Meniti Mimpi dari Desa ke Dunia: Kisah Inspiratif Astin Nurdiana, Dosen ITB dan Peneliti Batuan
Oleh Mely Anggrini - Meteorologi, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id – Tumbuh di sebuah desa kecil di Kabupaten Kebumen, Dosen Program Studi Teknik Geologi ITB, Astin Nurdiana, S.T., M.Sc., Ph.D., menapaki perjalanan panjang dari kehidupan sederhana hingga meraih gelar doktor di Jepang. Tekad yang kuat, dukungan keluarga, dan bantuan beasiswa pemerintah menjadi pijakan penting yang menuntunnya hingga kembali ke tanah air sebagai dosen dan peneliti di bidang kebumian.
Selama sekitar delapan tahun di Jepang, ia mendalami riset mengenai interaksi antara batuan dan air terutama pada tekanan serta suhu tinggi, yang diaplikasikan pada pengembangan energi panas bumi dan teknologi penyimpanan karbon untuk mitigasi perubahan iklim. Kini, setelah kembali ke Indonesia, ia melanjutkan kiprahnya di ITB untuk mengajar sekaligus menumbuhkan semangat riset di kalangan mahasiswa.
Berikut ini enam momen penting yang menandai perjalanan inspiratif Astin Nurdiana.
1. Dari Desa Kecil, Tumbuh Besar dengan Mimpi

Astin lahir dan tumbuh di keluarga tukang kayu di Kebumen, Jawa Tengah. Ayahnya bekerja membuat mebel sederhana, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Dalam keterbatasan, kedua orang tuanya menanamkan nilai bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk memperbaiki hidup.
“Dulu saya sering dibilang, perempuan sekolah tinggi nanti akhirnya ke dapur juga, tapi ayah selalu mengingatkan bahwa sekolah itu penting supaya kita bisa punya banyak pilihan dalam hidup,” kenangnya.
Keyakinan sang ayah membuat Astin kecil berani bermimpi besar. Di tengah lingkungan yang masih memandang pendidikan perempuan sebelah mata, ia tumbuh dengan semangat belajar yang tinggi. Sejak dini, ia gemar membaca, berambisi, dan percaya bahwa ilmu dapat mengubah hidup seseorang.
2. Menemukan Minat Lewat Olimpiade Sains
Sejak duduk di bangku sekolah menengah, Astin dikenal sebagai siswi yang aktif dan senang mempelajari hal-hal baru. Salah satu momen yang berkesan baginya ketika ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang kebumian dan berhasil membawa pulang medali perak, sebuah kesempatan yang kelak menjadi titik awal kecintaannya pada geologi.
“Waktu itu saya sebenarnya belum terlalu paham apa itu kebumian, cuma tertarik karena materinya berbeda dari pelajaran sekolah pada umumnya. Dan kebetulan ingin cari pelarian dari remidi matematika dan fisika. Setelah ikut pembinaan, saya jadi tahu kalau bumi itu menarik sekali. Ada proses-proses yang bisa kita lihat, bisa kita amati, dan itu membuat saya jadi lebih ingin tahu. Dari situ saya mulai suka, bahkan setelah lomba selesai pun masih ingin belajar,” ujarnya.
Pengalaman itu menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih dalam terhadap bumi dan segala proses di dalamnya. Ia mulai menyadari bahwa geologi bukan sekadar pelajaran tentang batuan, melainkan ilmu yang bisa menjelaskan bagaimana bumi bekerja dan bagaimana manusia dapat memahaminya untuk menjaga keberlanjutan hidup.
3. Beasiswa Bidikmisi: Titik Balik Perjalanan
Usai menamatkan pendidikan menengah, Astin diterima di Prodi Teknik Geologi ITB melalui beasiswa Bidikmisi dari pemerintah. Bantuan tersebut menjadi penopang utama yang memungkinkan ia menempuh pendidikan tinggi tanpa kekhawatiran biaya. Bagi Astin, beasiswa ini bukan hanya soal keringanan finansial, tetapi juga tentang kepercayaan dan kesempatan untuk membuktikan diri.
“Bidikmisi benar-benar mengubah hidup saya. Dari situ saya bisa kuliah di ITB, sesuatu yang dulu rasanya jauh sekali dari jangkauan saya yang berasal dari desa. Jangankan untuk kuliah, untuk SMA pun saya dibantu dengan beasiswa,” tuturnya.
Selama kuliah, Astin dikenal sebagai mahasiswa yang tekun, aktif, dan senang berbagi ilmu. Ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif membantu pembinaan siswa-siswi yang mengikuti Olimpiade Kebumian di berbagai daerah Indonesia.
“Waktu itu saya sempat mengajar sampai ke Sumatra Utara. Rasanya senang sekali bisa berbagi pengalaman dan melihat adik-adik itu semangat belajar. Itu juga cara saya berterima kasih, karena dulu saya pun dibantu banyak orang,” katanya.
Bagi Astin, pengalaman mengajar tersebut bukan sekadar berbagi pengetahuan, tetapi juga bentuk rasa syukur. Ia merasa terpanggil untuk menularkan semangat belajar yang dulu menuntunnya dari ruang kelas di Kebumen hingga ke bangku kuliah ITB.
4. Melangkah ke Jepang dengan Beasiswa MEXT

