Tim Mahasiswa ITB Manfaatkan Food Loss Jadi Produk Pangan Bernilai Tambah
Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id — Tim NGEBUL dari mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), meraih juara 3 dalam Food Product Development Competition (FPDC) 2026, kompetisi pengembangan produk pangan yang berkolaborasi dengan Food Ingredients Asia (Fi Asia). Prestasi tersebut diraih melalui inovasi POWER PUFF, sereal sarapan berisi (filled breakfast cereal) yang memanfaatkan komoditas food loss Indonesia untuk mendukung kesehatan pencern
Tim NGEBUL beranggotakan Nesha Thalia Azzahra Ginting, Herawaty Marito Purba, Azka Nurawwali Sakhiyyah, Nadifa Rhoosan, dan Kamila Aulia Zahra. Mereka mengikuti babak final FPDC 2026 yang digelar dalam rangkaian pameran di JIEXPO, Jakarta, 16–18 September 2026.
Ajang tersebut mempertemukan peserta dengan praktisi dan pelaku industri pangan. Selain mempresentasikan inovasi di hadapan juri, para finalis berkesempatan memperkenalkan produk secara langsung kepada pengunjung dan memperoleh masukan untuk pengembangan produk.
Mengangkat Bahan yang Jarang Dilirik

POWER PUFF memanfaatkan tiga bahan food loss, yakni pisang hijau yang tidak memenuhi standar tampilan dan ampas tomat sebagai filling, serta beras menir sebagai shell. Menurut Herawaty, bahan-bahan tersebut dipilih karena pemanfaatannya dalam produk pangan masih terbatas, meski memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional.
Tim memilih bentuk sereal sarapan karena praktis dan dekat dengan pola konsumsi sehari-hari. Inovasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengolah food loss menjadi produk pangan, tetapi juga menghasilkan makanan yang bernutrisi, praktis, enak, dan memiliki manfaat fungsional.
“Karena sarapan merupakan bagian dari pola makan sehari-hari, kami ingin membuat solusi yang praktis,” ujar Herawaty.
Pengembangan POWER PUFF melalui serangkaian percobaan untuk mendapatkan formulasi yang tepat. Nesha mengatakan, salah satu tantangan terbesar adalah menemukan keseimbangan antara kandungan gizi, tekstur, rasa, dan karakter produk.
“Ada beberapa tahap ketika kami merasa seperti ‘muter di situ-situ saja’, karena memperbaiki satu aspek justru membuat aspek lain ikut berubah,” katanya.
Tim kemudian kembali pada tujuan utama pengembangan produk dan menentukan parameter yang perlu dipertahankan. Percobaan dilakukan secara lebih sistematis dengan mengevaluasi setiap perubahan formulasi.
Menurut Nesha, perubahan cara pandang terhadap proses trial and error menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan POWER PUFF.
“Kami berhenti melihat trial and error sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses memahami produk kami sendiri,” tuturnya.
Formulasi POWER PUFF yang dibawa ke kompetisi akhirnya lahir dari berbagai penyempurnaan kecil yang dilakukan secara bertahap.
Pertanyaan Juri dan Suara Pengunjung
Dalam sesi tanya jawab, juri menyoroti proses shaping dan filling POWER PUFF yang belum menggunakan ekstruder. Nadifa menjelaskan, keterbatasan akses terhadap peralatan tersebut membuat proses pembentukan produk pada skala laboratorium masih dilakukan secara manual.
“Di skala lab sekarang kami belum punya akses ke ekstruder, jadi proses pembentukannya masih manual,” katanya.
Masukan tersebut menjadi catatan penting bagi tim untuk pengembangan pada skala yang lebih besar. Penggunaan ekstruder dinilai dapat membantu menjaga konsistensi produksi sekaligus menghasilkan proses puffing yang lebih optimal.
Respons positif juga datang dari pengunjung pameran. Sejumlah pengunjung menanyakan kemungkinan POWER PUFF dipasarkan. Salah seorang pengunjung yang bekerja di pusat kebugaran bahkan menilai produk tersebut berpotensi menjadi alternatif sarapan praktis bagi konsumen yang memperhatikan pola makan sehat.
Respons tersebut memberikan perspektif baru bagi tim mengenai potensi produknya di luar kompetisi. Tim pun mulai mempertimbangkan peluang pengembangan dan scale-up POWER PUFF, meski masih memerlukan kajian lebih lanjut terkait produksi dan sumber daya.
Pelajaran: Ternyata Bisa Dilewati

Bagi Azka, FPDC 2026 memberikan pengalaman bahwa berbagai tantangan dapat dihadapi melalui persiapan dan proses belajar yang konsisten. Tim sempat merasa kurang percaya diri, terutama karena presentasi dan sesi tanya jawab harus dilakukan dalam bahasa Inggris.
Namun, melalui diskusi, latihan, serta serangkaian trial and error, mereka berhasil menyelesaikan kompetisi hingga meraih podium.
“Kalau kita mau berusaha dan terus mencoba, hal yang awalnya terasa sulit pun bisa dilewati. Tentunya tidak lupa ditambah doa kepada Tuhan YME,” ujar Azka.
Kompetisi tersebut juga membuka kesempatan bagi anggota tim untuk bertemu dengan peserta lain, memperluas jejaring, serta memperoleh wawasan mengenai pengembangan produk pangan.
Ke depan, tim berharap POWER PUFF dapat terus dikembangkan ketika tersedia kesempatan, waktu, fasilitas, dan pendanaan yang mendukung.
“Kalau ke depannya ada kesempatan, waktu, dan dana yang lebih mendukung, kami ingin mengembangkan POWER PUFF lebih jauh supaya bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi orang banyak,” kata Azka.
Raihan juara 3 FPDC 2026 menunjukkan potensi pemanfaatan bahan pangan yang selama ini kurang termanfaatkan, seperti pisang hijau yang tidak memenuhi standar tampilan, ampas tomat, dan beras menir, menjadi produk pangan bernilai tambah. Bagi Tim NGEBUL, pencapaian tersebut sekaligus menjadi pengalaman untuk terus belajar dan mengembangkan inovasi di bidang pangan.



