Menuju Tata Ruang Masa Depan, Guru Besar SAPPK ITB Tekankan Resiliensi, Digitalisasi, dan Inklusivitas
Oleh --- -
Editor Muhammad Efriza Pandia
Dok. Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D.
BANDUNG, itb.ac.id – Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D., menjadi narasumber dalam webinar nasional bertajuk “Masa Depan Penataan Ruang untuk Pembangunan Berkelanjutan” yang diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Kamis (30/7/2026).
Dalam agenda tersebut, Prof. Ridwan membahas transformasi penataan ruang menuju pendekatan yang lebih adaptif, berkelanjutan, berbasis data, dan responsif terhadap dinamika lingkungan maupun kebutuhan masyarakat. Menurutnya, perkembangan kota dan wilayah yang semakin kompleks membuat penataan ruang tidak lagi cukup dipahami sebagai penyusunan peta atau master plan yang bersifat statis.
"Paradigma penataan ruang telah berkembang dari pendekatan blueprint atau tradisional menuju pendekatan sistem, hingga kini memasuki era kontemporer yang mengedepankan integrasi sistem, keberlanjutan, resiliensi, digital twin, pemantauan secara real-time, dan mekanisme umpan balik. Dengan demikian, tata ruang perlu menjadi bagian dari siklus pengelolaan wilayah yang terus diperbarui sejalan dengan perubahan kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan teknologi," katanya.
Keberlanjutan sebagai Fondasi Penataan Ruang

Dalam paparannya, Prof. Ridwan mengaitkan penataan ruang berkelanjutan dengan kerangka WEHAB, yang mencakup aspek air (water), energi (energy), kesehatan (health), pertanian (agriculture), dan keanekaragaman hayati (biodiversity).
Pada aspek air, misalnya, batas daerah aliran sungai (DAS) dan kondisi air tanah perlu menjadi pertimbangan utama dalam alokasi ruang. Pendekatan seperti water sensitive urban design, sponge city, perlindungan mata air, sabuk hijau bantaran sungai, hingga taman retensi dapat digunakan untuk meningkatkan ketahanan wilayah terhadap persoalan air. Sementara itu, dari sisi energi, struktur kota yang kompak, penggunaan lahan campuran, dan pengembangan kawasan berbasis Transit-Oriented Development (TOD) dapat membantu mengurangi jarak perjalanan dan konsumsi energi.
"Penataan ruang juga perlu mendukung kesehatan masyarakat melalui penyediaan ruang terbuka hijau yang mudah diakses, jaringan pejalan kaki dan sepeda, serta pengendalian dampak urban heat island. Di sisi lain, perlindungan lahan produktif, pengembangan pertanian perkotaan, dan konektivitas ruang hijau menjadi penting untuk menjaga ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati," ungkapnya.
Lima Arah Penting Tata Ruang Masa Depan
Beliau menguraikan sejumlah kata kunci yang perlu diperhatikan dalam penataan ruang berkelanjutan, yakni resilience, spatio-digital transformation, smart growth and compactness, integrated governance, serta inclusivity.
Ketahanan atau resilience menempatkan daya dukung lingkungan dan risiko bencana maupun iklim sebagai pertimbangan penting dalam pembangunan. Sementara itu, transformasi digital spasial mendorong pemanfaatan data geospasial terintegrasi untuk menghasilkan perencanaan berbasis bukti (evidence-based planning).
"Perkembangan teknologi juga membuka peluang penggunaan Urban Digital Twin, GeoAI Analytics, Satu Data Spasial, serta real-time monitoring. Berbagai teknologi tersebut dapat mengubah peta yang sebelumnya statis menjadi sistem informasi spasial yang dinamis, membantu mendeteksi perubahan pemanfaatan lahan, melakukan simulasi pembangunan, hingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih presisi," paparnya.
Meski demikian, Prof. Ridwan menegaskan bahwa teknologi tetap merupakan alat bantu. Penataan ruang pada akhirnya harus menempatkan manusia sebagai bagian penting di dalam proses perencanaan. Karena itu, partisipasi publik yang bermakna, keadilan spasial, aksesibilitas universal, serta perencanaan kolaboratif perlu menjadi bagian dari tata kelola ruang masa depan.
Tata Ruang sebagai Dokumen yang Hidup
Dalam menghadapi ketidakpastian masa depan, Prof. Ridwan mengangkat tiga kemampuan penting, yaitu Thinking Ahead, Thinking Again, dan Thinking Across. Thinking Ahead diperlukan untuk mengantisipasi perubahan iklim, risiko bencana, dan perkembangan teknologi. Thinking Again berarti berani mengevaluasi serta memperbaiki kebijakan atau zonasi yang tidak lagi efektif. Adapun Thinking Across menekankan pentingnya mempelajari praktik baik dari berbagai wilayah dan menyesuaikannya dengan karakter serta kearifan lokal Indonesia.
Pendekatan tersebut kemudian perlu diterjemahkan ke dalam adaptive policies, yakni menjadikan rencana tata ruang sebagai living document, bukan rencana yang kaku. Pelaksanaannya harus diiringi pengendalian pemanfaatan ruang, insentif dan disinsentif, penegakan hukum, serta audit tata ruang secara berkala.
Melalui pendekatan tersebut, tata ruang diharapkan tidak hanya mengatur lokasi pembangunan, tetapi menjadi instrumen strategis untuk mewujudkan wilayah yang aman, nyaman, produktif, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Perencanaan ruang masa depan pun membutuhkan sinergi antara kepakaran manusia, pemanfaatan teknologi, tata kelola yang adaptif, serta keberpihakan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
.jpg)



