“Setanah, Tak Diam”, Dekatkan Riset Kebencanaan ke Masyarakat Melalui Pameran

Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gamma Metrics, Resilience Development Initiative (RDI), British Geological Survey (BGS), Kyoto University, dan University of Leeds berkolaborasi menyelenggarakan pameran “Setanah, Tak Diam: Merawat dan Membentuk Masa Depan di Tanah Bergerak” di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Bandung. Pameran dibuka pada Jumat (28/8/2026) dan dapat dikunjungi masyarakat pada Sabtu (29/8/2026).

Pameran tersebut mengangkat hubungan antara manusia, pengetahuan, dan bumi yang senantiasa bergerak dan berubah, khususnya dalam konteks Indonesia sebagai wilayah dengan dinamika geologis yang tinggi. Melalui pameran ini, publik diajak tidak memandang bencana sebagai peristiwa yang terpisah dan sesaat, melainkan sebagai bagian dari interaksi yang terus berlangsung antara masyarakat dan sistem alam yang dinamis.

“Setanah, Tak Diam” mengeksplorasi bagaimana masyarakat memahami, merespons, dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dari masa ke masa. Berbagai hasil penelitian dan pengetahuan mengenai kondisi lingkungan diterjemahkan melalui pendekatan yang mempertemukan sains, seni, budaya, serta pengalaman masyarakat sehingga lebih dekat dan mudah dipahami publik.

Pameran tersebut membawa pesan bahwa pengetahuan mengenai perubahan lingkungan diperlukan bukan untuk menciptakan ketakutan, melainkan untuk membangun kesadaran, kesiapan, dan kemampuan masyarakat dalam merespons kondisi lingkungan secara lebih baik.

Dari Riset Kebencanaan Menuju Dampak Publik

“Setanah, Tak Diam” juga menjadi ruang diseminasi hasil penelitian “Seismic Synergy: Learning from Traditional Wisdom to Build a Resilient Future”, sebuah proyek riset internasional yang didukung Toyota Foundation.

Penelitian tersebut mempertemukan peneliti dari ITB, The University of Tokyo, Kyoto University, NED University of Engineering and Technology (Pakistan), Pinion, dan Institute of Himalayan Risk Reduction (Nepal), serta sejumlah mitra penelitian seperti BRIN, BGS, dan RDI.

Dengan dukungan program International Science Partnership Fund (ISPF) dari British Council, penelitian tersebut mengeksplorasi dampak kebencanaan sekaligus mendokumentasikan dan mengkaji pengetahuan konstruksi tradisional di kawasan rawan gempa sebagai sumber pembelajaran untuk membangun masa depan yang lebih tangguh.

Memahami Risiko, Bukan Menumbuhkan Ketakutan

Koordinator Pameran “Setanah, Tak Diam”, Prasanti Widyasih Sarli, S.T., M.Eng., Ph.D., mengatakan, pameran tersebut tumbuh dari riset yang dilakukan ilmuwan dari Indonesia, Inggris, Nepal, dan Jepang.

“Tiga dari empat negara ini hidup dengan realitas tanah yang terus bergeser dan risiko bencana alam yang menyertainya. Dari sinilah judul pameran ini berasal: Setanah Tak Diam,” ujarnya.

Pameran ini dirancang sebagai ruang publik yang mempertemukan sains, seni, budaya, dan pengalaman masyarakat untuk membangun pemahaman mengenai perubahan lingkungan, risiko kebencanaan, kondisi danau serta bentang alam, hingga hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

“Saya berharap, mewakili semua pihak yang terlibat, apa yang telah kita ciptakan bersama ini dapat dirasakan, dipahami, dan pada akhirnya bermanfaat bagi kita semua,” kata Prasanti.

Pendekatan komunikasi dalam “Setanah, Tak Diam” menempatkan kesadaran sebagai pesan utama. Informasi mengenai bencana, skala, potensi dampak, maupun tingkat risiko perlu dipahami bersama konteks ilmiah, asumsi, dan keterbatasannya, bukan diposisikan sebagai kepastian bahwa suatu bencana akan terjadi.

Dengan demikian, pameran mengajak publik menggeser perhatian dari pertanyaan “apa yang harus ditakuti” menuju “apa yang perlu dipahami dan apa yang dapat dilakukan”. Masyarakat didorong untuk semakin mengenali lingkungan tempat mereka hidup, memahami perubahan dan risiko secara lebih baik, serta membangun kesiapan berdasarkan pengetahuan.

Membuka Ruang Percakapan yang Lebih Luas

Pengetahuan yang berasal dari penelitian dan pengalaman lapangan dalam “Setanah, Tak Diam” diterjemahkan melalui berbagai bentuk narasi dan pengalaman visual agar dapat diakses publik dengan pendekatan yang lebih dekat.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., mengatakan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan tersebut juga perlu dapat dipahami, dibagikan, dan pada akhirnya digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

“Kita harus bergerak dari keunggulan riset menuju dampak publik, dampak bagi masyarakat. Nilai suatu riset hendaknya juga diukur dari kemampuannya untuk memperkuat masyarakat, memberi masukan bagi pengambilan keputusan, meningkatkan kesadaran publik, serta memberikan solusi bagi masalah nyata di masyarakat,” ujarnya.

Prof. Tata mengatakan, kompleksitas persoalan kebencanaan juga tidak dapat diatasi oleh satu disiplin ilmu saja. Selain ilmu kebumian, teknik, teknologi, dan pemodelan ilmiah, dibutuhkan pula arsitektur, ilmu sosial, humaniora, desain, seni, komunikasi, serta pengetahuan dan pengalaman masyarakat.

“Di situlah pendekatan STEAM menjadi penting: menghubungkan sains dan teknologi dengan seni, desain, budaya, dan yang terpenting, masyarakat,” katanya.

#itb #setanah tak diam #pameran #riset kebencanaan #mitigasi bencana #kebencanaan #sains #seni #budaya #steam #kolaborasi riset #riset internasional #seismic synergy #selasar sunaryo art space #brin #british geological survey #kyoto university #university of leeds #british council #sdg 4 #pendidikan berkualitas #sdg 9 #industri inovasi dan infrastruktur #sdg 11 #kota dan permukiman yang berkelanjutan #sdg 13 #penanganan perubahan iklim #sdg 17 #kemitraan untuk mencapai tujuan