Orasi Ilmiah Prof. Ganda Marihot Simangunsong: Mengendalikan Dampak Peledakan di Area Kritis
Oleh Chysara Rabani - Mahasiswa Teknik Pertambangan, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Orasi Ilmiah Guru Besar di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Sabtu (8/8/2026). Pada kesempatan ini, Prof. Dr.Eng. Ir. Ganda Marihot Simangunsong, S.T., M.T., IPM. dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB menyampaikan orasi berjudul “Teknik Peledakan di Area Kritis pada Industri Pertambangan dan Proyek Infrastruktur di Indonesia”.
Prof. Ganda menjelaskan bahwa peledakan merupakan metode penting dalam pembongkaran batuan, terutama ketika menghadapi batuan sangat keras dan volume penggalian yang besar. Meskipun penggalian mekanis lebih fleksibel dan relatif aman, metode tersebut memiliki keterbatasan pada batuan berkekuatan tinggi.
“Ketika kita berhadapan dengan batuan yang sangat keras, penggalian secara mekanis tidak lagi efektif. Di situlah peledakan diperlukan sebagai metode pembongkaran yang efektif, khususnya ketika volume batuan yang harus dibongkar sangat besar,” kata Prof. Ganda.
Kebutuhan tersebut terlihat pada skala produksi pertambangan Indonesia. Untuk menghasilkan sekitar 50 juta ton batubara per tahun, material penutup yang harus dibongkar dapat mencapai sekitar satu juta BCM per hari. Volume tersebut setara dengan menggali lapangan sepak bola hingga kedalaman sekitar 140 meter. Karena itu, peledakan menjadi salah satu metode penting untuk mencapai efisiensi pembongkaran batuan.
Peledakan sebagai Proses Rekayasa
Prof. Ganda menjelaskan bahwa bahan peledak merupakan substansi kimia atau campuran yang menghasilkan ledakan ketika diinisiasi. Reaksinya berlangsung sangat cepat dan dapat menghasilkan kecepatan hingga sekitar 10.000 meter per detik. Namun, keamanan peledakan tidak hanya ditentukan oleh bahan peledaknya.
“Aman atau tidaknya bahan peledak sangat tergantung pada pengetahuan kita dalam mengendalikan bahan peledak tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, rancangan peledakan merupakan proses integratif yang mempertimbangkan kondisi massa batuan, peralatan, biaya, jenis bahan peledak, geometri, waktu tunda, serta pola inisiasi. Keberhasilan peledakan tidak sekadar menghasilkan pembongkaran, tetapi juga ditentukan oleh keselamatan, fragmentasi, dan dampak terhadap lingkungan. Terlebih di area kritis, dampak peledakan harus diminimalkan melalui desain dan pemantauan yang tepat.
Mengendalikan Dampak di Area Kritis
Prof. Ganda memaparkan pengalamannya dalam sejumlah proyek, termasuk PT Freeport Indonesia, Papua, pada 2017-2018 serta pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung pada 2019-2020.
Pada Terowongan 11 Kereta Cepat Jakarta–Bandung di Bandung Barat, tantangan utama adalah lokasi terowongan yang berdekatan dengan permukiman. Kekhawatiran masyarakat terhadap kerusakan rumah bahkan sempat memicu demonstrasi.
Untuk mengatasinya, desain peledakan disesuaikan melalui penggunaan bahan peledak emulsi berbentuk cartridge, waktu tunda lebih panjang, muatan bahan peledak yang lebih sedikit per lubang, serta pembagian peledakan menjadi beberapa segmen. Kondisi lapangan juga dipantau melalui pengukuran getaran tanah, ledakan udara, lebar retakan, dan pergerakan permukaan. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan kondisi awal dan menunjukkan tidak adanya perubahan berarti.
Studi kasus lainnya dilakukan di PT Borneo Indobara, Kalimantan Selatan, pada 2020-2024. Pada salah satu lereng, peledakan tidak diperbolehkan dalam radius 500 meter karena adanya potensi longsor.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, digunakan analisis signature hole guna memahami karakteristik getaran khas massa batuan. Informasi tersebut digunakan untuk mengoptimalkan pola waktu tunda agar gelombang dari setiap lubang ledak tidak saling memperkuat, tetapi dapat saling melemahkan melalui destructive interference.
Prediksi getaran selanjutnya digunakan dalam analisis kestabilan lereng dinamik untuk menentukan hubungan muatan bahan peledak dan jarak terhadap lereng. Pendekatan ini menghasilkan rekomendasi pola penyalaan yang lebih optimal sekaligus menawarkan metode baru dalam pengendalian getaran peledakan jenjang.
Peluang Pengembangan Teknologi dan Kompetensi
Prof. Ganda melihat keterbatasan teknologi pemantauan di Indonesia sebagai peluang untuk mengembangkan produk pemantauan dalam negeri yang berkualitas. Di sisi lain, kesenjangan keterampilan tenaga kerja membuka ruang bagi pelatihan dan sertifikasi subspesialis di bidang teknik peledakan, geoteknik, dan pemantauan lingkungan.
“Meskipun penerapan praktik terbaik membutuhkan investasi awal, manfaat jangka panjang berupa pengurangan risiko kerusakan, keluhan masyarakat, dan gangguan produksi dapat menghasilkan efisiensi biaya,” ujarnya.
Profil Prof. Ganda Marihot Simangunsong
Prof. Dr.Eng. Ir. Ganda Marihot Simangunsong, S.T., M.T., IPM. merupakan Guru Besar pada Kelompok Keahlian Teknik Pertambangan, FTTM ITB, dengan bidang kepakaran Penggalian dan Peledakan Batuan. Saat ini, beliau juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang.
Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di ITB serta Montanuniversität Leoben, Austria, dan meraih doktor dari Kyushu University, Jepang. Prof. Ganda telah menghasilkan satu buku referensi, satu paten, 73 publikasi internasional, dan 17 publikasi nasional. Bidang pengabdiannya berfokus pada peledakan tambang, peledakan terowongan, dan geoteknik.
Atas kontribusinya, beliau menerima penghargaan Karya Inovasi, Young Scientist Award, serta Satyalencana Karya Satya 10 Tahun. Di luar kegiatan akademik, Prof. Ganda menekuni triathlon dan memiliki target menyelesaikan 50 kali marathon.




