Perkuat Mitigasi Gempa: Dosen ITB Laksanakan Pengabdian Masyarakat di Pulau Madu dan Pulau Karumpa
Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Gabriella Alodia, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen Kelompok Keahlian Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Pulau Madu dan Pulau Karumpa, Kepulauan Selayar, pada awal September 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program DPMK ITB melalui skema 3T, yang ditujukan untuk mendukung edukasi kebencanaan di wilayah tertinggal.
Pulau Madu dan Pulau Karumpa dipilih karena lokasinya berada sangat dekat dengan sumber gempa M7,3 yang terjadi pada 2021. Meski empat tahun telah berlalu, jejak ketakutan dan keterbatasan akses bantuan masih terasa di dua pulau kecil tersebut. Melihat kondisi itu, tim ITB berupaya mendorong peningkatan literasi kebencanaan dan menyediakan dasar pemetaan untuk rencana mitigasi ke depan.
“Masyarakat di sini masih menyimpan ingatan kuat tentang guncangan besar itu, sehingga kebutuhan akan edukasi dan kesiapsiagaan menjadi sangat mendesak,” ujarnya.
Edukasi Kebencanaan dan Pemetaan Drone
.jpg)
Selama tiga hari kegiatan di lapangan, tim melakukan edukasi gempa bumi kepada siswa SD, SMP, serta kelompok ibu-ibu. Pendekatan dilakukan melalui aktivitas interaktif seperti mewarnai, permainan sederhana, hingga diskusi santai yang membantu membangun kedekatan dan mengurangi kecemasan masyarakat terkait gempa.
Di sisi teknis, tim juga melakukan pemotretan udara menggunakan drone untuk menghasilkan peta dasar Pulau Madu dan Pulau Karumpa. Peta ini akan menjadi landasan awal dalam penentuan jalur evakuasi dan area aman, sekaligus mendukung penyusunan program ketangguhan bencana di masa mendatang.
“Pulau-pulau kecil ini berada paling dekat dengan sumber gempa 2021. Pemetaan diperlukan agar perencanaan evakuasi lebih jelas dan dapat dipahami masyarakat,” ujarnya.
.jpg)
Tantangan Akses dan Koordinasi
Akses menuju kedua pulau tidak mudah karena hanya dapat ditempuh dengan kapal kayu, sehingga mobilisasi tim menjadi cukup menantang. Koordinasi lintas lembaga juga membutuhkan penyesuaian, mengingat tim terdiri dari berbagai unsur: ITB, komunitas lokal Rumah Baca Saku, Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, serta kolaborator dari Universitas Brawijaya.
Meski demikian, kegiatan berjalan lancar berkat dukungan masyarakat dan pendekatan budaya yang difasilitasi pendamping lokal. Perbedaan karakter sosial antara Pulau Madu dan Pulau Karumpa memberikan wawasan penting bagi tim mengenai pola komunikasi yang lebih efektif.
“Setiap pulau punya dinamika dan cara berinteraksi yang berbeda, jadi kami harus belajar mengikuti alurnya,” ungkapnya.
Kolaborasi Lintas Bidang yang Terbentuk Secara Organik
Program ini juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas keilmuan dapat tumbuh secara alami. Kerja sama antara ITB dan Universitas Brawijaya berawal dari diskusi ringan mengenai kerangka Sendai Framework, sementara kolaborasi dengan FSRD ITB muncul melalui pengembangan materi edukasi visual dan buku pop-up gempa.
“Tidak ada yang direncanakan sejak awal, tetapi diskusi-diskusi kecil justru membuka peluang kolaborasi yang lebih luas,” katanya.
Harapan untuk Program Keberlanjutan
Ke depan, tim berharap kegiatan ini dapat berkembang menjadi program berkelanjutan yang semakin bermanfaat bagi masyarakat. Rencana lanjutan mencakup simulasi gempa yang aman bagi anak, peningkatan pemahaman risiko, serta pemanfaatan hasil pemetaan untuk perencanaan desa.
Melalui langkah ini, ITB diharapkan dapat terus memperkuat literasi kebencanaan di wilayah kepulauan yang rentan dan membangun kerja sama jangka panjang untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat.




.jpg)


