Ketika Langit Malam Tak Lagi Gelap: Hujan Meteor Perseid dan Ancaman di Tengah Polusi Cahaya
Oleh Vito Egi Nandriansyah - Mahasiswa Teknik Geofisika, 2021
Editor Muhammad Efriza Pandia
Ilustrasi Meteor Perseid (dok. Pexels)
BANDUNG, itb.ac.id — Langit malam pertengahan Agustus kembali menghadirkan salah satu fenomena astronomi yang dinantikan setiap tahun, yakni Hujan Meteor Perseid. Fenomena ini diperkirakan mencapai puncak aktivitas pada 12–13 Agustus 2026 dan menjadi salah satu momen menarik untuk mengamati langit malam.
Peneliti Observatorium Bosscha ITB, Yatny Yulianty, M.Si., menjelaskan bahwa Hujan Meteor Perseid tidak hanya terjadi pada satu malam. Aktivitasnya berlangsung selama beberapa pekan, umumnya sejak pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus.
“Yang ramai dibicarakan sekarang adalah periode puncaknya. Sebenarnya hujan meteor Perseid sudah berlangsung sejak pertengahan Juli dan akan terus berlangsung selama beberapa waktu,” ujarnya.
Menurut Yatny, hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur yang dipenuhi partikel-partikel sisa yang ditinggalkan komet saat mengorbit Matahari. Ketika partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, interaksi dengan atmosfer membuatnya berpijar dan tampak sebagai garis cahaya yang bergerak cepat di langit.
Pada Hujan Meteor Perseid, meteor-meteor tersebut tampak seolah-olah berasal dari arah rasi Perseus. Karena itu, fenomena ini kemudian dikenal dengan nama Perseid. Material yang menghasilkan meteor Perseid berasal dari Komet 109P/Swift–Tuttle yang meninggalkan jejak partikel di sepanjang orbitnya.
“Hujan meteor disebut ‘hujan’ karena jumlah meteor yang terlihat meningkat cukup drastis dibandingkan malam-malam biasa,” jelasnya.
Bukan Sekadar “Bintang Jatuh”
Istilah “bintang jatuh” cukup populer digunakan untuk menyebut meteor. Namun, Yatny menjelaskan bahwa meteor bukanlah bintang. Meteor merupakan fenomena cahaya yang muncul ketika benda atau partikel dari ruang angkasa memasuki atmosfer Bumi.
Sebagian besar material tersebut habis terbakar ketika melewati atmosfer. Namun, sebagian kecil dapat bertahan hingga mencapai permukaan Bumi dan kemudian disebut sebagai meteorit.
Fenomena hujan meteor berbeda dengan kemunculan meteor secara tunggal. Pada hujan meteor, jumlah meteor yang terlihat meningkat karena Bumi sedang melintasi wilayah yang kaya akan material sisa komet.
Fenomena ini pun dapat diamati dengan mata telanjang selama kondisi langit cukup gelap dan bebas dari gangguan cahaya buatan. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan, kondisi tersebut semakin sulit ditemukan karena tingginya tingkat polusi cahaya.
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan

Ilustrasi Meteor Perseid (dok. Pexels)
Salah satu tantangan terbesar dalam mengamati hujan meteor, terutama dari kawasan perkotaan, adalah polusi cahaya. Yatny menjelaskan, cahaya buatan yang mengarah ke langit atau terpantul ke atmosfer dapat membuat langit malam menjadi lebih terang. Kondisi ini dikenal sebagai skyglow.
“Ketika langit menjadi terang, objek-objek langit seperti bintang dan meteor menjadi kalah terang dibandingkan latar langit. Akibatnya, jumlah objek yang dapat diamati berkurang drastis,” katanya.
Dampak polusi cahaya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang ingin menikmati langit malam, tetapi juga memengaruhi kualitas penelitian astronomi. Dalam pengamatan optik, cahaya dari langit yang terlalu terang dapat ikut terekam oleh instrumen sehingga menurunkan kualitas data yang diperoleh.
Pada Hujan Meteor Perseid, tantangan tersebut menjadi semakin besar bagi pengamatan dari wilayah Lembang. Dari lokasi tersebut, titik radian Perseid hanya mencapai ketinggian sekitar 20–30 derajat di atas horizon utara. Sementara itu, area yang dekat dengan horizon merupakan salah satu bagian langit yang paling terdampak oleh polusi cahaya.
“Lokasi pengamatan menjadi sangat penting. Jika memungkinkan, pengamatan sebaiknya dilakukan dari tempat yang jauh dari sumber polusi cahaya,” ujarnya.
Dampaknya Tidak Hanya bagi Astronom
Menurut Yatny, persoalan polusi cahaya tidak berhenti pada kesulitan mengamati bintang dan meteor. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pencahayaan buatan pada malam hari juga dapat memengaruhi kehidupan satwa liar, terutama hewan nokturnal yang bergantung pada siklus terang dan gelap.
Burung migran, kelelawar, kunang-kunang, hingga penyu laut dapat mengalami gangguan orientasi akibat paparan cahaya buatan. Manusia pun memiliki ritme biologis yang dipengaruhi oleh kondisi terang dan gelap.
Karena itu, penggunaan pencahayaan pada malam hari perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Cahaya sebaiknya diarahkan ke bawah, menggunakan jenis lampu yang tepat, serta tidak dinyalakan secara berlebihan atau sepanjang malam.
“Prinsip utamanya adalah menggunakan cahaya sesuai kebutuhan. Cahaya yang tidak perlu dan mengarah ke langit sebaiknya diminimalkan,” katanya.
Ia menambahkan, komunitas astronomi, termasuk melalui International Dark-Sky Association (IDA), telah lama mendorong edukasi dan tata kelola pencahayaan yang lebih baik. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penggunaan tudung lampu, pemilihan temperatur warna yang lebih hangat, pengaturan tingkat kecerahan, hingga pembatasan waktu operasional lampu reklame dan papan iklan.
Pengingat bahwa Langit Selalu Bergerak
Di balik keindahannya, Hujan Meteor Perseid juga memiliki nilai ilmiah yang penting. Material dari komet dan asteroid yang sampai ke Bumi menjadi salah satu sumber informasi untuk memahami sejarah awal tata surya.
“Batuan tersebut merupakan sisa-sisa pembentukan tata surya yang tidak mengalami proses geologi seperti batuan di Bumi. Dari meteorit, kita bisa mempelajari komposisi material purba dan sejarah pembentukan tata surya,” jelas Yatny.
Lebih dari sekadar fenomena langit, ia berharap hujan meteor dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal astronomi sekaligus kembali memberi perhatian pada kondisi langit malam di sekitarnya.
“Langit tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada aktivitas dan pergerakan di atas sana. Saya berharap masyarakat mau meluangkan sedikit waktu untuk melihat ke langit dan menyadari bahwa kita juga merupakan bagian dari semesta yang jauh lebih besar,” tuturnya.
Menurutnya, kesadaran tersebut tidak hanya dapat memperkaya pengetahuan, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang mengingatkan manusia akan posisinya di tengah luasnya alam semesta.
.jpg)


