Tiga Alumni ITB Tampil sebagai Dalang, PSTK Hidupkan Seni Budaya Jawa melalui Amarta Binangun
Oleh Vito Egi Nandriansyah - Teknik Geofisika, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Ki Jiyo Harjo Suwito, alumnus Matematika ITB, unjuk kebolehan dalam Pathet Nem Lakon Amarta Binangun, Sabtu (15/8/2026). (Herdina Primasanti)
BANDUNG, itb.ac.id — Tiga alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dari bidang Matematika, Teknik Fisika, dan Teknik Perminyakan kembali ke almamater sebagai dalang dalam Pagelaran Wayang Kulit Amarta Binangun di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Sabtu (15/8/2026). Kehadiran mereka menjadi bagian dari pertemuan lintas generasi yang mempertemukan alumni, mahasiswa, dan pegiat seni dalam upaya menjaga keberlanjutan seni budaya Jawa.
Ketiga dalang tersebut ialah Ki Jiyo Harjo Suwito, alumnus Matematika ITB yang tampil pada Pathet Nem; Ki Andriyanto Setyawan, alumnus Teknik Fisika ITB pada Pathet Sanga; serta Ki Bambang Sadarta, alumnus Teknik Perminyakan ITB pada Pathet Manyura. Berangkat dari tiga bidang keilmuan yang berbeda, ketiganya kembali dipertemukan oleh panggung seni di almamater.
Pagelaran Amarta Binangun tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga ruang silaturahmi antara keluarga besar Alumni PSTK ITB, mahasiswa aktif, dan para penggiat seni. Pemrakarsa kegiatan, Prof. Ir. Edi Leksono, M.Eng., Ph.D., menuturkan bahwa pertemuan tersebut sengaja diwujudkan melalui karya bersama.
“Sebagai ajang silaturahmi antara anggota aktif dan alumni PSTK ITB, juga seluruh pegiat seni. Tidak berupa nongkrong, tetapi pagelaran bersama,” ujarnya

Demonstrasi pembuatan kerajinan secara langsung oleh Omah Seni Melikan, Sabtu (15/8/2026). (Herdina Primasanti)
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Amarta Binangun merupakan kolaborasi Waras Wiris Wirama, Paguyuban Reksa Budaya PT Dirgantara Indonesia, Omah Seni Melikan, PSTK ITB, dan Keluarga Besar Alumni PSTK ITB.
PSTK ITB dan Jejaring Budaya Lintas Generasi
Sejak berdiri pada 7 Maret 1971, PSTK ITB telah menjadi bagian dari perjalanan seni dan budaya di lingkungan ITB selama lebih dari lima dekade. Melalui tari, karawitan, dan berbagai bentuk kesenian Jawa, PSTK menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berproses, dan berkarya sekaligus mengenal serta merawat kebudayaan Jawa di tengah kehidupan akademik.
Jejaring tersebut tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan studinya. Dalam Amarta Binangun, alumni kembali mengambil peran sebagai pelaku pertunjukan sekaligus bagian dari proses keberlanjutan kegiatan seni di lingkungan PSTK. Kontribusi tersebut hadir melalui karya, waktu, jejaring, dan keterlibatan langsung dalam kegiatan kebudayaan.

Ki Bambang Sadarta, alumni Teknik Perminyakan ITB, menyampaikan Janturan di Pathet Manyura lakon Amarta Binangun, Sabtu (15/8/2026). (Alfian Rahma Ayu Indrajati)
Lurah PSTK ITB 2026, Elvina Padmasari, mengatakan semangat tersebut sejalan dengan arah kepengurusan PSTK ITB 2026 di bawah Badan Pengurus Antakara. Nama Antakara dimaknai sebagai ruang penghubung yang merepresentasikan harapan untuk menjembatani gagasan, aspirasi, dan seluruh anggota PSTK.
“Antakara dapat dimaknai sebagai ruang penghubung, yang merepresentasikan harapan kami agar kepengurusan ini dapat menjadi penghubung antara gagasan, aspirasi, dan seluruh anggota PSTK, sekaligus menjaga PSTK sebagai ruang untuk berkesenian dan melestarikan budaya Jawa di ITB,” ungkap Vina.
Semangat keterhubungan tersebut diwujudkan melalui berbagai ruang kolaborasi antara mahasiswa aktif dan alumni, termasuk keterbukaan bagi alumni untuk kembali berlatih tari dan karawitan bersama. Jejaring keluarga besar PSTK lintas angkatan juga terus dijaga sebagai ruang untuk berbagi informasi, pengalaman, dan peluang kolaborasi.

Penampilan anak-anak oleh Widyasiwi Laksitatama, Omah Seni Melikan, Sabtu (15/8/2026). (Herdina Primasanti)
Keberlanjutan aktivitas PSTK turut tercermin melalui berbagai capaian, salah satunya Gandrung Marsan yang meraih Juara 1 ITB Got Talent.
Dari Alumni hingga Dalang Cilik
Semangat regenerasi turut hadir melalui keterlibatan Widyasiwi Laksitatama, Omah Seni Melikan (OSM), Wedi, Klaten, yang menghadirkan penampilan tari dan wayang kulit oleh anak-anak usia dini dan sekolah dasar.
Salah satu penampil yang turut unjuk kebolehan ialah Mas Iyo, dalang cilik yang hadir dalam rangkaian pagelaran. Kehadirannya menunjukkan bahwa regenerasi pedalangan berlangsung melalui pemberian ruang bagi generasi muda untuk belajar, tampil, dan mengalami langsung kesenian yang dipelajarinya.

Dalang cilik, Mas Iyo, turut unjuk kebolehan dalam adegan perang kembang, Sabtu (15/8/2026). (ITB/Herdina Primasanti)
Pagelaran juga diramaikan dengan Tari Gambyong Ayun-Ayun, yang melengkapi sajian pedalangan dan memperkaya ragam seni tradisi Jawa dalam satu panggung. Pertunjukan wayang dikemas pada siang hari sehingga dapat dinikmati berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan para pinisepuh.

Para pengrawit mengiringi Pagelaran Wayang Kulit Amarta Binangun di Aula Barat ITB, Sabtu (15/8/2026). (Herdina Primasanti)
Semangat tersebut tercermin dalam gagasan ngurip-urip seni budaya Jawa—menghidupkan ekosistemnya melalui latihan, pertunjukan, kolaborasi, regenerasi, serta keterlibatan berbagai generasi.
Melalui Amarta Binangun, PSTK ITB menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga tradisi agar tetap ada, tetapi memastikan selalu ada ruang bagi setiap generasi untuk mempelajari, menghidupkan, dan meneruskannya.

.jpg)



