Dzikri Firmansyah Hakam, Ph.D.: Optimisme Publik dan Ketahanan Energi untuk Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Oleh Anggun Nindita
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id — Dosen Kelompok Keahlian Risiko Bisnis dan Keuangan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Ir. Dzikri Firmansyah Hakam, S.T., Pg.Dip., M.Sc., Ph.D., menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik sebagai salah satu faktor strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Persepsi positif masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional dapat mendorong peningkatan investasi dan konsumsi, dua komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi.
Ia menilai, secara fundamental, perekonomian Indonesia masih memiliki landasan yang baik dan perlu terus diperkuat melalui kebijakan yang produktif serta berdampak luas bagi masyarakat.
“Ketika masyarakat percaya bahwa ekonomi Indonesia baik dan mengalami ekspansi, maka investasi dan konsumsi akan meningkat. Dua hal tersebut merupakan faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi yang harus dijaga,” ujarnya.
Selain itu, ia mengatakan pentingnya penguatan investasi pada sektor-sektor yang memiliki multiplier effect tinggi. Program-program yang telah berjalan baik perlu terus diperkuat, dengan tetap memperhatikan prioritas pada sektor yang mampu memberikan manfaat ekonomi lebih luas, menciptakan nilai tambah, dan membuka lapangan kerja.
Kondisi ekonomi Indonesia juga tidak terlepas dari berbagai faktor eksternal, seperti dinamika geopolitik global, pergerakan harga minyak mentah, serta arus modal internasional. Oleh karena itu, ruang kebijakan domestik perlu diarahkan untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.
“Kita tidak bisa mengontrol variabel eksternal seperti geopolitik atau pergerakan global capital flow. Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana fiskal kita diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang memiliki multiplier effect tinggi,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa penguatan sektor ekspor perlu terus didorong melalui peningkatan volume ekspor, hilirisasi industri, serta pengembangan produk bernilai tambah. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing nasional sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara konsisten dalam jangka panjang. “Kalau ingin menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi harus berada di atas 8% secara berkelanjutan dalam beberapa dekade,” katanya.
Dalam jangka panjang, sektor energi dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam pembenahan struktural ekonomi Indonesia. Ketergantungan terhadap impor energi, khususnya minyak mentah, menjadi salah satu tantangan yang perlu terus dikurangi melalui penguatan ketahanan energi nasional.
Untuk mendukung hal tersebut, ia menilai percepatan elektrifikasi dapat menjadi salah satu langkah strategis. Penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), kompor induksi, serta teknologi berbasis listrik lainnya dapat membantu menurunkan konsumsi bahan bakar berbasis minyak, mengurangi ketergantungan impor, dan memperkuat kemandirian energi nasional.
Ia juga mengapresiasi perkembangan Indonesia dalam penguatan ketahanan pangan dan pupuk. Menurutnya, transformasi Indonesia dari negara pengimpor pupuk menuju negara yang mampu mengekspor pupuk merupakan capaian penting dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.
“Dengan mengurangi impor dan meningkatkan ekspor, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi lebih sustainable,” ujarnya.
Selain energi, ia menilai sektor makanan, jasa, energi, dan konstruksi memiliki multiplier effect yang tinggi terhadap perekonomian serta mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Penguatan sektor-sektor tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya inovasi dan kewirausahaan sebagai fondasi menuju negara maju. Berkaca pada sejumlah negara dengan ekosistem ekonomi yang kuat, peningkatan jumlah wirausaha dinilai dapat mendorong penciptaan bisnis baru, inovasi, dan perluasan kesempatan kerja.
“Kalau kita ingin beranjak menjadi negara maju, maka kita harus menghasilkan lebih banyak pengusaha baru yang mampu menciptakan bisnis dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
Ia menyampaikan bahwa transformasi ekonomi jangka panjang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, maupun masyarakat. Penguatan ekonomi berbasis produktivitas, inovasi, hilirisasi, dan elektrifikasi perlu menjadi agenda bersama agar Indonesia dapat menciptakan pertumbuhan yang lebih stabil, mandiri, dan berkelanjutan.
.jpg)





