ITB Cyber Clinic, Ruang Kolaborasi Keamanan dan Ketahanan Siber untuk UMKM
Oleh Anggun Nindita
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) bekerja sama dengan The Asia Foundation menyelenggarakan ITB Cyber Clinic LaunchFest pada Senin (25/5/2026) di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha. Kegiatan ini menjadi momentum peluncuran ITB Cyber Clinic, sebuah inisiatif untuk memperkuat ketahanan keamanan siber dan mendukung transformasi digital yang aman bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Program strategis ini didukung oleh inisiatif global APAC Cybersecurity Fund dari Google.org dan dirancang untuk menjawab tantangan meningkatnya risiko keamanan digital di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital Indonesia.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menyampaikan bahwa perkembangan Kota Bandung, termasuk sektor UMKM dan ekonomi digitalnya, berlangsung sangat cepat. Namun, perkembangan tersebut juga diikuti dengan meningkatnya ancaman keamanan siber yang kini tidak hanya dialami industri besar, tetapi juga pelaku UMKM.
“Masalah yang dahulu banyak terjadi di industri tertentu, sekarang mulai dialami UMKM, mulai dari phishing, peretasan data, dan berbagai ancaman digital lainnya. Hal ini dapat berdampak serius terhadap perekonomian,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keamanan siber membutuhkan pendekatan multidisiplin karena berkaitan erat dengan aspek sosial dan kemanusiaan.
“Isu keamanan siber bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan empati sosial dan humaniora. Di balik tantangan tersebut, terdapat peluang besar bagi mahasiswa untuk berkontribusi membantu UMKM menghadapi persoalan keamanan digital sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di Bandung dan Jawa Barat,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menekankan pentingnya mitigasi risiko di tengah pesatnya transformasi digital.
“Peningkatan pemahaman masyarakat terhadap risiko digital, khususnya terkait perlindungan data pribadi, menjadi penting agar transformasi digital dapat benar-benar menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Ia juga menilai penguatan literasi digital masyarakat menjadi langkah strategis untuk mendukung perkembangan ekonomi Kota Bandung yang terus bertumbuh.

Dekan STEI ITB, Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., IPU., mengatakan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang kini semakin aktif di ruang digital. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran terhadap keamanan siber menjadi kebutuhan penting.
“Ancaman keamanan siber dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar, bahkan berdampak terhadap ekonomi suatu negara. Melalui Cyber Clinic ini, kami berharap dapat memberikan coaching clinic dan pendampingan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM di era digital,” ujarnya.

Perwakilan The Asia Foundation, Hana A Satriyo, mengapresiasi kolaborasi yang terbangun bersama ITB dan berbagai mitra dalam menghadirkan Cyber Clinic.
Ia menjelaskan bahwa The Asia Foundation telah bekerja di 17 negara sejak 1955 untuk mendukung pembangunan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Menurutnya, isu keamanan siber kini menjadi tantangan penting dalam transformasi digital global.
“Kehadiran Cybersecurity Clinic menjadi bentuk kolaborasi nyata antara kampus dan masyarakat. Bukan hanya membangun kapasitas teknis, tetapi juga mempersiapkan talenta yang siap menghadapi ekosistem digital masa depan,” ujarnya.
Ia berharap inisiatif ini tidak hanya memberikan dampak di Indonesia, tetapi juga dapat berkembang secara regional hingga global dalam mendukung terciptanya ekosistem digital yang aman dan inklusif.
Dalam sesi talkshow, sejumlah narasumber memaparkan kondisi keamanan digital UMKM di Indonesia. Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan, menyebut ekonomi digital Indonesia diprediksi mencapai nilai 200–360 miliar dolar AS pada tahun 2030. Namun, tingginya adopsi teknologi belum sepenuhnya diimbangi kesiapan keamanan digital.
Deputi Direktur Departemen Pelindungan Konsumen OJK, Dahnial Apriyadi, menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam aspek keamanan digital. Sementara itu, perwakilan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Rio Yunita Pratama, menyampaikan bahwa sebagian besar UMKM masih berada dalam kategori keamanan digital yang kurang baik.
Melalui program Cyber Clinic, ITB menargetkan pelatihan bagi 100 mahasiswa pilihan untuk memperoleh keterampilan teknis keamanan siber (cyber hygiene) sekaligus kemampuan sosial (soft skills). Para mahasiswa tersebut nantinya akan memberikan layanan pendampingan secara gratis kepada sekitar 200 UMKM digital.
Layanan yang diberikan mencakup audit keamanan dasar (risk assessment), pelatihan kesadaran keamanan siber, hingga bantuan teknis pengamanan infrastruktur dan perangkat digital bisnis.
Ketua Program Cyber Clinic ITB, Muhammad Zuhri Catur Candra, mengatakan bahwa program ini diharapkan dapat membangun komunitas yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan keamanan digital.
“Kerja sama antara ITB dan The Asia Foundation tidak hanya memiliki dampak lokal, tetapi juga cakupan regional bahkan global,” ujarnya.
Peluncuran ini sekaligus menandai mulai beroperasinya Cybersecurity Hub ITB yang berada di Gedung Cyber Security Research and Development Center Kampus Jatinangor serta fasilitas konsultasi di Labtek VIII Kampus Ganesha. Ke depan, inisiatif tersebut juga akan terintegrasi dalam APAC Cybersecurity Clinics Consortium sebagai bagian dari penguatan kolaborasi keamanan siber tingkat Asia Pasifik.
Melalui kolaborasi ini, ITB bersama para mitra berharap dapat mencetak talenta unggul di bidang keamanan siber sekaligus memastikan manfaat ekonomi digital dapat dirasakan secara aman dan berkelanjutan oleh seluruh lapisan masyarakat.


.jpeg)
.jpg)


