Dorong Kemandirian Alat Kesehatan Nasional, Prof. Trio Adiono Raih Penghargaan HAIFEST 2025

Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021

Editor Anggun Nindita

Dok. STEI ITB

JAKARTA, itb.ac.id – Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Trio Adiono, S.T., M.T., Ph.D., meraih Penghargaan Karya Anak Bangsa Kategori Individu Berprestasi pada ajang Health Innovation Festival (HAIFEST) 2025 yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (8/12/2025). Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengembangkan desain chip prosesor dalam negeri yang telah diimplementasikan pada berbagai perangkat alat kesehatan vital.

Inovasi Chip Lokal untuk Alat Kesehatan
Chip merupakan komponen inti dalam perangkat elektromedis di era digital. Melalui inovasi ini, Prof. Trio bersama tim dosen dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB berhasil mengintegrasikan chip lokal pada berbagai perangkat alat kesehatan, antara lain alat antropometri, patient monitor, ventilator noninvasif, high-flow nasal cannula (HFNC), elektrokardiogram (EKG), hingga infusion pump.

Prof. Trio menjelaskan bahwa kemandirian dalam desain chip memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan nilai tambah produk nasional. “Dengan dirancangnya chip di dalam negeri, tingkat kandungan lokal alat kesehatan dapat meningkat secara signifikan,” ujarnya. Hal ini menjadi penting mengingat hingga saat ini sebagian besar alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada komponen impor.

Tantangan Ekosistem Semikonduktor di Indonesia
Meski memiliki potensi besar, pengembangan desain chip di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Prof. Trio menyoroti belum terbentuknya rantai pasok serta ekosistem industri semikonduktor yang matang di dalam negeri. “Tantangan utama perancangan chip di Indonesia adalah belum terbentuknya rantai pasok dan ekosistem industri semikonduktor yang kuat,” ungkapnya.

Kondisi tersebut mengharuskan banyak proses dilakukan secara mandiri, sehingga berdampak pada tingginya biaya produksi. Selain itu, kebutuhan pendanaan yang besar untuk proses fabrikasi, penggunaan perangkat lunak desain (electronic design automation/EDA tools) yang berbiaya tinggi, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat penguasaan teknologi semikonduktor nasional.

Sinergi Riset, Industri, dan Standar Keamanan
Keberhasilan pengembangan chip ini tidak terlepas dari kolaborasi antara akademisi ITB dan mitra industri, seperti PT Miki dan PT Xirka. Prof. Trio menegaskan bahwa sinergi dengan industri memegang peranan penting dalam menjembatani hasil riset di laboratorium menuju tahap produksi massal yang membutuhkan investasi besar serta skala ekonomi yang memadai.

Dari sisi keamanan, setiap chip yang dikembangkan harus melalui proses perancangan terstruktur dan memenuhi standar mutu ketat yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Seluruh perangkat wajib melewati tahapan pengujian kinerja fungsional, ketahanan (endurance), serta keselamatan listrik dan elektromagnetik sesuai dengan standar nasional dan internasional sebelum dinyatakan layak digunakan oleh pasien.

Harapan dan Langkah Menuju Ekosistem Nasional
Bagi Prof. Trio, penghargaan ini menjadi pijakan awal untuk langkah yang lebih besar. Ke depan, fokus utama adalah menghasilkan produk dengan keunggulan inovatif agar mampu bersaing secara kompetitif, baik di pasar nasional maupun global.

Ia juga mendorong dukungan regulasi dari pemerintah, antara lain melalui pemberian prioritas kepada industri dalam negeri serta penerapan mekanisme sandboxing guna mempercepat proses uji coba produk. “Kami berkomitmen membangun ekosistem nasional dengan mendidik talenta-talenta baru serta menjalin kolaborasi dengan rantai nilai global (global value chain) dalam industri semikonduktor,” pungkasnya.