Tim Mahasiswa ITB Raih Prestasi Nasional Lewat Inovasi CCS untuk Industri Migas Berkelanjutan

Oleh Ilham Rezy Saputra - Teknik Perminyakan, 2022

Editor Muhammad Efriza Pandia

Tim mahasiswa ITB meraih 1st Runner Up OGIP 2026 dengan gagasan Plan of Development berbasis Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung pengurangan emisi karbon dan Net Zero Emission Indonesia 2060. (Dok. Tim Wartag)

YOGYAKARTA, itb.ac.id — Tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung meraih 1st Runner Up dalam Plan of Development Competition OGIP 2026 melalui gagasan pemanfaatan lapangan migas tua untuk penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Kompetisi ini berlangsung di Yogyakarta, dengan babak final pada 2 Mei 2026 dan awarding pada 3 Mei 2026.

Dalam kompetisi tersebut, peserta diminta merancang pengembangan lapangan minyak yang sudah tidak berproduksi atau memasuki fase abandonment. Namun, bukan untuk meningkatkan produksi minyak seperti pengembangan lapangan migas pada umumnya, tim ITB mengusulkan kajian kelayakan lapangan tersebut sebagai tempat penyimpanan karbon.

Melalui konsep CCS, karbon dioksida atau CO₂ yang dihasilkan dari aktivitas industri dapat ditangkap, lalu diinjeksikan ke dalam reservoir bawah permukaan. Reservoir tersebut dapat berupa lapangan migas yang sudah terdeplesi maupun akuifer salin. Dengan cara ini, lapangan migas tua tidak hanya dipandang sebagai aset yang telah selesai digunakan, tetapi juga dapat memiliki fungsi baru dalam mendukung pengurangan emisi karbon.

Gagasan ini menjadi relevan karena industri migas masih memiliki peran penting bagi perekonomian dan ketahanan energi Indonesia. Di sisi lain, sektor ini menghadapi tantangan untuk menekan emisi. Menurut tim, CCS dapat menjadi salah satu solusi untuk menyeimbangkan kebutuhan energi dengan komitmen lingkungan, terutama dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060.

Tim juga melihat potensi pengembangan lebih lanjut melalui konsep Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Berbeda dengan CCS yang berfokus pada penyimpanan CO₂, CCUS memungkinkan CO₂ dimanfaatkan kembali, salah satunya untuk mendukung Enhanced Oil Recovery (EOR). Dengan demikian, teknologi ini berpotensi membantu pengurangan emisi sekaligus mendukung target produksi migas nasional.

Dalam menyusun rancangan tersebut, tim menggunakan pendekatan multidisiplin yang mencakup aspek geologi, geofisika, petrofisika, reservoir, produksi, pengeboran, HSE, hingga keekonomian. Mereka juga menjadikan PTK-037 dan PTK-70 SKK Migas sebagai acuan dalam merancang satu siklus penuh Plan of Development.

Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan capstone dan tugas akhir, tim tetap menjaga komitmen untuk menyelesaikan karya dengan maksimal. Bagi mereka, dedikasi menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan dalam kompetisi ini.

“Harapannya, setiap anggota tim mampu sukses berkarier di industri migas dan nantinya dapat mengimplementasikan ide POD ini di dunia nyata demi terciptanya Indonesia yang andal secara energi dan membanggakan di kancah internasional,” ujar tim.

Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa ITB tidak hanya mampu berkompetisi secara akademik, tetapi juga menghadirkan gagasan yang menjawab tantangan masa depan industri energi. Melalui pemanfaatan lapangan migas tua untuk penyimpanan karbon, karya ini menjadi contoh bagaimana inovasi di bidang migas dapat diarahkan menuju industri yang lebih berkelanjutan.

#itb #itb berdampak #mahasiswa itb #teknik perminyakan itb #fttm itb #carbon capture and storage #ccs #ccus #carbon capture utilization and storage #industri migas #migas berkelanjutan #net zero emission #energi berkelanjutan #transisi energi #karya mahasiswa #prestasi mahasiswa #sdg 7 #affordable and clean energy #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 12 #responsible consumption and production #sdg 13 #climate action #sdg 17 #partnerships for the goals