Pakar ITB Ungkap Dampak Ekologis Kebakaran Bromo hingga Strategi Restorasinya

Oleh Dina Avanza Mardiana - Mahasiswa Mikrobiologi, 2022

Editor Muhammad Efriza Pandia

Ilustrasi gunung (dok. Pexels)

BANDUNG, itb.ac.id — Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, sejak awal Agustus 2026. Api kemudian meluas di sejumlah kawasan dengan kondisi vegetasi yang kering dan medan yang cukup sulit dijangkau. Balai Besar TNBTS menduga kebakaran dipicu aktivitas manusia, meskipun penyebab pastinya masih dalam penyelidikan. Untuk mendukung proses pemadaman sekaligus menjaga keselamatan pengunjung, seluruh akses wisata Gunung Bromo juga ditutup mulai Sabtu (8/8/2026).

Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak terhadap aktivitas wisata, tetapi juga menimbulkan perhatian terhadap kondisi ekologis kawasan. Menanggapi hal ini, Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., memberikan pandangan ilmiah mengenai dampak kebakaran terhadap ekosistem, potensi perpindahan satwa, daya lenting lingkungan, hingga strategi pemulihan yang tepat.

Prof. Endah menjelaskan bahwa hilangnya sebagian biomassa akibat kebakaran merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, memahami karakteristik api dan ekosistem yang terbakar menjadi langkah penting untuk menentukan respons dan strategi pemulihan kawasan.

Memahami Karakteristik Api dan Ekosistem Savana
Secara ekologis, terjadinya kebakaran bergantung pada tiga unsur utama, yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di kawasan alam seperti Bromo, bahan bakar tersebut berasal dari biomassa yang terdapat di permukaan tanah.

“Kebakaran itu terjadi karena ada bahan bakar, oksigen, dan api. Bahan bakar di alam itu adalah biomassa yang bisa berupa daun, bunga, buah, atau kayu,” papar Prof. Endah.

Pada musim kemarau, biomassa tersebut menjadi lebih kering sehingga semakin mudah terbakar. Kondisi ini menjadi semakin penting diperhatikan pada ekosistem savana yang memiliki karakteristik terbuka.

“Savana itu, meskipun biomassanya tergolong sedikit dibandingkan hutan lebat, kondisinya sangat terbuka. Karena terbuka, paparan panasnya tinggi dan angin bisa menyebar dengan sangat cepat,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat api dapat menyebar dengan cepat ketika percikan api mengenai vegetasi yang kering. Karena itu, karakteristik lanskap dan kondisi vegetasi perlu menjadi pertimbangan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran.

Dampak terhadap Keanekaragaman Hayati dan Satwa Liar
Dalam perspektif ekologi, api merupakan salah satu bentuk gangguan (disturbance) terhadap dinamika ekosistem. Ketika terjadi gangguan, ekosistem pada dasarnya memiliki kemampuan untuk merespons dan memulihkan diri.

“Secara ekologi, api itu dipandang sebagai sebuah bentuk ‘gangguan’ (disturbance) terhadap dinamika ekosistem. Begitu ada gangguan, ekosistem secara alami akan merespons untuk melakukan pemulihan,” ungkap Prof. Endah.

Namun, kebakaran tetap memberikan dampak langsung terhadap komponen ekosistem, terutama tumbuhan yang tidak dapat berpindah untuk menghindari api.

“Yang membuat ini berbahaya adalah satwa besar mungkin bisa lari menghindar, tapi tumbuhan tidak bisa,” imbuhnya.

Hilangnya vegetasi akibat kebakaran dapat mengurangi tempat berlindung sekaligus sumber pakan bagi satwa liar. Kondisi tersebut kemudian dapat mendorong satwa untuk berpindah mencari ruang yang lebih aman.

“Apabila satwa liar memiliki waktu yang cukup, mereka akan berupaya melarikan diri. Persoalannya adalah, apakah masih tersedia ruang aman bagi mereka untuk berlindung? Jika tidak, mereka terpaksa memasuki kawasan pemukiman penduduk,” jelasnya.

Perpindahan satwa ke kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia berpotensi meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa. Di sisi lain, kebakaran juga dapat mengancam fasilitas pariwisata maupun permukiman warga yang berada di sekitar kawasan terdampak.

Ekosistem Memiliki Daya Lenting untuk Pulih

Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D.

Meskipun kebakaran dapat memberikan dampak yang luas, Prof. Endah menekankan bahwa ekosistem memiliki kemampuan alami untuk memulihkan diri. Kemampuan tersebut dikenal sebagai resiliensi atau daya lenting ekosistem dan berlangsung melalui proses suksesi.

