UKM Gebrak ITB Bawa Kopi Cupunagara ke CFD Bandung, Dorong Produk Petani Lokal Menjangkau Pasar Lebih Luas

Oleh Kayla Annisa Erian - Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, 2023

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gebrak Institut Teknologi Bandung (ITB) membantu memperkenalkan Kopi Cupunagara, produk kopi yang dikembangkan masyarakat Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, kepada konsumen yang lebih luas melalui kegiatan "Kopi Cupunagara Goes to CFD Bandung", Minggu (3/5/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan pemasaran yang masih dihadapi petani dan pengelola Kopi Cupunagara sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat Bandung untuk mengenal produk kopi lokal secara langsung.

Bagi masyarakat Cupunagara, perluasan pasar menjadi penting karena pengembangan kopi di daerah tersebut masih menghadapi sejumlah keterbatasan, mulai dari modal, teknologi, wawasan, hingga pemasaran. Melalui kegiatan di car free day (CFD) Dago, Bandung, UKM Gebrak ITB menghadirkan Kopi Cupunagara lebih dekat kepada konsumen melalui live brewing, pengenalan karakter dan proses pengolahan kopi, serta penjualan produk.

Salah satu produk yang diperkenalkan adalah kopi susu. Sekitar 90 botol disiapkan dalam kegiatan tersebut untuk melihat respons masyarakat terhadap produk Kopi Cupunagara. Interaksi langsung dengan konsumen diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penerimaan pasar.

Hal tersebut menjadi upaya pengembangan produk lokal tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan komoditas, tetapi juga bagaimana produk tersebut memiliki nilai tambah dan dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Semakin terbukanya akses pasar diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pengembangan kopi yang menjadi salah satu komoditas masyarakat Cupunagara.

Mengenal Kopi Cupunagara

Kopi Cupunagara berasal dari kawasan dengan ketinggian sekitar 1.000–1.100 meter di atas permukaan laut. Kopi mulai dikembangkan di Desa Cupunagara pada 2012 dan kini menjadi salah satu komoditas yang diusahakan oleh masyarakat setempat.

Saat ini, terdapat sekitar 400 hektare kebun kopi yang dikelola oleh sekitar 300 petani. Kopi yang dikembangkan merupakan jenis Arabika dengan sejumlah varietas, antara lain Sigararutang, Typica, Yellow Caturra, Lini S, dan Ateng Super.

Kopi tersebut tidak hanya dipasarkan dalam bentuk hasil panen. Masyarakat telah melakukan berbagai pengolahan pascapanen, antara lain natural, honey, full washed, dan fermentasi. Setelah dikeringkan, biji kopi juga melalui proses roasting dengan tingkat light, medium, hingga dark roast.

Proses pengolahan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah Kopi Cupunagara sehingga produk yang dihasilkan dapat memiliki ragam karakter dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Dalam proses pengembangannya, masyarakat mendapatkan pendampingan dari Dosen Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB, Intan Taufik, S.Si., M.Si., Ph.D. Pendampingan tersebut turut mendukung peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengolah kopi sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah.

Melalui Kopi Cupunagara Goes to CFD Bandung, masyarakat tidak hanya dapat membeli produk, tetapi juga mengetahui asal, karakter, dan proses pengolahan kopi yang ditanam oleh masyarakat Cupunagara. Upaya tersebut juga menunjukkan peran mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, khususnya dengan membantu membuka akses pengenalan dan pemasaran bagi produk lokal yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan.

#ukm gebrak itb #kopi cupunagara #kopi lokal #produk lokal #pemberdayaan masyarakat #pengembangan umkm #hilirisasi produk #sekolah ilmu dan teknologi hayati #sith itb #bioteknologi mikroba #mahasiswa itb #car free day bandung #cfd bandung #pengabdian kepada masyarakat #sdg 8 #decent work and economic growth #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 12 #responsible consumption and production #sdg 17 #partnerships for the goals