Orasi Ilmiah Prof. Katharina Oginawati Tekankan Pentingnya Mitigasi Risiko Lingkungan untuk Kesehatan Masyarakat
Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Prof. Dr. Ir. Katharina Oginawati, M.S. dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan sebagai Strategi Mitigasi Risiko dalam Mendukung SDGs 2030", Orasi Ilmiah Guru Besar, yang digelar Forum Guru Besar FGB ITB, di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Sabtu (9/5/2026).
Dalam orasinya, Prof. Katharina menekankan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan. Menurutnya, peningkatan populasi dan aktivitas manusia telah memicu berbagai perubahan kualitas lingkungan, mulai dari pencemaran udara, pencemaran air, hingga kerusakan lingkungan yang berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
“Lingkungan dan manusia merupakan satu kesatuan ekosistem. Ketika kualitas lingkungan menurun, maka kesehatan manusia juga akan terdampak,” ujarnya.
Pencemaran Udara dan Risiko Kesehatan Global
Prof. Katharina menjelaskan bahwa pencemaran udara saat ini menjadi salah satu determinan kesehatan global yang paling signifikan. Pertumbuhan penduduk dunia yang terus meningkat turut mendorong bertambahnya aktivitas permukiman, perubahan tata guna lahan, hingga peningkatan emisi pencemar udara.
Ia mengaitkan isu tersebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya tujuan mengenai kesehatan dan kesejahteraan serta aksi terhadap perubahan iklim.
“Perubahan kualitas lingkungan harus menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan pembangunan berkelanjutan dan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Dalam orasi tersebut, Prof. Katharina juga memaparkan konsep Environmental Health Risk Assessment (EHRA) sebagai pendekatan sistematis untuk memahami dampak bahaya lingkungan terhadap kesehatan manusia. Pendekatan tersebut meliputi evaluasi pajanan, dosis-respons, karakterisasi risiko, hingga manajemen risiko.
Penelitian Pajanan Partikulat dan Logam Berat
.jpg)
Sebagai bagian dari risetnya, Prof. Katharina bersama tim melakukan berbagai penelitian terkait pajanan partikulat dan zat toksik di lingkungan kerja. Salah satu studi dilakukan pada industri pandai besi di kawasan Ciwidey, Bandung Selatan.
Penelitian tersebut menemukan adanya konsentrasi ultrafine particle dan logam berat seperti mangan, timbal, kromium, serta arsen di lingkungan kerja para pekerja pandai besi. Menurutnya, partikel berukuran sangat halus tersebut berpotensi masuk hingga ke alveoli paru-paru dan pembuluh darah manusia.
“Partikel ultrafine menjadi perhatian karena dapat masuk lebih dalam ke sistem pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa minimnya alat pelindung diri (APD) di lingkungan kerja informal menjadi tantangan serius dalam perlindungan kesehatan pekerja. Pajanan jangka panjang terhadap partikulat dan logam berat berisiko menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, hingga penurunan fungsi paru.
Selain pada industri pandai besi, kajian pajanan pencemar juga dilakukan di kawasan TPA Sarimukti dengan membagi lokasi berdasarkan zona penimbunan dan titik aktivitas, seperti area pekerja, operasional, serta pemukiman warga atau pemulung.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa benzena lebih tinggi pada area operasional dan pemukiman sekitar TPA, amonia masih relatif di bawah ambang batas, sedangkan PM2.5 melebihi ambang batas di seluruh titik pengamatan. Kondisi ini menunjukkan perlunya pemantauan kualitas udara, penggunaan APD, dan pengendalian pajanan bagi pekerja maupun masyarakat sekitar.
Dampak Pajanan Pestisida dan Pentingnya Mitigasi Risiko
Dalam penelitiannya terkait pestisida di wilayah Bandung Selatan, Prof. Katharina menemukan indikasi penurunan kualitas sperma pada petani penyemprot pestisida akibat pajanan bahan kimia tertentu seperti organofosfat dan karbamat.
Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak pencemaran lingkungan tidak hanya berkaitan dengan penyakit pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi sistem reproduksi manusia.
“Penggunaan bahan kimia berbahaya harus diikuti dengan pengelolaan risiko yang baik agar tidak menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan sistem pemantauan kualitas udara berbasis Internet of Things (IoT), integrasi data lingkungan, serta sistem peringatan dini sebagai bagian dari mitigasi risiko berbasis teknologi dan sains.
Inovasi Teknologi dan Kolaborasi untuk Kesehatan Lingkungan
Selain fokus pada penelitian pajanan lingkungan, Prof. Katharina bersama tim juga mengembangkan filter sederhana berbahan daur ulang untuk membantu pengukuran partikulat dan zat pencemar di lingkungan.
Menurutnya, inovasi teknologi yang sederhana tetapi aplikatif dapat menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi multidisiplin antara peneliti, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan kesehatan lingkungan.
Mengutip tema World Health Day 2026, “Together for Health: Stand with Science”, Prof. Katharina menegaskan bahwa sains, penelitian, dan kolaborasi merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kesehatan global dan keselamatan lingkungan.
“Bukti ilmiah dan kolaborasi harus menjadi dasar dalam membangun kesehatan masyarakat dan lingkungan yang lebih baik,” tuturnya.
Profil Prof. Dr. Ir. Katharina Oginawati, M.S.
Prof. Dr. Ir. Katharina Oginawati, M.S. merupakan Guru Besar dalam bidang Ilmu Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan pada Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Beliau lahir di Bandung pada 10 Maret 1962 dan menempuh pendidikan dari jenjang dasar hingga doktoral di Bandung. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana, magister, dan doktor di Program Studi Teknik Lingkungan ITB.
Sejak tahun 1995, Prof. Katharina aktif sebagai dosen di Teknik Lingkungan FTSL ITB. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Workshop Teknik Lingkungan, Kepala Subdirektorat Implementasi di Direktorat Pengembangan ITB, serta Kepala Laboratorium Higiene Industri dan Toksikologi FTSL ITB. Dalam bidang pendidikan, beliau telah membimbing lebih dari 100 mahasiswa sarjana, puluhan mahasiswa magister, serta mahasiswa doktoral. Ia juga aktif mengajar berbagai mata kuliah seperti kesehatan lingkungan, epidemiologi lingkungan, toksikologi lingkungan, kesehatan lingkungan kerja, produksi bersih, dan sistem manajemen lingkungan.
Bidang riset Prof. Katharina berfokus pada kesehatan lingkungan, analisis risiko kesehatan akibat pajanan pencemar, toksikologi lingkungan, serta pengelolaan kualitas udara. Berbagai penelitian yang dipimpinnya antara lain terkait risiko pajanan pestisida pada petani, analisis logam berat pada masyarakat DAS Citarum, distribusi emisi udara di tempat pemrosesan akhir sampah, hingga studi biomarker kesehatan lingkungan.
Selain aktif dalam penelitian, beliau juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, termasuk program penyediaan air bersih dan sanitasi di Nusa Tenggara Timur. Prof. Katharina juga menjalin kolaborasi penelitian dengan berbagai institusi nasional dan internasional seperti Kyoto University, Kanazawa University, dan sejumlah institusi kesehatan serta lingkungan di Indonesia.
Selama karier akademiknya, Prof. Katharina telah menghasilkan berbagai buku dan publikasi ilmiah internasional di bidang kesehatan lingkungan dan toksikologi. Beberapa topik penelitiannya mencakup pencemaran logam berat, mikroplastik, kualitas udara, pajanan partikulat, hingga risiko kesehatan masyarakat akibat pencemaran lingkungan.
Atas dedikasinya dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, beliau menerima berbagai penghargaan, di antaranya Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dan 20 Tahun dari Presiden Republik Indonesia, penghargaan pengabdian 25 tahun dari Rektor ITB, serta berbagai sertifikasi profesi di bidang teknik lingkungan dan AMDAL.



.jpeg)

