Prof. Stella Christie Soroti Tantangan AI: Dari Bubble Ekonomi hingga Keberlanjutan Perguruan Tinggi
Oleh Jekky - Mahasiswa Teknik Pertambangan, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) berlangsung begitu pesat dan mulai memengaruhi berbagai bidang kehidupan. Namun, di balik peluang besar yang ditawarkan teknologi tersebut, muncul pertanyaan penting mengenai dampak ekonomi, lingkungan, hingga masa depan perguruan tinggi.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, dalam keynote speech pada AI Indonesia Initiative Forum (AIIF) 2026 bertema “Aksi AI untuk Transformasi Indonesia Cerdas”. Dalam paparannya, Prof. Stella mengajak peserta melihat perkembangan AI secara lebih kritis, termasuk mempertanyakan apakah pertumbuhan AI saat ini sedang membentuk sebuah bubble ekonomi dan seberapa besar biaya yang harus ditanggung untuk menopang ambisi tersebut.
Apakah AI Sedang Membentuk Bubble?
Prof. Stella membuka paparannya dengan mengajak peserta melihat kembali sejumlah fenomena ekonomi dalam sejarah, seperti tulip mania di Belanda pada abad ke-17 dan dotcom bubble. Menurutnya, fenomena bubble dapat dikenali ketika hampir semua persoalan dari berbagai bidang seolah memiliki satu jawaban yang sama.
“Bagaimana menyembuhkan kanker? AI. Bagaimana membuktikan teorema matematika? AI. Bagaimana meningkatkan keuntungan perusahaan? AI. Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan? AI,” paparnya.
Menurut Prof. Stella, jawaban tersebut tidak serta-merta keliru. Namun, kecenderungan untuk menjadikan AI sebagai jawaban atas hampir semua persoalan perlu dicermati sebagai sebuah tanda peringatan.
Biaya Lingkungan di Balik Perkembangan AI
Selain persoalan ekonomi, Prof. Stella menyoroti aspek lain yang menurutnya belum banyak dibicarakan dalam diskusi mengenai AI, yaitu kebutuhan energi dan air untuk menjalankan sistem AI.
Ia memaparkan bahwa pada 2025, konsumsi energi AI diperkirakan setara dengan konsumsi energi seluruh penduduk Latvia selama satu tahun. Kebutuhan tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga setara dengan konsumsi energi Italia pada 2028 dan Inggris Raya pada 2029.
“Pada 2030, tidak ada lagi negara Eropa yang konsumsi energinya bisa menandingi AI. Tahun 2030 kita harus ke Kanada,” ujarnya.
Selain energi, kebutuhan air untuk mendukung infrastruktur AI juga menjadi perhatian. Prof. Stella menyebut ChatGPT-4 telah menggunakan air bersih dalam jumlah yang menurut perhitungannya setara dengan kebutuhan 1,2 juta orang selama satu tahun. Jumlah tersebut, menurutnya, setara dengan kebutuhan air sekitar 50 rumah sakit besar dan 325 universitas di Amerika Serikat.
“Kalau untuk hal-hal yang sederhana saja sudah demikian banyaknya air minum yang lenyap dari bumi ini, akan seberapa banyak jika AI sungguh-sungguh menyembuhkan kanker?” tegasnya.
Tiga Pilar Perguruan Tinggi di Era AI
Di tengah perkembangan AI tersebut, Prof. Stella memberikan perhatian khusus pada peran perguruan tinggi. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi perlu menemukan modus operandi baru yang bertumpu pada tiga hal, yaitu creation of knowledge, transmission of knowledge, dan curation of knowledge atau penciptaan, transmisi, dan kurasi pengetahuan.
Pada pilar pertama, creation of knowledge, Prof. Stella mendorong perguruan tinggi untuk memperjelas kembali peran manusia dalam menciptakan pengetahuan. Hal ini menjadi penting karena AI kini juga mampu menghasilkan berbagai bentuk pengetahuan baru.
“Kita tidak bisa hanya berdiri di tengah dan bilang dua-duanya. Kita harus tahu manusianya akan yang mana, AI-nya akan yang mana,” ujar Prof. Stella.
Sementara itu, pada pilar transmission of knowledge, ia mempertanyakan kembali tujuan penyampaian pengetahuan di tengah kemudahan akses terhadap informasi. Saat ini, berbagai fakta dapat ditemukan hanya dengan satu klik. Karena itu, perguruan tinggi perlu menentukan kembali pengetahuan seperti apa yang penting untuk ditransmisikan.
Pengetahuan tersebut dapat diarahkan untuk mendukung kemajuan teknologi, mengendalikan penggunaan AI, mengembangkan kapasitas manusia, maupun melestarikan pengetahuan yang mulai ditinggalkan tetapi tetap memiliki nilai.
Prof. Stella mencontohkan batik tulis. Batik tulis tetap memiliki nilai yang tinggi bukan semata-mata karena hasil akhirnya, tetapi juga karena proses dan keterlibatan manusia di dalam pembuatannya.
Adapun curation of knowledge disebut Prof. Stella sebagai pilar yang paling jarang dibicarakan, tetapi justru sangat penting. Kurasi pengetahuan berkaitan dengan kemampuan manusia untuk menentukan fakta dan fenomena mana yang benar-benar penting dan relevan untuk diketahui oleh peradaban.
“Pengetahuan bukanlah daftar dari semua fakta yang ada di dunia. Ia adalah kurasi dari fakta-fakta dan fenomena yang menurut kita menarik dan berguna untuk diketahui,” ujarnya.
Ia mencontohkan rumus E = mc² yang diperkenalkan Albert Einstein. Rumus tersebut bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan hasil dari proses menemukan dan mengkurasi berbagai pola dalam fenomena fisika.
Menutup paparannya, Prof. Stella mengakui bahwa berbagai pertanyaan mengenai perkembangan AI tersebut belum memiliki satu jawaban tunggal. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut justru perlu menjadi awal dari diskusi lebih lanjut, khususnya bagi perguruan tinggi.
“Ini adalah suatu permulaan diskusi. Pertanyaan yang paling inti buat kita adalah bagaimana universitas akan tetap bisa berkelanjutan di tengah era Artificial Intelligence,” pungkasnya.
.jpg)

.jpeg)




