Pengalaman Alumni Rekayasa Hayati ITB Raih Beasiswa MEXT ke Kobe University

Oleh Azka Zahara Firdausa - Rekayasa Hayati, 2022

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Hafidz Mabrur selama studi S2 di Kobe University.

JATINANGOR, itb.ac.id — Hafidz Mabrur, alumnus Rekayasa Hayati ITB angkatan 2020, membagikan pengalamannya memperoleh beasiswa MEXT untuk melanjutkan studi di Kobe University, Jumat (26/9/2025). Hafidz membagikan tips persiapan, pengalaman seleksi, hingga tantangan akademik yang ia hadapi selama proses menuju studi S2 di Jepang.

MEXT merupakan beasiswa yang diselenggarakan oleh pemerintah Jepang untuk mahasiswa internasional yang ingin kuliah di universitas Jepang. Jalur penerimaan beasiswa MEXT terbagi menjadi 2, yaitu jalur kedutaan (G to G) dan jalur rekomendasi universitas (U to U). Hafidz memilih jalur U to U karena saat itu ia baru menyelesaikan studi S1, sedangkan pendaftaran untuk jalur G to G baru dibuka pada bulan April tahun berikutnya.

Menurut Hafidz, kunci utama dalam mendaftar beasiswa MEXT adalah persiapan dokumen sejak dini, terutama sertifikat bahasa asing seperti TOEFL, IELTS, ataupun JLPT.

“Kalau bisa, sertifikat bahasa sudah ada sebelum lulus S1. Jadi ketika pendaftaran dibuka, kita tidak terburu-buru,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya riset calon kampus dan supervisor sejak awal, terutama profesor dan kampus yang sesuai dengan minat riset. Lalu, setelah menemukan supervisor yang sesuai, perlu segeramenghubunginya agar mendapat dukungan dalam mendapatkan beasiswa. Selain itu, perlu membuat research & study plan dengan topik spesifik, serta poin plus jika sesuai dengan publikasi jurnal penelitian calon supervisor.

Proses seleksi beasiswa, kata Hafidz, cukup panjang. Setelah seleksi berkas, pelamar harus melewati tahap wawancara atau presentasi rencana riset. Untuk itu, ia menyarankan mahasiswa mulai “mencicil” persiapan, misalnya memperbaiki kemampuan bahasa Inggris maupun bahasa Jepang sejak dini. Persiapan ini telah ia lakukan jauh sebelum memasuki semester akhir, sehingga ketika tiba waktunya mengerjakan tugas akhir dan mendaftar beasiswa S2, ia tidak merasa terbebani.

Kegiatan kampus di Kobe University.

Di Kobe University, Hafidz bergabung dalam bidang riset biochemical engineering. Ia mengaku, bekal dari Rekayasa Hayati ITB sudah cukup kuat dari sisi teori, mulai dari sistem biorefineri, teknik fermentasi hingga biokimia. Namun, ada tantangan baru di level S2, yaitu keterampilan praktis mengoperasikan instrumen.

“Kalau di S1 biasanya kita tidak mengoperasikan langsung peralatan seperti HPLC, dll, melainkan ada laboran yang mengerjakannya. Di sini, kita dituntut untuk lebih mandiri. Lulusan Jepang rata-rata sudah terbiasa, jadi kita harus cepat menyesuaikan diri,” ujarnya.

Hafidz berpesan agar mahasiswa tidak ragu untuk mempersiapkan beasiswa sejak dini.

“Cari informasi dari senior atau komunitas beasiswa, siapkan dokumen lebih awal, dan jangan takut mencoba. Kesempatan akan lebih besar bagi mereka yang benar-benar siap,” ujarnya.

#itb #rekayasa hayati itb #alumni itb #kobe university #tips beasiswa #pendidikan global #mahasiswa itb #sdg4 #quality education #sdg8 #decent work and economic growth #sdg17 #partnerships for the goals