Mahasiswa ITB Edukasi Warga Subang Olah Limbah Jadi Pupuk Organik untuk Pertanian Berkelanjutan
Oleh Azka Zahara Firdausa - Rekayasa Hayati, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
SUBANG, itb.ac.id — Mahasiswa dari HIMAREKTA “Agrapana” dan HIMABIO “Nymphaea” ITB berkolaborasi melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, melalui edukasi pembuatan biopestisida dan pupuk organik cair (POC). Kegiatan ini berfokus pada pemanfaatan limbah dan bahan alami sebagai alternatif pupuk kimia sekaligus mendorong penerapan pertanian organik yang lebih berkelanjutan di tingkat desa.
Program yang berlangsung selama dua hari ini mendapat dukungan dari Ikatan Alumni SITH (IA SITH) melalui bantuan pendanaan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada Sabtu–Minggu (29–30/11/2025) dengan pendekatan edukatif dan praktik langsung bersama masyarakat.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan pemaparan materi mengenai pembuatan biopestisida yang disampaikan oleh Akhmad Varian Farros (Biologi, 2022). Masyarakat diperkenalkan pada pentingnya penggunaan input pertanian ramah lingkungan untuk menjaga kesuburan tanah dan kesehatan tanaman dalam jangka panjang.
Materi selanjutnya disampaikan Mutiara Wilasari dan Sabrina Naifah (Rekayasa Pertanian, 2023) mengenai pembuatan pupuk organik cair (POC). POC dibuat melalui proses fermentasi bahan organik dengan air, molase, dan EM4 selama 14–21 hari hingga menghasilkan cairan berwarna cokelat gelap dengan aroma asam-manis. Pupuk ini berfungsi meningkatkan kesuburan tanah, memperkuat tanaman, menekan biaya produksi, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan biopestisida secara langsung.

Kegiatan pada hari kedua, Minggu (30/11/2025), difokuskan pada praktik pembuatan pupuk organik cair bersama masyarakat. Peserta terlibat aktif dalam setiap tahapan, mulai dari penyiapan bahan hingga proses pencampuran. Selain itu, dilakukan pula pengaplikasian biopestisida secara langsung untuk mengurangi hama siput di lahan pertanian sebagai contoh penerapan pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Menurut Ketua Pelaksana program ini, Mutiara Wilasari, kegiatan ini bertujuan agar masyarakat desa mampu memproduksi biopestisida dan pupuk secara mandiri. Selain itu, praktik ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan organik sebagai alternatif bahan kimia. “Harapan kami ke depannya warga Desa Cupunagara mampu mengolah limbah ternak menjadi pupuk sebagai produk yang memiliki nilai jual,” kata Mutiara.

Program ini juga mendapat respons positif dari masyarakat setempat. “Setelah mengikuti program ini, kami jadi paham yang awalnya perlu pakai pupuk kimia, ternyata ada pengganti baru yaitu pupuk organik cair. Ke depannya kami berharap penggunaan pupuk ini dapat berlanjut dan bermanfaat bagi tanaman kami,” ujar Pak Rodi, masyarakat Desa Cupunagara.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Cupunagara dapat mengaplikasikan biopestisida dan pupuk organik cair secara mandiri dalam aktivitas pertanian sehari-hari, sehingga tercipta sistem pertanian yang lebih berkelanjutan, ramah lingkungan, dan ekonomis.


.jpeg)



