ITB dan Japan NUS Kembangkan Proyek Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca di Pertanian Kabupaten Bandung
Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Japan NUS Co., Ltd (JANUS) mengembangkan proyek pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian di Kabupaten Bandung. Kolaborasi ini diarahkan untuk menjawab tantangan emisi dari lahan pertanian melalui pemantauan berbasis riset serta pengembangan metode budidaya padi yang lebih rendah emisi. Upaya tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi petani dan pemerintah daerah sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan dan agenda penurunan emisi gas rumah kaca.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahamandi Rektorat ITB, Rabu (2/9/2026). Kabupaten Bandung akan menjadi lokasi awal pelaksanaan proyek sekaligus learning ground yang mempertemukan kepakaran akademik, teknologi, praktik pertanian di lapangan, serta dukungan pemerintah daerah.
Ruang lingkup kerja sama mencakup pemantauan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah, studi kelayakan proyek pengurangan emisi melalui pengaturan ketinggian air dan penggunaan pupuk dalam budidaya padi, serta pengembangan berbagai kolaborasi riset.
Melalui kajian tersebut, ITB dan JANUS berupaya menghasilkan pendekatan yang dapat diterapkan untuk menekan emisi tanpa melepaskan perhatian terhadap kebutuhan dan kondisi sektor pertanian di daerah. Hasil pembelajaran dari Kabupaten Bandung juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan model serupa di wilayah lain.
Direktur Kawasan Sains dan Teknologi ITB, Ir. Hary Devianto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menegaskan peran perguruan tinggi dalam mendorong hasil penelitian agar dapat diterapkan untuk menjawab persoalan di masyarakat.
“Penelitian tidak boleh berhenti pada produksi pengetahuan dan teknologi saja. Riset juga harus membantu kita memahami bagaimana inovasi dapat diterjemahkan menjadi solusi praktis dan menciptakan dampak yang bermakna bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hary, kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya menghubungkan kemampuan riset yang dimiliki perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan demikian, pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan tidak hanya menghasilkan keluaran akademik, tetapi juga berpeluang menjadi solusi yang dapat diimplementasikan.
Sementara itu, Chief Consultant Environmental Consulting Department JANUS, Yamase Ryo, mengatakan, aksi iklim yang efektif membutuhkan perpaduan antara landasan ilmiah yang kuat dan implementasi praktis.
Dalam kerja sama ini, kemampuan riset dan pengetahuan multidisiplin ITB akan dipadukan dengan pengalaman JANUS dalam pelaksanaan proyek di lapangan. Sinergi tersebut diharapkan mendukung pengembangan model pengurangan emisi yang berbasis bukti dan sesuai dengan kondisi lokal.
Inisiatif tersebut turut mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Bandung. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Penaatan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, Robby Dewantara S., mengatakan, kolaborasi ini menjadi momentum untuk memperkuat upaya menjawab berbagai tantangan lingkungan di wilayah Kabupaten Bandung, termasuk persoalan kualitas udara, air, dan tanah.
Pemerintah Kabupaten Bandung juga menyatakan komitmennya untuk mendukung pelaksanaan proyek di lapangan. Keterlibatan pemerintah daerah menjadi penting agar hasil penelitian dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah serta kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran implementasi.
Melalui kerja sama ini, ITB dan JANUS menargetkan lahirnya model praktis pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian yang dapat terukur dan diterapkan di lapangan. Selain berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, proyek ini diharapkan mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan memperkuat pemanfaatan riset untuk pembangunan daerah.
Ke depan, pengalaman dan hasil proyek di Kabupaten Bandung diharapkan menjadi pijakan untuk memperluas kerja sama ke sektor maupun wilayah lain, sehingga manfaat inovasi dan penelitian dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

.jpg)


