Usung Inovasi Panel Surya dari Limbah Plastik PET, Mahasiswa ITB Juara 1 PROCESS 2.0
Oleh Mufti Ali Farkhan - Mahasiswa Oseanografi, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Tim yang terdiri atas Roihan M. Iqbal, Muhamad Abdulah Al Azam, dan Nahiza Hazim Valensi Miriandran meraih Juara 1 pada kompetisi Product Innovation Process 2.0 yang diselenggarakan oleh AIChE ITB Student Chapter di ITB Kampus Ganesha.
PROCESS 2.0 (Progressive Research of Chemical Engineering Solution Summit) merupakan kompetisi tahunan yang bertujuan mendorong inovasi berdampak dalam keberlanjutan. Tahun ini, kompetisi mengusung tema "Meningkatkan Keberlanjutan: Membentuk Masa Depan, Mendefinisikan Kembali Limbah, dan Meningkatkan Kehidupan Cerdas", yang selaras dengan beberapa poin SDGs. Kompetisi ini menantang peserta mengembangkan solusi yang mendefinisikan ulang pengelolaan limbah dan mendorong praktik hidup yang lebih berkelanjutan dan cerdas.
Kompetisi ini diikuti 120 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dengan dua kategori utama, yaitu Inovasi Produk dan Makalah Teknik Kimia. Mahasiswa sarjana didorong mempresentasikan konsep inovatif dan aplikasi praktis yang menangani SDGs tersebut, dengan tujuan menciptakan dampak berkelanjutan yang nyata.
Tim ITB mengajukan karya inovatif bernama PETSOL, yaitu panel surya yang terbuat dari limbah botol plastik PET. Ide ini dilatarbelakangi oleh tingginya jumlah limbah botol plastik PET yang kurang didaur ulang, serta meningkatnya permintaan energi terbarukan sebagai alternatif energi fosil yang tidak ramah lingkungan. Melalui PETSOL, tim berharap dapat mengurangi limbah plastik sekaligus mendukung transisi penggunaan energi terbarukan.
"Kami melihat banyaknya limbah botol plastik PET yang tidak terkelola dengan baik, sementara kebutuhan akan energi terbarukan terus meningkat. Melalui PETSOL, kami ingin menawarkan solusi untuk kedua permasalahan tersebut," ujar Roihan, ketua tim.
Proses kompetisi terdiri atas beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan abstrak yang kemudian diseleksi menjadi proposal lengkap yang menjelaskan ide inovasi secara detail. Setelah melalui, proses seleksi yang ketat. Tim ITB berhasil lolos ke tahap final dan mempresentasikan karya mereka di hadapan dewan juri.
Namun, perjalanan tim tidak tanpa hambatan. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan dana untuk pembuatan prototipe. "Namun, dengan semangat dan kerja sama tim, kami berhasil mengatasinya," ungkap Muhamad Abdulah.
Pengalaman mengikuti kompetisi ini memberikan kesan mendalam bagi anggota tim. "Seru sekali, karena kami berkolaborasi dengan teman-teman dari berbagai jurusan. Ini memperkaya wawasan dan keterampilan kami," kata Roihan.
Tim berpesan tentang pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam mengikuti kompetisi. "Jika ingin mengikuti lomba, sebaiknya berkolaborasi dengan jurusan lain. Selain menambah ilmu, kolaborasi seperti ini bisa menjadi nilai tambah di mata juri," ujar Roihan.
Reporter: Mufti Ali Farkhan (Oseanografi, 2021)