ITB Gelar Halalbihalal 1447 H: Mempertahankan Nilai Keikhlasan, Integritas, Kebersamaan, serta Kerukunan
Oleh Anggun Nindita
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar kegiatan Halalbihalal 1447 Hijriah pada Senin (30/3/2026) di kawasan Boulevard–Aula Barat, ITB Kampus Ganesha. Mengusung tema “Mempertahankan Nilai Keikhlasan, Integritas, Kebersamaan, serta Kerukunan”, kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus merefleksikan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan akademik dan keseharian sivitas akademika.
Acara diawali dengan silaturahmi serta bersalam-salaman dari para jajaran pimpinan, sivitas akademika, dan seluruh keluarga besar ITB.

Dalam sambutannya, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyampaikan bahwa halalbihalal merupakan tradisi yang sarat makna dalam kehidupan bangsa Indonesia. Ia menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar pertemuan pasca-Idulfitri, melainkan kesempatan untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan mengingatkan satu sama lain untuk terus berbuat kebaikan.
“Setelah satu bulan menjalani ibadah puasa, kita dipertemukan kembali dalam suasana kebersamaan yang penuh makna. Semoga nilai-nilai yang kita peroleh selama Ramadan dapat terus kita bawa, termasuk dalam aktivitas kita di institusi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rektor menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai “madrasah kehidupan” yang membentuk karakter, seperti kesabaran, keikhlasan, disiplin, dan kepedulian. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun institusi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Kegiatan halalbihalal ini turut menghadirkan ceramah dari Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung, Prof. Dr. Ir. Harry Suhardiyanto, M.Sc., IPU. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh hadirin untuk menjaga ketakwaan yang telah dilatih selama Ramadan dan melanjutkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengutip makna dari Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183-185, khususnya terkait anjuran “mencukupkan bilangan”. Dalam hal ibadah puasa, hal tersebut dimaknai sebagai upaya menyempurnakan ikhtiar dan senantiasa mengagungkan Allah SWT dalam segala kondisi, termasuk saat menghadapi tantangan hidup.

“Ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah upaya memahami ciptaan Allah. Oleh karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin mengingatkan dirinya untuk tidak sombong,” ungkapnya.
Dalam ceramah tersebut, ia juga menyoroti pentingnya keikhlasan dalam berkarya. Menurutnya, keikhlasan berarti melakukan sesuatu tanpa perhitungan transaksional, melainkan dengan niat memberikan yang terbaik. Selain itu, integritas menjadi nilai penting yang harus diwujudkan melalui keselarasan antara ucapan dan tindakan, tanpa berlebihan dalam pencitraan.
Ia juga menekankan bahwa kemajuan tidak dapat dicapai secara individual, melainkan melalui kebersamaan yang kokoh. Beliau menggambarkan pentingnya membangun “barisan yang kuat” layaknya bangunan yang saling menguatkan, di mana setiap individu memiliki peran, termasuk yang bekerja tanpa sorotan.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, ia menggarisbawahi bahwa kerukunan hanya dapat terwujud jika dilandasi oleh keadilan. Nilai-nilai Pancasila, khususnya sila keempat, menurutnya menegaskan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan kebenaran dalam proses musyawarah.
Dia berharap seluruh sivitas akademika ITB dapat terus mengamalkan nilai keikhlasan, integritas, kebersamaan, dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk menjalankan nilai-nilai tersebut secara konsisten,”
.jpeg)




