Teknik Metalurgi ITB Gelar Simposium Internasional, Bahas Hidrogen sebagai Kunci Dekarbonisasi Industri Metalurgi
Oleh Jekky - Teknik Pertambangan, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Program Studi Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan "Indonesia-India-Australia Symposium on Frontiers in Hydrogen Metallurgy 2026", pada 21–22 Mei 2026, di Gedung CRCS, ITB Kampus Ganesha, Bandung.
Simposium internasional bertema “Advancing Hydrogen-Based Metallurgy Technologies for a Sustainable Future” ini mempertemukan 126 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, pelaku industri, dan mahasiswa dari Indonesia, India, dan Australia. Forum ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan penguatan kolaborasi dalam pengembangan teknologi metalurgi berbasis hidrogen untuk mendukung masa depan industri yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi pada Kamis (21/5/2026). Dalam sambutannya, Ketua Panitia Penyelenggara Simposium 2026, D.Sc. (Tech.) Imam Santoso, S.T., M.Phil., menekankan bahwa hidrogen memiliki peran penting dalam mendorong transformasi industri metalurgi menuju proses produksi logam yang lebih bersih dan rendah emisi. Penggunaan hidrogen sebagai reduktor dinilai menjadi salah satu pendekatan strategis karena menghasilkan produk samping berupa uap air, bukan karbon dioksida.
Urgensi pengembangan teknologi tersebut tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan material kritis secara global. Pada 2024, permintaan litium meningkat hampir 30 persen, sementara permintaan nikel, kobalt, grafit, dan rare earth elements naik sekitar 6–8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut berkaitan erat dengan pertumbuhan kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi baterai, energi terbarukan, dan pembangunan jaringan listrik global.
Di sisi lain, banyak proses produksi logam masih bergantung pada batu bara dan kokas sebagai reduktor dalam proses bersuhu tinggi. Industri besi dan baja disebut menyumbang sekitar 7–9 persen emisi CO₂ dari total penggunaan bahan bakar fosil dunia. Kondisi ini menegaskan perlunya inovasi teknologi yang mampu menurunkan emisi dan mempercepat transisi menuju produksi logam yang lebih ramah lingkungan.
Simposium ini membahas berbagai area strategis, antara lain reduksi berbasis hidrogen, hydrogen plasma metallurgy, sustainable steelmaking, penggunaan gas reduktor alternatif, dekarbonisasi industri metalurgi, serta ekonomi sirkular dan pemanfaatan limbah.

Pada Sesi Pleno I, pembahasan mencakup hydrogen plasma smelting, perbandingan reduksi amonia dan hidrogen, produksi dan pemurnian silikon, serta penggunaan gas amonia sebagai pengganti batu bara dalam produksi feronikel. Sesi ini menghadirkan Prof. Zulfiadi Zulhan (ITB), Dr. Ashok Kamaraj (Indian Institute of Technology Hyderabad), Bima Satriatama (Swinburne University of Technology), dan Fakhreza Abdul, Ph.D. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember).
Prof. Zulfiadi Zulhan dalam paparannya menyoroti bahwa emisi CO₂ dihasilkan hampir di setiap tahap produksi baja konvensional, mulai dari cokemaking, sintering, hingga blast furnace ironmaking. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi teknologi pada sektor metalurgi perlu terus didorong.

Sesi Pleno II membahas hydrogen plasma ironmaking, ekstraksi logam dari terak tembaga, reduksi hidrogen pada bijih saprolit, serta pemurnian baja berkelanjutan. Sesi ini menghadirkan Prof. Raj Kumar Dishwar (Indian Institute of Technology Dhanbad), Dian Mughni Fellicia (Swinburne University of Technology), Taufiq Hidayat, Ph.D. (ITB), dan Dr. Arup Kumar Mandal (National Institute of Technology Durgapur).
Dalam sesi tersebut, Taufiq Hidayat, Ph.D. memaparkan bahwa pengembangan smelter di Indonesia meningkat signifikan setelah kebijakan hilirisasi mineral. Namun, peningkatan tersebut juga membawa tantangan emisi, terutama dari produksi nickel pig iron (NPI) yang menjadi salah satu kontributor utama emisi CO₂ pada industri nikel. Oleh karena itu, pengembangan teknologi pemrosesan nikel alternatif yang rendah karbon menjadi semakin penting.

Sesi Pleno III mengangkat topik reduksi debu electric arc furnace (EAF), reduksi cerium oksida, serta peta jalan teknologi green steel. Sesi ini menghadirkan Made Giri Natha (Swinburne University of Technology), Shany Sofiah Fauth (ITB), dan Dr. Arghya Majumder (Kazi Nazrul University).
Dr. Arghya Majumder memaparkan bahwa kadar CO₂ atmosfer saat ini telah mencapai sekitar 415 ppm, angka tertinggi dalam 800.000 tahun terakhir. Ia juga menyoroti masih adanya kesenjangan komitmen global terhadap skenario pembatasan kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius. Menurutnya, transisi menuju teknologi green steel bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi industri baja global.
Selain sesi pleno dan presentasi teknis, rangkaian simposium dilanjutkan pada Jumat (22/5/2026) dengan kunjungan laboratorium ke ITB Ganesha Laboratories dan GEM-ITB-CSU Lab di ITB Kampus Jatinangor. Agenda ini memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenal lebih dekat fasilitas riset yang mendukung pengembangan teknologi metalurgi dan material berkelanjutan.
Simposium ini melibatkan sejumlah institusi akademik, antara lain ITB, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, Swinburne University of Technology, Indian Institute of Technology Hyderabad, Indian Institute of Technology Dhanbad, dan Kazi Nazrul University. Dari sektor industri, turut hadir perwakilan Kalimasada Nusantara Pratama, Arsari Tambang, PT Borneo Alumina Indonesia, dan PT Antam Tbk.
Keterlibatan akademisi dan industri menunjukkan bahwa isu hydrogen metallurgy tidak hanya menjadi pembahasan ilmiah, tetapi juga mulai bergerak ke arah implementasi dan potensi adopsi industri. Melalui simposium ini, ITB menegaskan perannya sebagai pusat kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi bersih di sektor metalurgi, sekaligus mendorong hadirnya produksi logam yang lebih rendah karbon, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan transisi energi global.
.jpeg)





