Webinar IOM-ITB untuk Orang Tua Mahasiswa Baru: Perlunya Transformasi Pola Asuh di Era Digital
Oleh Jekky - Teknik Pertambangan, 2023
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id - Ikatan Orang Tua Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (IOM-ITB) menyelenggarakan webinar bertema "Mahasiswa Bukan Siswa Biasa: Mempersiapkan Diri Menjadi Orang Tua Mahasiswa di Era Transformasi Digital", Rabu (17/6/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan secara bauran dan disiarkan melalui kanal Zoom dan YouTube.
Narasumber pada kegiatan ini, yakni Dr. Afra Hafny Noer, S.Psi., M.Sc., Psikolog, (Ketua Program Studi, Wakil Dekan, serta Kepala Kantor Layanan Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran), Dwi Santoso, S.Sn., yang akrab disapa Kang Motul (Tenaga Ahli Komunikasi dan Artificial Intelligence Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia), serta Prof. Dr. Ir. Rinaldi Munir, M.T., (Guru Besar ITB) yang hadir sebagai pemberi tanggapan sekaligus orang tua mahasiswa ITB angkatan 2025. Acara ini dimoderatori Dr. Ayi Purbasari, S.T., M.T. selaku Ketua I IOM-ITB
Webinar ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesiapan orang tua dalam mendampingi putra-putrinya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di era transformasi digital. Kegiatan ini dirancang untuk membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan mahasiswa, menguatkan peran orang tua sebagai mitra pendamping, serta mempererat sinergi antara perguruan tinggi dan keluarga. Sasaran peserta tidak hanya orang tua mahasiswa baru ITB 2026, tetapi juga mahasiswa, tenaga kependidikan, praktisi pendidikan, dan masyarakat umum.
Dalam sambutannya, Ketua Umum IOM-ITB Hendro Setianto menekankan pentingnya orang tua memahami sistem informasi akademik ITB, termasuk akses SIX sebagai portal pemantauan kehadiran dan perkembangan akademik anak. Ia juga menyampaikan bahwa IOM-ITB telah menyalurkan lebih dari Rp2,4 miliar kepada lebih dari 448 mahasiswa dan 48 kegiatan mahasiswa pada tahun 2025, yang bersumber dari iuran dan sumbangan orang tua mahasiswa.
Transisi dari Siswa ke Mahasiswa
Dr. Afra Hafny Noer memaparkan bahwa mahasiswa baru berada pada fase emerging adulthood, yakni masa di antara remaja dan dewasa yang ditandai oleh eksplorasi identitas, ketidakstabilan emosi, dan dorongan membangun otonomi pribadi. Ia mengingatkan orang tua untuk tidak terjebak dalam pola helicopter parenting yang justru menghambat kemandirian anak.
"Orang tua harus berubah dari pola instruksi dan kontrol ketat menjadi berbasis otonomi dan dialog karena mahasiswa harus menjadi mitra," ujar Dr. Afra.

Dr. Afra juga merespons kekhawatiran orang tua soal perundungan dan burnout akademik. Menurutnya, orang tua perlu menjadi safe haven bagi anak dengan membuka ruang diskusi yang terbuka, bukan langsung memberi solusi, melainkan membantu anak mengelola emosinya.
Untuk menjembatani gap generasi antara orang tua dan anak, ia menyarankan orang tua melakukan self-disclosure, yaitu membuka diri terhadap topik-topik yang relevan bagi anak agar komunikasi tidak bersifat satu arah.
"Bukan berarti kita harus menjadi seperti anak, tetapi kita perlu punya topik yang dapat dijadikan jembatan untuk diskusi bersama," ujarnya.
Mengoptimalkan AI tanpa Kehilangan Kendali
Dwi Santoso menegaskan bahwa generasi mahasiswa saat ini lahir dan tumbuh di era digital sehingga menghadapi tiga tantangan sekaligus, di antaranya minimnya pengalaman sosial akibat pandemi Covid-19, ketergantungan pada dunia virtual, dan laju perubahan teknologi yang sangat cepat. Ia menekankan bahwa AI tidak akan mampu menggantikan kualitas kemanusiaan seperti empati, intuisi, nurani, dan human touch. "Jangan siapkan jalan untuk anak, tapi siapkan anak untuk jalan," ungkap Dwi.

Menurutnya, mahasiswa perlu melewati tiga fase: knowing (menguasai pengetahuan), doing (membangun pengalaman nyata), dan being (membentuk karakter dan identitas diri). Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan bertanya, bukan sekadar menjawab sebagai bekal menghadapi AI. "Kendali harus tetap ada di kita, bukan di mesinnya," tuturnya.
Realitas dari Lapangan
Prof. Rinaldi Munir menanggapi kedua paparan dari perspektif pengalamannya sebagai dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB. Menurutnya, AI boleh digunakan sebagai alat bantu berpikir dan brainstorming, tetapi tidak untuk menghasilkan luaran tugas secara langsung.

Prof. Rinaldi juga menyoroti persoalan kecanduan gim yang ia temui di lapangan. Dalam satu kasus, ia berhasil mendampingi mahasiswa kecanduan gim dengan mengalihkan energinya ke menulis blog menjadikan ini sebuah pendekatan yang pelan-pelan berhasil mengurangi ketergantungan tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa di ITB tidak ada istilah "jurusan lemparan" sebab semua prodi membekali mahasiswa dengan kemampuan problem solving yang relevan di berbagai bidang karier. "Yang dilatih di ITB adalah kemampuan berpikir, bukan sekadar nilai atau jurusan," katanya.
.jpg)

.jpg)



