Mahasiswa Magister ITB Dalami Riset Pemantauan Perubahan Permukaan Bumi dan Risiko Tsunami di Jepang

Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025

Editor Muhammad Efriza Pandia


BANDUNG, itb.ac.id - Dua mahasiswa Magister Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Muhammad Nabil Al Attar S dan Chantika Dwi Novita, mengikuti Program Outbound Exchange EQUITY - World Class University (WCU) di Chiba University, Jepang, pada 4 Mei hingga 15 Juli 2026.

Melalui Program Outbound Exchange EQUITY - World Class University (WCU), Nabil dan Chantika berkesempatan memperdalam riset di bidang geospasial, khususnya terkait pemantauan perubahan permukaan bumi dan kajian risiko tsunami. Program kerja sama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan ITB ini juga memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk berdiskusi, mengembangkan riset, dan membangun jejaring akademik di lingkungan universitas mitra luar negeri.

Persiapan Mengikuti Program Outbound Exchange

Keberangkatan Nabil dan Chantika ke Jepang diperoleh melalui rekomendasi Kepala Program Studi Magister Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr. Irwan Gumilar. Setelah itu, keduanya mempersiapkan kebutuhan akademik dan administrasi, termasuk rencana riset, diskusi dengan supervisor, serta pengurusan paspor, visa pelajar, dan asuransi.

Selama di Chiba University, keduanya mengikuti kegiatan akademik dan riset di Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) di bawah bimbingan Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. Bagi Nabil, kegiatan tersebut tidak hanya berupa pembimbingan, tetapi juga kolaborasi penelitian melalui diskusi mengenai metode, pengolahan data, interpretasi hasil, dan pengembangan riset.

“Selama program outbound exchange di Jepang, saya melibatkan riset mandiri saya bersama dengan dosen dan peneliti di laboratorium. Jadi bentuknya lebih ke kolaborasi penelitian. Saya juga berdiskusi mengenai metode, pengolahan data, interpretasi hasil, dan pengembangan penelitian yang sedang saya kerjakan dengan rekan-rekan di lab Prof. Josaphat,” ujar Nabil.

Riset Pemantauan Perubahan Permukaan Bumi Menggunakan InSAR

Fokus penelitian Nabil adalah pemantauan perubahan permukaan tanah menggunakan teknologi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), yaitu teknologi radar satelit yang dapat mendeteksi pergeseran permukaan bumi secara sangat detail hingga skala milimeter.

Dalam penelitiannya, Nabil mengidentifikasi perubahan permukaan tanah di Pulau Sumatra menggunakan data Sentinel-1. Menurutnya, kajian geodetik di Sumatra selama ini lebih banyak memanfaatkan Global Navigation Satellite System (GNSS), sementara informasi berbasis InSAR masih relatif terbatas. Oleh karena itu, InSAR diharapkan dapat memberikan gambaran perubahan permukaan tanah secara lebih luas, seperti penurunan tanah, kenaikan permukaan tanah, aktivitas sesar, gunung api, maupun perubahan akibat aktivitas manusia.

“Yang menarik dari riset di Jepang adalah saya dapat belajar langsung dari kelompok riset yang memang aktif mengembangkan dan menerapkan InSAR untuk pemantauan deformasi skala regional maupun nasional. Melalui kegiatan tersebut, saya memperoleh pengalaman bagaimana merancang penelitian, melakukan validasi hasil, serta menyusun publikasi ilmiah,” tuturnya.

Selain menjalankan riset, Nabil juga mengikuti diskusi rutin mingguan bersama anggota kelompok riset untuk mempresentasikan perkembangan penelitian, menerima masukan, dan mempelajari berbagai topik riset lain yang dikembangkan di laboratorium.

Kajian Risiko Tsunami di Wilayah Pesisir

Sementara itu, Chantika memanfaatkan program outbound exchange untuk memperoleh bimbingan terkait penelitiannya mengenai risiko tsunami di wilayah Lampung Selatan. Kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda tersebut memiliki kerentanan tinggi karena pernah terdampak tsunami akibat aktivitas vulkanik maupun tektonik.

