Pancasila sebagai Kompas Moral di Tengah Arus Disrupsi: Kuliah Umum Bersama Mayjen TNI M. Imam Gogor di ITB Jatinangor

Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Teknik Pangan, 2021

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

JATINANGOR, itb.ac.id – Direktorat Persiapan Bersama (Ditsama) ITB menggelar Kuliah Umum Pancasila (WI1101) bertajuk "Pancasila sebagai Arsitektur Nilai Bangsa di Era Disrupsi", Jumat (24/4/2026) dengan narasumber Mayjen (TNI) M. Imam Gogor A. A., S.I.P., M.Han., Kepala SMA Taruna Nusantara Magelang. Acara ini digelar secara luring di GKU 2 ITB Kampus Jatinangor dan daring melalui platform Zoom serta YouTube dan diikuti lebih dari 2.500 mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) Angkatan 2025.

Pancasila Bukan Sekadar Dokumen, Melainkan Fondasi Hidup

Direktur Ditsama ITB, Prof. Dr. Fatimah Arifatino, S.Si., M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa di era ketika teknologi berkembang tanpa batas, arah bangsa kerap dipertanyakan.

"Pancasila bukan hanya sekadar simbol atau dokumen, tetapi pondasi hidup dan arsitektur nilai yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Pancasila menjaga agar kemajuan tetap berpijak pada kemanusiaan," ujar Prof. Fatimah.

Acara dibuka dengan khidmat melalui pembacaan komitmen nilai mahasiswa ITB, yang menegaskan janji mahasiswa untuk menjunjung tinggi kejujuran akademik, integritas, dan etika baik di dalam maupun di luar kampus.

Menghadapi Sisi Lain Teknologi dengan Nilai Kebangsaan


Dalam paparannya, Mayjen TNI M. Imam Gogor membagikan refleksinya selama 26 tahun mengabdi di berbagai pelosok negeri, mulai dari Merauke hingga Aceh. Ia menyoroti bahwa teknologi, termasuk AI, tidaklah netral melainkan membawa nilai dan tanggung jawab moral dari penggunanya.

Beliau membedah relevansi lima sila Pancasila dalam menghadapi empat tantangan utama abad ke-21:

1. Etika Teknologi & AI: Sila pertama dan kedua menjadi pagar untuk menjaga martabat manusia agar tidak terjebak dalam "ikhlas moral" akibat algoritma yang tidak bertanggung jawab.

2. Ekonomi Digital & Ketimpangan: Sila kelima menekankan bahwa inovasi ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan segelir pihak, tetapi harus menjamin keadilan sosial hingga ke pelosok desa.

3. Polarisasi Media Sosial: Sila ketiga menjadi solusi atas fenomena filter bubble dan echo chamber yang sering memicu konflik sosial di dunia maya.

4. Demokrasi Digital: Sila keempat mengingatkan bahwa keputusan harus diambil melalui hikmat kebijaksanaan dan musyawarah, bukan sekadar berdasarkan tekanan viralitas media sosial.

Mahasiswa sebagai Arsitek Masa Depan

Mayjen Gogor mengajak mahasiswa ITB untuk tidak sekadar menghafal Pancasila, melainkan menjadikannya sebagai instrumen dalam pengambilan keputusan. Beliau mengingatkan bahwa kepintaran tanpa integritas dan etika sangatlah berbahaya bagi bangsa.

"Kalian adalah calon pemimpin masa depan. Pertanyaannya, apakah kalian akan membangun bangsa ini dengan arsitektur nilai yang benar?" ujarnya.

#kuliah umum #itb jatinangor #itb kampus jatinangor