FITB ITB Gelar Seminar Nasional, Dorong Pemanfaatan Ilmu Kebumian untuk Percepat Transisi Energi Terbarukan
Oleh Jekky - Mahasiswa Teknik Pertambangan, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Narasumber, panitia seminar, dan peserta berfoto bersama sebagai penutup Seminar Nasional "Renewable Energy Transition: Earth Science and Technological Innovation for Sustainable Development" yang membahas kebijakan energi nasional, potensi energi laut, teknologi geospasial, hingga pengembangan panas bumi, Jumat (25/9/2026). (Dok. Panitia Seminar)
BANDUNG, itb.ac.id — Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (FITB ITB) mempertemukan akademisi, pemerintah, dan mahasiswa untuk membahas pemanfaatan ilmu kebumian dan inovasi teknologi dalam mempercepat transisi energi terbarukan di Indonesia. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk menjawab sejumlah tantangan, mulai dari pemanfaatan potensi energi terbarukan yang belum optimal hingga kebutuhan akses energi yang merata dan berkelanjutan.
Upaya tersebut dibahas dalam Seminar Nasional "Renewable Energy Transition: Earth Science and Technological Innovation for Sustainable Development", Jumat (25/9/2026), di Gedung SBM ITB. Seminar diikuti mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi di Bandung, akademisi, serta perwakilan pemerintah.
Dekan FITB ITB, Dr. techn. Dudy Darmawan Wijaya, S.T., M.Sc., mengatakan kolaborasi akademisi, bisnis, dan pemerintah diperlukan untuk mendorong transisi energi. FITB ITB sendiri mengembangkan berbagai riset, antara lain energi arus laut, panas bumi, dan pengamatan surya.
Kebijakan Energi dan Tantangan Transisi
.jpg)
Tony Susandy, S.T., M.B.A., Direktur Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM. (Dok. Panitia Seminar)
Direktur Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Tony Susandy, S.T., M.B.A., menjelaskan bahwa energi terbarukan menjadi salah satu tulang punggung menuju target net zero emission 2060 atau lebih cepat.
Menurutnya, perubahan iklim turut menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber energi. Ia mencontohkan penurunan produksi PLTA di Sulawesi Selatan setelah El Nino, sementara produksi PLTB meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan sistem energi yang lebih beragam dan adaptif.
Ia menambahkan, transisi energi masih menghadapi tantangan pendanaan, perizinan, transmisi, dan penerimaan masyarakat.
Mengembangkan Energi dari Laut
Prof. Dr.Eng. Nining Sari Ningsih, M.S., memaparkan hasil penelitian mengenai potensi energi arus dan gelombang laut Indonesia. Timnya telah mengidentifikasi sejumlah lokasi potensial serta mengembangkan prototipe konversi energi gelombang yang diuji di Pangandaran dan mampu menyalakan lampu 18 watt.
"Mudah-mudahan ini bisa dipakai untuk nelayan," ujarnya. Teknologi tersebut berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan energi skala kecil, termasuk bagi aktivitas nelayan.
.jpg)
Prof. Dr.Eng. Nining Sari Ningsih, M.S. saat merincikan hasil riset mengenai potensi energi arus laut Indonesia, termasuk potensi arus laut di Selat Lombok, Jumat (25/9/2026). (Dok. Panitia Seminar)
Teknologi Geospasial untuk Pemetaan Energi
.jpg)
Prof. Ir. Ketut Wikantika, M.Eng., Ph.D. saat mengelaborasikan pemanfaatan teknologi geospasial dan pengamatan Bumi untuk mendukung pemantauan berbagai sumber energi terbarukan, Jumat (25/9/2026). (Dok. Panitia Seminar)
Prof. Ir. Ketut Wikantika, M.Eng., Ph.D., menjelaskan pemanfaatan teknologi geospasial dan penginderaan jauh untuk memetakan sumber energi terbarukan. Timnya mengembangkan model prediksi potensi energi surya menggunakan data satelit Himawari dan platform pemetaan panel surya atap.
Teknologi serupa juga dimanfaatkan dalam penelitian biomassa, bambu, dan pemetaan sampah plastik untuk mendukung pengelolaan energi dan lingkungan.
Membuka Potensi Panas Bumi
Dr.Eng. Ir. Suryantini, M.Sc., menyoroti peluang pengembangan panas bumi di luar sistem vulkanik, termasuk pada cekungan sedimen dan sumur migas yang tidak lagi digunakan. Pendekatan tersebut membuka kemungkinan pemanfaatan sumber panas bumi yang selama ini belum banyak dieksplorasi.
.jpg)
Dr.Eng. Ir. Suryantini, M.Sc. saat memaparkan potensi panas bumi nonvulkanik dan wilayah kepulauan terpencil sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia, Jumat (25/9/2026). (Dok. Panitia Seminar)
Ia juga mendorong pengembangan pembangkit panas bumi skala kecil di wilayah kepulauan terpencil sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap diesel.
Kolaborasi untuk Mempercepat Transisi Energi
Diskusi turut membahas emisi energi terbarukan, sistem energi hybrid, kesiapan sumber daya manusia, serta resistensi sosial dalam pembangunan proyek energi.
.jpg)
Sesi tanya jawab menjadi ruang bagi narasumber untuk bertukar pandangan dan merespons berbagai pertanyaan seputar energi berkelanjutan, Jumat (25/9/2026). (Dok. Panitia Seminar)
Prof. Nining menekankan bahwa pengembangan energi laut membutuhkan pembuktian teknologi di lapangan agar dapat menarik investasi. Sementara itu, perwakilan Dinas ESDM Jawa Barat menyampaikan bahwa pengembangan energi terbarukan terus didorong melalui kebijakan energi daerah.
Moderator seminar, Dr.Eng. Anjar Dimara Sakti, berharap pertemuan lintas disiplin tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata.
"Tujuan dari seminar ini bukan tentang slide-slide presentasi atau capaian, tapi tentang kolaborasi yang akan muncul dari rekan-rekan semua," ujarnya.



