ITB Perkuat Kolaborasi Global Digital Humanities melalui Technoculture Summer Course dan CODH 2026
Oleh Anggun Nindita -
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id — Sekolah Pascasarjana Ilmu dan Teknologi Multidisiplin Institut Teknologi Bandung (SPITM ITB) menyelenggarakan Technoculture Summer Course 2026 pada 13–17 Juli 2026, yang terintegrasi dengan The 5th International Conference on Digital Humanities (CODH-2026) di Aula Timur, ITB Kampus Ganesha, Jumat (17/7/2026).
Mengangkat tema “AI, Digital Ethics, and the Future of Geotourism”, kedua kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas pemanfaatan teknologi digital yang beretika, berakar pada budaya, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Diikuti Peserta dari 30 Negara
Technoculture Summer Course merupakan program kursus musim panas pertama yang diselenggarakan SPITM ITB. Program ini memperoleh lebih dari 440 pendaftar dari 46 negara di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa hanya dalam waktu sekitar satu pekan sejak pendaftaran dibuka.
Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 30 peserta yang mewakili 30 negara terpilih untuk mengikuti rangkaian pembelajaran mengenai kecerdasan artifisial, digital humanities, etika digital, dan geowisata.
Dekan SPITM ITB, Prof. Ir. Wahyu Srigutomo, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan bahwa program tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman akademik yang memadukan teori dan praktik.
Selain mengikuti pembelajaran di kelas dan tes tertulis, para peserta mengikuti kegiatan lapangan, salah satunya ke Kawah Putih, Ciwidey. Keseluruhan rangkaian program dirancang sebagai credit earning setara tiga SKS yang dapat diklaim peserta dalam kurun waktu lima tahun.
“Melalui program ini, kami berharap para peserta memperoleh pengalaman akademik yang bermakna sekaligus lebih dekat mengenal kualitas pendidikan di ITB, khususnya SPITM ITB,” ujar Prof. Wahyu.
Para peserta juga menyusun karya ilmiah dengan pendampingan dosen untuk dipresentasikan dalam CODH-2026. Salah satu karya yang dipresentasikan membahas perbandingan pengembangan geowisata di Bali dan Peru, yang menunjukkan peran digital humanities dalam menjembatani beragam konteks budaya dan geografis.
Teknologi Perlu Berjalan Bersama Humaniora
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., mengatakan bahwa penerapan teknologi tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan keteknikan, tetapi membutuhkan kolaborasi multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin.
Menurutnya, ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa humaniora akan kehilangan jiwa, sementara teknologi tanpa pemahaman budaya dan bisnis berisiko kehilangan arah.
“ITB berkomitmen memastikan proses pembangunan tidak hanya berfokus pada engineering, tetapi juga dapat diterima, berkelanjutan, dan memberikan dampak,” ujarnya.
Prof. Tatacipta menilai penyelenggaraan CODH selama lima tahun berturut-turut menunjukkan konsistensi ITB dalam menyediakan ruang pertemuan bagi akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah, dan pelaku industri untuk membangun jejaring serta merumuskan solusi atas berbagai persoalan kompleks.
Ia berharap Technoculture Summer Course dan CODH dapat diselenggarakan secara rutin serta berkembang menjadi tradisi akademik yang memperkuat kolaborasi lintas bidang dan lintas negara.
Memperluas Kerja Sama Pendidikan dan Riset
Pembukaan CODH-2026 turut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara ITB dengan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta serta Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Latifah Mubarokiyah (STIELM) Tasikmalaya. Kerja sama tersebut mencakup bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui Technoculture Summer Course dan CODH-2026, SPITM ITB mendorong terbentuknya kolaborasi riset, publikasi ilmiah, dan jejaring internasional yang memanfaatkan teknologi untuk melestarikan budaya, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mengembangkan geowisata secara bertanggung jawab.
Kearifan Lokal Menjadi Arah Transformasi Digital
CODH-2026 juga menghadirkan Gubernur Bali, I Wayan Koster, dan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, sebagai pembicara utama.
I Wayan Koster membahas peran digital humanities dalam pembangunan Bali yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi. Menurutnya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat budaya, menjaga lingkungan, serta mewariskan pengetahuan kepada generasi mendatang.
Gubernur Bali, I Wayan Koster
“Ketika inovasi digital dibimbing oleh nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, kemajuan tidak sekadar menghasilkan kecanggihan teknologi, tetapi juga membangun peradaban yang harmonis, bermartabat, dan berkelanjutan,” katanya.
Ia juga membuka peluang bagi para akademisi untuk menjadikan Bali sebagai laboratorium riset, khususnya dalam pengembangan talenta digital, pelestarian budaya, digitalisasi manuskrip, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya dan lingkungan.
Sementara itu, Herman Suryatman menyampaikan pentingnya transformasi digital yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka ruang kolaborasi bagi ITB untuk menjadikan wilayah Jawa Barat sebagai living laboratory bagi penelitian dan inovasi yang memadukan teknologi dengan nilai-nilai budaya lokal.
Sekda Jabar, Herman Suryatman
“Teknologi adalah alat, manusia adalah pusat, dan kesejahteraan adalah tujuan,” ujarnya.