Selama berada di Jepang, Chantika berdiskusi mengenai pendekatan untuk mengidentifikasi risiko tsunami dengan mengintegrasikan aspek bahaya, kerentanan wilayah dan masyarakat, serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Selama mengikuti program outbound exchange di Jepang, saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperoleh bimbingan dan masukan terkait penelitian yang sedang saya kerjakan. Kegiatan ini dilakukan melalui konsultasi dan diskusi akademik bersama dosen serta peneliti di Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL),” ujar Chantika.

Melalui diskusi tersebut, Chantika memperoleh masukan mengenai pemanfaatan data geospasial dalam pemetaan risiko tsunami, teknik evaluasi hasil analisis, serta penyajian informasi risiko untuk mendukung perencanaan mitigasi bencana secara lebih efektif.

“Melalui pengalaman tersebut, saya tidak hanya memperdalam pemahaman mengenai risiko tsunami, tetapi juga memperoleh wawasan baru tentang proses penelitian yang sistematis, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah,” tuturnya.

Perbedaan Budaya Akademik dan Tantangan Adaptasi

Selama mengikuti program exchange, Nabil merasakan perbedaan budaya akademik antara Chiba University dan ITB. Menurutnya, Chiba University lebih menekankan kemandirian dalam riset, sementara pembelajaran di ITB cenderung lebih terstruktur.

“Kalau dibandingkan dengan ITB, di Chiba University saya merasakan sistem yang lebih menekankan kemandirian, terutama dalam riset. Kita dituntut untuk lebih aktif mengembangkan penelitian sendiri dengan arahan dari supervisor,” tuturnya.

Selain adaptasi akademik, Nabil juga menghadapi kendala bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasinya, ia menggunakan aplikasi penerjemah dan mempelajari beberapa frasa dasar bahasa Jepang. Sementara itu, Chantika beradaptasi dengan budaya ketepatan waktu, keteraturan, kebersihan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

“Untuk beradaptasi, saya berusaha lebih terbuka terhadap budaya baru, mengamati kebiasaan masyarakat setempat, dan mengikuti aturan yang berlaku,” ujar Chantika.

Interaksi dan Manfaat Program di Chiba University

Selama mengikuti program exchange, Nabil dan Chantika memperoleh pengalaman berharga melalui interaksi dengan dosen, peneliti, dan mahasiswa di Chiba University. Menurut Nabil, Prof. Josaphat terbuka terhadap diskusi, memberikan arahan teknis, serta mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mengembangkan penelitian.

“Salah satu hal yang paling saya ingat adalah beliau sering menekankan pentingnya originalitas dalam sebuah penelitian,” tutur Nabil.

Suasana laboratorium yang kolaboratif juga menjadi ruang bagi keduanya untuk belajar dari mahasiswa sarjana, magister, hingga doktor dengan berbagai latar belakang riset. Bagi Chantika, pengalaman tersebut tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membentuk sikap disiplin, fokus, dan mandiri dalam menjalani proses penelitian.

“Program ini memberikan perspektif baru mengenai standar akademik dan budaya penelitian di tingkat global,” ujar Chantika.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa ITB agar tidak ragu mengikuti program exchange, mempersiapkan kemampuan akademik dan bahasa Inggris, serta terbuka terhadap budaya baru.

“Jangan takut keluar dari zona nyaman karena justru dari pengalaman tersebut kita bisa belajar banyak hal yang mungkin tidak didapatkan di ruang kelas,” tuturnya.

#itb #itb berdampak #teknik geodesi dan geomatika #magister itb #mahasiswa itb #outbound exchange #world class university #wcu itb #equity #chiba university #jepang #insar #remote sensing #penginderaan jauh #geospasial #pemantauan permukaan bumi #deformasi tanah #risiko tsunami #mitigasi bencana #tsunami #riset mahasiswa #kolaborasi riset #internasionalisasi itb #sdg 4 #quality education #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 11 #sustainable cities and communities #sdg 13 #climate action #sdg 17 #partnerships for the goals