INDDEX 2026 Ajak Publik Menelusuri Gagasan di Balik Karya Desain Produk ITB
Oleh Vito Egi Nandriansyah - Teknik Geofisika, 2021
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id — Mahasiswa Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Industrial Design Exhibition (INDDEX) 2026 pada 20–22 Mei 2026 di Gedung CC Timur dan Lapangan Cinta, ITB Kampus Ganesha. Mengusung tema “Interlocking Ideas”, pameran tahunan ini menjadi ruang apresiasi karya akademik sekaligus sarana edukasi publik untuk memahami proses berpikir di balik sebuah produk.
INDDEX merupakan pameran akademik tahunan mahasiswa Desain Produk ITB yang telah diselenggarakan sejak 2021. Ketua Pelaksana INDDEX 2026, Geraldin Krisdya Putri, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini menjadi bentuk keberlanjutan sekaligus tanggung jawab mahasiswa dalam menghadirkan ruang apresiasi bagi karya-karya yang lahir dari proses pembelajaran studio.
“INDDEX hadir untuk menjawab kebutuhan exposure bagi mahasiswa terhadap karya-karya mereka. Melalui pameran ini, mahasiswa dapat memperlihatkan proses, pemikiran, dan pengembangan desain yang selama ini mereka kerjakan di studio maupun perkuliahan,” ujar Geraldin.
.jpg)
Lebih dari sekadar pameran karya, INDDEX 2026 juga ingin membuka pemahaman masyarakat mengenai luasnya cakupan Desain Produk. Geraldin mengatakan, masih banyak masyarakat yang memahami desain sebatas tampilan visual atau menganggap Desain Produk hanya berkaitan dengan kemasan. Padahal, bidang ini mencakup berbagai aspek, mulai dari furnitur, otomotif, alat kesehatan, elektronik, peralatan rumah tangga, material, hingga pengembangan sistem dan pengalaman pengguna.
Tema “Interlocking Ideas” dipilih untuk menggambarkan bahwa sebuah karya desain tidak pernah lahir secara instan. Di balik satu produk, terdapat rangkaian ide, riset, eksplorasi, eksperimen, serta proses berpikir yang saling terhubung. Melalui tema ini, pengunjung diajak melihat desain bukan hanya sebagai objek akhir, melainkan sebagai perjalanan gagasan yang terus berkembang.
“Tema ini ingin menunjukkan bahwa desain produk bukan hanya soal hasil akhir atau estetika, tetapi juga tentang bagaimana seorang desainer memahami manusia, membaca konteks, merumuskan masalah, lalu mengembangkan solusi secara iteratif,” tutur Geraldin.
Narasi tersebut diterjemahkan ke dalam empat klaster utama, yaitu “Terhubung dengan Sesama”, “Terikat dengan Alam”, “Terkait dengan Rasa”, dan “Terpaut dengan Jejak”. Keempat klaster ini menampilkan bagaimana desain dapat lahir dari kebutuhan masyarakat, belajar dari alam dan keberlanjutan material, membangun hubungan emosional antara manusia dan produk, serta menerjemahkan budaya dan pengetahuan lokal ke dalam konteks masa kini.
.jpg)
Salah satu kekuatan INDDEX 2026 terletak pada penekanan terhadap proses desain. Pengunjung tidak hanya melihat produk final, tetapi juga dapat mengikuti perjalanan sebuah ide melalui poster karya, panel LED, sketsa, narasi, hingga QR code yang terhubung dengan presentasi atau proses tugas mahasiswa. Dengan cara tersebut, publik dapat memahami bagaimana sebuah gagasan berkembang dari tahap observasi, perumusan masalah, ideasi, pembuatan prototipe, hingga menjadi produk akhir.
Geraldin menjelaskan, pendekatan ini menjadi pembeda INDDEX 2026 dari penyelenggaraan sebelumnya. Tahun ini, pameran tidak hanya berfokus pada hasil karya, tetapi juga memberikan ruang lebih besar bagi proses berpikir, eksplorasi, dan pengembangan desain mahasiswa.
Selain pameran utama, INDDEX 2026 juga menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, seperti INDDEXTalks, design forum, student talks, workshop, book binding workshop, photography workshop, furniture competition presentation, hingga Pasar Senggol.
Rangkaian INDDEXTalks tahun ini turut membahas dunia karier dan keprofesian desain produk, termasuk isu keberlanjutan dalam industri kreatif dengan menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang, seperti Robbi Zidna dari Mycotech dan Slamet Riyadi dari PALA Nusantara.
Bagi mahasiswa, INDDEX menjadi ruang apresiasi sekaligus evaluasi. Karya yang sebelumnya hanya hadir di ruang studio kini dapat dilihat, dibaca, dan direspons langsung oleh publik. Mahasiswa juga belajar mempresentasikan karya secara profesional, menjelaskan proses berpikir desain, serta memahami bahwa sebuah produk dinilai bukan hanya dari bentuk akhirnya, tetapi juga dari riset, relevansi, dan solusi yang ditawarkan.
“Melalui INDDEX, kami berharap masyarakat bisa melihat bahwa di balik setiap produk ada proses riset, pertimbangan, dan pemikiran yang mendalam. Desain produk bukan hanya soal bentuk, tetapi juga soal fungsi, pengalaman, dan dampaknya bagi kehidupan,” ujar Geraldin.
.jpg)
Geraldin menambahkan, setiap agenda dalam INDDEX 2026 dirancang untuk saling melengkapi. Pameran menjadi pusat utama karena menampilkan karya dan proses desain mahasiswa secara utuh. Sementara itu, forum, student talks, workshop, dan Pasar Senggol menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif, santai, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui INDDEX 2026, mahasiswa Desain Produk ITB tidak hanya menampilkan capaian akademik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana desain dapat menjadi medium untuk membaca persoalan, membangun gagasan, dan merancang solusi. Pameran ini sekaligus menjadi ajakan bagi publik untuk melihat produk bukan sekadar benda, melainkan hasil dari proses berpikir yang terhubung dengan manusia, alam, rasa, budaya, dan kebutuhan zaman.
.jpg)

.jpg)