Setelah menyelesaikan studi sarjana di ITB, Astin melanjutkan pendidikannya ke Jepang melalui beasiswa Monbukagakusho (MEXT) dari Pemerintah Jepang. Ia menempuh program integrasi magister dan doktoral di Tohoku University, sebuah kampus ternama di bidang ilmu kebumian.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa sampai ke Jepang. Waktu itu niatnya hanya ingin lanjut kuliah, dan ternyata Allah memberi jalan lewat beasiswa ini. Saya bersyukur sekali bisa belajar di tempat dengan fasilitas dan lingkungan riset yang luar biasa,” ujarnya.
Selama studi, ia mendalami penelitian tentang interaksi antara batuan dan air pada tekanan serta suhu tinggi yang penting untuk pengembangan energi panas bumi dan teknologi penyimpanan karbon. Bagi Astin, belajar di luar negeri bukan hanya tentang sains, tetapi juga tentang disiplin, menghargai waktu, dan menghormati proses. Pengalaman itu membuka wawasannya tentang dunia akademik global, sekaligus memperkuat tekadnya untuk berkontribusi bagi Indonesia.
5. Ketangguhan dan Empati di Tengah Perjalanan Studi

Menjalani studi doktoral di luar negeri membawa tantangan besar. Astin harus beradaptasi dengan lingkungan riset internasional, menghadapi tekanan akademik, dan melewati masa pandemi yang membuat penelitian tertunda dan aktivitas laboratorium terhambat.
“Masa Ph.D. itu salah satu masa paling berat dalam hidup saya. Saya sempat sakit karena stres psikosomatis, susah tidur, dan merasa kewalahan ketika pandemi datang dan semua kegiatan di lab dihentikan,” kenangnya.
Namun, pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap proses belajar. Ia menyadari bahwa perjalanan akademik tidak hanya tentang efisiensi dan pencapaian, tetapi juga tentang empati, memahami orang lain, dan menerima bahwa setiap proses membutuhkan waktu.
“Dulu saya terlalu fokus pada logika dan hasil, seperti robot. Tapi setelah berinteraksi dengan banyak orang, saya belajar untuk lebih berempati, lebih memahami perasaan orang lain,” ujarnya.
Bagi Astin, perjalanan akademik bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi juga tentang menjadi manusia yang sabar, peka, dan menghargai proses.
6. Pulang, Mengabdi, dan Menebar Manfaat

Setelah menyelesaikan studi dan sempat bekerja sebagai asisten profesor di Jepang, Astin memutuskan kembali ke Indonesia pada tahun 2025. Kepulangannya bukan hanya karena rindu keluarga, tetapi juga karena keinginannya untuk berbagi pengalaman dan mengembangkan riset di tanah air.
"Saya merasa sudah waktunya pulang. Saya ingin membawa semangat riset yang terstruktur dan efisien agar mahasiswa juga bisa merasakan bagaimana penelitian itu bisa menyenangkan dan bermakna,” ujarnya.
Kini, ia mengajar di Program Studi Teknik Geologi ITB, ikut terlibat di mata kuliah Geologi Fisik dan Petrologi. Selain mengajar, ia aktif melakukan penelitian di bidang geokimia batuan dan petrologi eksperimen, termasuk riset tentang produksi hidrogen dari batuan ultramafik di Indonesia. Penelitian tersebut mendapatkan pendanaan dari skema Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) EQUITY, bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin dan Universitas Pertamina.
Sebagai putri daerah, Astin juga terlibat dalam pengembangan Geopark Kebumen, yang baru ditetapkan sebagai anggota UNESCO Global Geopark. Ia ikut mendukung kerja sama ITB dan Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk memperkuat aspek edukasi geologi, konservasi, dan pelibatan masyarakat lokal.
Perjalanan Astin menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya sarana meraih pencapaian akademik, tetapi juga jalan untuk kembali dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Dari desa kecil di Kebumen hingga ruang riset di Jepang, ia membuktikan bahwa kesempatan, ketekunan, dan komitmen dapat membawa seseorang melangkah jauh tanpa kehilangan akar. Kini, sebagai pendidik dan peneliti di ITB, ia tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga semangat untuk membangun, mengembangkan riset, dan menumbuhkan motivasi bagi generasi berikutnya.
Reporter: Mely Anggrini (Meteorologi, 2022)