“Setiap ekosistem yang terganggu akan memiliki kemampuan memulihkan diri, itu namanya proses suksesi,” tutur Prof. Endah.

Menurutnya, ketika curah hujan kembali membasahi kawasan Bromo, benih-benih rumput yang masih tersedia di dalam tanah berpotensi kembali berkecambah dan membantu memulihkan tutupan vegetasi secara alami.

Dalam jangka panjang, kebakaran yang terjadi secara berulang juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses seleksi alam dan adaptasi spesies. Prof. Endah mencontohkan ekosistem kayu putih (Eucalyptus urophylla) di Timor yang memiliki kulit batang sangat tebal sehingga mampu bertahan dari paparan api.

Dalam kondisi tersebut, api dapat memberikan keuntungan ekologis bagi spesies yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap kebakaran, antara lain dengan mengurangi keberadaan spesies pesaing di sekitarnya.

Restorasi Kawasan Perlu Mempertimbangkan Karakter Ekosistem
Terkait upaya pemulihan kawasan pascakebakaran, Prof. Endah menyarankan agar pengelola menerapkan pendekatan yang hati-hati dan berbasis pada kondisi ekosistem. Salah satunya melalui restorasi pasif dengan memberikan kesempatan bagi alam untuk menunjukkan kemampuan pemulihannya terlebih dahulu.

“Satu hal yang paling penting: jangan terburu-buru melakukan penanaman massal (restorasi aktif). Sering kali orang menganggap setelah kebakaran, solusinya harus langsung ditanami pohon banyak-banyak,” tegasnya.

Menurut Prof. Endah, pengelola perlu terlebih dahulu memantau proses pemulihan alami yang ditandai dengan munculnya kembali rumput dan anakan pohon sebelum menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.

Pendekatan tersebut penting karena setiap ekosistem memiliki karakteristik yang berbeda. Penanaman pohon berkayu secara massal di kawasan yang secara alami merupakan savana justru berpotensi mengubah karakter ekosistem tersebut.

“Kalau kita langsung intervensi dengan menanam, apalagi jika yang ditanam adalah pohon berkayu massal di area yang sejatinya savana, kita malah mengubah ekosistem savana menjadi hutan,” jelasnya.

Menurutnya, karakter savana di kawasan Bromo juga berkaitan dengan dinamika api yang berlangsung secara alami di wilayah tersebut. Karena itu, pemulihan kawasan perlu mempertimbangkan karakter ekologis asli agar intervensi yang dilakukan tidak justru mengubah fungsi dan struktur ekosistem.

Pemetaan dan Mitigasi Risiko Pascakebakaran
Selain memberikan kesempatan bagi ekosistem untuk memulihkan diri, Prof. Endah menilai terdapat sejumlah langkah penting yang perlu dilakukan setelah kebakaran. Salah satunya adalah melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi dan luasan kawasan yang terdampak.

Pemetaan spasial berbasis teknologi satelit dapat digunakan untuk mengidentifikasi sebaran area terbakar secara lebih akurat. Data tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan dan pemulihan kawasan.

Aspek lain yang perlu mendapat perhatian adalah potensi gangguan terhadap sistem hidrologi. Hilangnya vegetasi penutup lahan dapat memengaruhi kemampuan tanah dalam menahan dan menyerap air ketika musim hujan tiba. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan limpasan air dan risiko longsor di kawasan lereng Bromo.

Karena itu, pemantauan kondisi lahan dan sistem hidrologi pascakebakaran menjadi bagian penting dalam upaya mengantisipasi dampak lanjutan sekaligus menentukan bentuk pemulihan yang sesuai.

Di samping pemulihan ekologis, upaya pencegahan kebakaran juga perlu diperkuat. Jika aktivitas manusia menjadi faktor pemicu kebakaran, pengawasan terhadap perilaku pengunjung perlu ditingkatkan, terutama pada musim kemarau ketika vegetasi berada dalam kondisi lebih rentan terbakar.

“Pihak taman nasional wajib memastikan tidak ada lagi aktivitas yang memicu percikan api, terutama saat musim kemarau di mana vegetasi sedang berada pada kondisi yang paling rentan untuk terbakar,” pungkas Prof. Endah.

Dengan pemahaman terhadap karakter ekosistem, pemanfaatan teknologi untuk pemetaan, serta pengelolaan yang mempertimbangkan proses pemulihan alami, upaya pemulihan kawasan terdampak kebakaran di Bromo diharapkan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan tetap menjaga karakter ekologis kawasan.

#pakar itb #sith itb #gunung bromo #sdg6 #clean water and sanitation #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg12 #responsible consumption and production