ITB Dorong Hilirisasi Riset dan Inovasi untuk Tingkatkan Daya Saing Industri

Oleh Anggun Nindita -

Editor Muhammad Efriza Pandia

BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) bekerja sama dengan Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menggelar Diskusi Publik dan Lokakarya “Masa Depan Hilirisasi Indonesia: Menuju Industrialisasi yang Kompetitif, Inklusif, dan Berkeadilan” di Aula Timur, ITB Kampus Ganesha, Kamis (17/9/2026).

Forum yang berlangsung pukul 08.30–13.00 WIB tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas perkembangan agenda hilirisasi nasional, penguatan industri mineral dan baterai, teknologi dan inovasi, hingga transformasi industri yang inklusif.

Direktur Riset dan Inovasi ITB, Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa hilirisasi memiliki peran penting dalam memperluas dampak hasil riset dan inovasi perguruan tinggi. Pembentukan Satgas Hilirisasi di ITB menjadi salah satu langkah untuk mengawal hasil riset agar dapat bergerak dari pengembangan pengetahuan menuju penerapan, komersialisasi, dan pemanfaatan yang lebih luas.

ITB, menurutnya, memiliki potensi besar dari karya dosen, peneliti, mahasiswa, hingga alumni. DRI ITB berperan dalam membangun dan menjaga ekosistem riset, memperluas dampak penelitian, serta membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat. Upaya tersebut juga diperkuat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat agar teknologi yang dikembangkan dapat menjawab kebutuhan secara langsung.

Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai penghasil pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra strategis yang dapat memberikan masukan dan rekomendasi berbasis riset bagi pengembangan kebijakan hilirisasi nasional.

Hilirisasi Perlu Bergerak Menuju Industri Bernilai Tambah Tinggi
Prof. Dr. Unggul Heriqbaldi dari Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi (PHKE), yang hadir sebagai keynote speaker, menyoroti tantangan transformasi ekonomi Indonesia, antara lain pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5 persen, menurunnya kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian, serta masih terbatasnya pengembangan produk manufaktur berteknologi menengah dan tinggi. Dalam poster resmi, Prof. Unggul tercantum sebagai pembicara Keynote Speech.

Ia menjelaskan bahwa hilirisasi perlu diarahkan bukan sekadar untuk mengubah sumber daya alam menjadi produk antara, melainkan mendorong Indonesia menghasilkan barang yang semakin kompleks dan memiliki nilai tambah lebih tinggi. Transformasi tersebut dibutuhkan untuk memperkuat daya saing industri, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperluas pusat pertumbuhan ekonomi.


Prof. Unggul juga memaparkan pendekatan Investment, Infusion, and Innovation. Investasi perlu diikuti oleh penyerapan teknologi ke dalam ekosistem domestik serta kemampuan Indonesia untuk mengembangkan inovasi secara mandiri. Dengan cara tersebut, hilirisasi tidak berhenti pada adopsi teknologi, tetapi dapat memperkuat kapasitas industri nasional dalam jangka panjang.

Dalam paparannya, ia turut menjelaskan penyusunan pre-feasibility study (Pre-FS) untuk sejumlah proyek strategis hilirisasi sebelum memasuki tahap pengelolaan dan investasi. Kelayakan teknis, infrastruktur, akses logistik, serta keekonomian proyek menjadi faktor yang perlu terus dikaji dan dikalibrasi.

Hadirkan Perspektif Mineral, Baterai, Teknologi, hingga Keadilan Tenaga Kerja
Forum ini turut menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintah, industri, dan akademisi dengan topik yang saling melengkapi. Prof. Dr. Ir. Yogi Wibisono, Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi Badan Industri Mineral, membawakan materi “From Reserves to Capability: Building the Technology Backbone of Indonesia’s Mineral Downstream Industry.”

Dari sektor industri, Direktur Utama Indonesia Battery Company (IBC), Dr. Eng. Aditya Farhan Arif, membawakan materi “Beyond Downstreaming: Building a Competitive Battery Industry Ecosystem.” Pembahasan tersebut menempatkan pengembangan industri baterai dalam konteks pembangunan ekosistem industri yang lebih luas, tidak berhenti pada tahap pengolahan sumber daya.

Perspektif teknologi dan metalurgi disampaikan Guru Besar Teknik Metalurgi ITB, Prof. Zulfiadi Zulhan, melalui materi “Technology and Innovation for Sustainable Industrialization.” Sementara itu, Dosen Teknik Industri ITB, Dr. Destina Ratna Asih, membawakan materi “Labor Justice and Inclusive Industrial Transformation,” yang memperluas pembahasan hilirisasi hingga aspek tenaga kerja dan transformasi industri yang inklusif.

Diskusi dimoderatori oleh Muhammad Yorga Permana, Ph.D., Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB. Komposisi narasumber tersebut mempertemukan sudut pandang ekonomi, teknologi mineral, industri baterai, metalurgi, teknik industri, dan bisnis dalam satu forum.

Melalui diskusi dan lokakarya ini, ITB mendorong hilirisasi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi sumber daya, tetapi juga memperkuat penguasaan teknologi dan inovasi, meningkatkan daya saing industri, serta memperhatikan dimensi sosial dan pemerataan manfaat pembangunan. Arah tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan untuk membangun hilirisasi yang memperkuat kapasitas teknologi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi Indonesia.

#itb #hilirisasi #dri itb #sdg 8 #decent work and economic growth #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 10 #reduced inequalities #sdg 12 #responsible consumption and production #sdg 17 #partnerships for the goals