tersebut membuat pengembangan teknologi pengolahan mineral tetap memiliki ruang yang luas.

“Tantangan teknologi ke depan dari sisi pengolahan mineral berkaitan dengan karakteristik mineralogi bahan galian maupun sumber daya sekunder, ukuran mineral yang sangat halus, serta ikatan fisik mineral yang semakin kompleks. Dengan demikian, masih akan ada ruang untuk terus berkembang,” ujarnya.

Profil Prof. Ir. Edy Sanwani

Prof. Ir. Edy Sanwani, M.T., Ph.D., lahir di Sampang pada 18 Februari 1968. Ia merupakan Guru Besar Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, dengan fokus kepakaran pada pengolahan mineral dan sumber sekunder. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Metalurgi di ITB pada 1992, Magister Rekayasa Pertambangan bidang Teknologi Pemanfaatan Batubara pada 1997, serta Ph.D. di Julius Kruttschnitt Mineral Research Centre, The University of Queensland, Australia, pada 2006. Pada 2020, ia menyelesaikan Program Profesi Insinyur di ITB.

Karier akademiknya di ITB dimulai pada 1992. Dalam perjalanannya, Prof. Edy pernah menjabat sebagai Kepala Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, Ketua Program Studi Teknik Metalurgi, Ketua Program Studi Magister Teknik Metalurgi, serta Ketua Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi FTTM ITB. Ia meraih jabatan Guru Besar pada 2024. Kegiatan pendidikan dan penelitiannya mencakup pengolahan mineral, batubara, tailing, residu, slag, limbah elektronik, bioflotasi, bioflokulasi, serta pemulihan logam dari sumber sekunder. Prof. Edy telah membimbing lebih dari seratus mahasiswa sarjana serta puluhan mahasiswa magister dan doktor, sekaligus menghasilkan berbagai publikasi dan penelitian bersama pemerintah maupun industri, termasuk PT Aneka Tambang Tbk., PT Timah Tbk., PT Freeport Indonesia, dan PT Bukit Asam Tbk.

Atas kiprahnya, ia menerima sejumlah penghargaan, antara lain Satyalancana Karya Satya 10, 20, dan 30 Tahun, penghargaan pengabdian 25 tahun dari ITB, BIG MIND Innovation Award, serta Best Poster Award pada International Biohydrometallurgy Symposium 2015. Ia juga memiliki sertifikasi Insinyur Profesional Utama, Sertifikat Insinyur, dan Sertifikat Pendidik. Bagi Prof. Edy, pengolahan mineral tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya primer, tetapi juga dengan kemampuan mengolah kembali material sisa agar industri metalurgi semakin sirkular dan berkelanjutan.

#itb berdampak #kampus berdampak #itb4impact #diktisaintek berdampak #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg13 #climate action #orasi ilmiah #itb #forum guru besar #guru besar itb #teknik sipil dan lingkungan #infrastruktur tahan gempa #rekayasa struktur #inovasi material #riset infrastruktur #penelitian itb #itb berdampak